Featured Slider

Tentang Hemangioma dan Keputusan untuk Operasi

 


Beberapa saat yang lalu, aku sempat update instastory sedang di ruang perawatan. Lalu, banyak dari teman-teman yang bertanya siapa yang sakit & sakit apa. Nah, oleh karena itu kali ini aku mau sharing tentang pengalaman aku dan suami menangani Hemangioma yang ternyata ada di kaki kanan anak kami, Guan. Semoga informasi ini bisa bermanfaat ya Moms :)

Apa sih Hemangioma itu? 


Yang terjadi sama Guan adalah benjolan tepat di mata kaki kanan. Awalnya sih aku lihat seperti bekas kepentok & ketahuan pas usia 1 bulan. Tepat pas udah kontrol ke DSA, lalu aku ingat kata Mama untuk cek anak aku secara detail (aku baru bisa karena aku kena baby blues jadi kurang aware dengan anakku saat itu hiks).


Kebetulan waktu itu abis kontrol 1 bulan, nah pas sampai rumah aku baru ngeuh ada seperti abis kepentok gitu di kaki kanan Guan. Panik dong karena selama aku gendong dia juga gak pernah jatuh dan yang pegang paling cuma mamah, bapak, sama suamiku aja dan itu bisa aku lihat juga. 

Akhirnya aku kirim poto ke dokternya. Bener aja, dokternya make sure "Bu gak kepentok?" aku bilang engga Dok. Terus dokternya nyaranin untuk ke RS aja karena dia gak bisa pastikan kalau gak pegang. Berhubung waktu itu aku di Subang jadi dihold dulu tuh ke dokter anaknya yang di Jakarta.

Singkat cerita tibalah akhirnya waktu kontrol dengan DSA Guan yang di Jakarta nih. Lalu dicek sama dokternya dan beliau curiga kalau ini adalah hemangioma dan kita dirujuk ke dokter radiologi untuk dirontgen. Setelah dirontgen hasilnya adalah benar HEMANGIOMA dan dirujuk ke dokter bedah di rumah sakit yang sama. 

Akhirnya kita coba untuk ke dokter bedah untuk diskusi terkait benjolan tersebut. Dokter tanya apakah ini membesar atau tidak, nah kalau kita observasi memang ini benjolan membesar dan saran dari dokter adalah untuk segera diangkat agar tidak menganggu pas Guan belajar jalan nanti. 

Aku beneran kepikiran engga bohong, pasalnya kasian ngebayangin anak kecil harus dioperasi ya kan? Lalu aku mengajak suamiku untuk cari alternatif lain. Kita coba konsultasi ke dokter anak di rumah sakit Bunda. Hasilnya tetap sama saran dari dokter agar benjolan ini segera diangkat. Tapi darisana aku sedikit tenang karena katanya operasinya kecil dan bisa langsung pulang.

Tapi sumpah Moms aku beneran kepikiran dan takut juga sehingga dari Desember kita bener tunda sampai bulan Maret. Pas akhirnya aku mencoba untuk tenang ketika akhirnya anakku dioperasi. Untuk waktu operasinya sendiri menghabiskan waktu sekitar 1 jam dan habis itu kita langsung masuk ke ruang perawatan. 

Dan kalian tahu setelah operasi pengangkatan Guan jadi makin aktif banget. Aku jadi curiga kalau selama ini bisa jadi dia kesakitan dengan adanya benjolan tersebut. Bayangin aja jam 10 dioperasi dan sorenya dia udah gerak-gerak pengen angkat kaki. 



Bicara soal biaya memang cukup mahal, tapi mungkin ini juga tergantung dari rumah sakit dimana kita akan operasi. Kalau kemarin Guan dioperasi di RS Mitra Kelapa Gading oleh Dr. Yefta Moenajat dan untuk total biaya kalau sekitar 38 juta. Beruntung banget biayanya bisa dicover asuransi kantor suami. 


Untuk perawatan luka bekas operasi kita bener-bener engga dikasih obat apapun untuk dilukanya. Tapi memang untuk lukanya kita jaga untuk tetap kering dan ditutup oleh kain kasa dan elastumol. Recoverynya memang cukup lama bisa sampai 3 bulan.

Nah itulah pengalaman aku ketika menghadapi Hemangioma pada anak. Jadi aku sarankan kalau memang ada sesuatu yang aneh atau benjolan yang muncul di tubuh anak kita lebih baik kita langsung periksa ke dokter ya Moms. 














#3 Tidak Mudah untuk Bilang "Aku Gak Apa-Apa" Tapi "Gak Apa-Apa"


TARIK NAFAS!!!! Lalu, keluarkan ... TARIK NAFAS!!!! Dan keluarkan. Selanjutnya, terimalah rasa yang sedang kita alami saat ini, detik ini, ketika kalian membaca tulisan ini. Jangan ditolak! Terima saja dengan kerendahan hati yang paling tulus untuk menerima ya. Lalu, TARIK NAFAS kembali dan terima lagi semua rasa yang ada. 

Entah kenapa, aku tidak sepakat dengan orang-orang yang mengkampanyekan slogan, "Kamu itu harus kuat! Kamu itu harus bahagia! Kamu itu harus sukses! Kamu itu harus jagoan!" dan keharusan-keharusan lainnya yang sebenarnya malah menjadi beban kan? Ngerasa engga sih kalau kita dituntut sama lingkungan bahkan mungkin oleh orang terdekat kita untuk menjadi SUPERMAN dalam hidup ini? 

Oke, aku paham mungkin bagi sebagian orang kalimat-kalimat tersebut digunakan untuk menjadi "positif vibes" ketika kehidupan sedang merasa tidak "asyik". Tapi, semakin kesini aku sadar bahwa ternyata hal yang tak kalah penting adalah "menerima" hal tersebut terlebih dahulu.


Kalau kamu mau nangis, boleh kok! Kamu berhak buat sedih karena kamu bukan robot. Jangan karena kata orang lain kalau yang nangis itu lemah terus kamu malah depend terhadap kesedihan tersebut yang pada akhirnya membuat kamu memiliki banyak beban karena banyak uneg-uneg yang harus ditahan. Ingat, kamu bukan robot yang tidak punya perasaan dan lurus-lurus aja ya. 
Mau teriak? boleh kok! Siapa yang ngelarang? Coba minta izin untuk cuti lalu pergi ke suatu tempat dimana kamu bisa teriak sepuasnya. Ingat ya, marah boleh tapi aku tetap ingatkan bahwa kemarahan kita jangan pernah menyakiti siapapun. Karena tujuan disininya 
Rasa kecewa itu emang enggak enak. Tapi bagaimana pun itu adalah salah satu rasa yang memang sudah ada di dunia ini, apa boleh dikata kan? Jangan menolak kekecewaan itu, terima saja resapi dan selanjutnya belajar untuk tidak pernah berharap pada siapa pun kecuali pada Tuhan. Setuju? 
Katanya jangan mengeluh! Cupu! Lah, lalu kita harus selalu ceria setiap saat? Lingkungan kadang kejam juga emang, menjudge bahwa yang sering mengeluh memiliki mental cupu katanya, padahal kita tidak pernah tahu juga kan seberapa banyak kegagalan / rasa sakit yang diterima hingga pada akhirnya mengeluh. 
Ingat, jangan sampai kita terlalu rajin memberi makan ekspektasi lingkungan terhadap kita lalu lupa untuk memberi makan ketenangan diri kita sendiri. Mulai saat ini, belajar lah untuk tidak pernah menggantungkan hidup kita kepada orang lain. 

Tidak mudah untuk bilang, "Aku gak apa-apa," tapi serius gak apa-apa! 


#2 Agar Jadi WorkingMoms yang Tetap Waras

Dokumentasi Pribadi

Suatu hari aku melihat unggahan instastory salah satu teman yang sudah melahirkan sejak 3 bulan yang lalu. Isinya mengatakan bahwa dia RESIGN dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Sontak aku kaget, sebab dia sama sekali tidak menujukkan tanda-tanda akan resign sebelumnya. Lalu, karena penasaran aku tanya, alasannya yaitu, "Aku gila, kerja ampir 24 jam, aku mending resign biar tetap waras!" begitu katanya. 

Jauh ke belakang, salah satu mentorku selama bekerja di perusahaan memutuskan resign. Tidak ada pemikiran sama sekali bahwa dia akan resign karena dari segi jarak rumah ke kantor sangat dekat, segi jabatan sudah tinggi, tentunya relate dengan penghasilan, tapi akhirnya dia memutuskan untuk resign. Alasannya? Selain karena memang ingin hidup lebih "tenang" pertimbangan kehamilan dimana nantinya dia ingin fokus merawat anaknya. 

Moms, apakah keputusan tersebut salah? TIDAK! Masing-masing memiliki pilihan dan tentunya sudah paham konsekuensi yang akan diterima. Senior saya berkata, "Paling yang bakal gue berusaha gak terbiasa itu punya duit sendiri, nanti gue bakal tergantung sama laki gue," katanya begitu. 

Aku yakin setiap Moms sudah memikirkan keputusan apakah akan tetap bekerja atau resign setelah cuti melahirkan dengan sangat baik. Pasti Moms juga sudah banyak diskusi dengan orangtua, teman, sahabat bahkan atasan di kantor. Tapi, balik lagi yang paling tahu dan paham apa yang dibutuhkan adalah kita sendiri Moms. 

Lalu, apakah menjadi #Workingmoms adalah beban? Awalnya, bisa jadi iya, karena Moms harus terbiasa dengan rutinitas yang tidak biasa. Tapi, lambat laun Moms akan paham bahwa lelah yang dirasakan ini adalah usaha agar masa depan anak kita terjamin kelak. 

Nah, aku merefleksikan hal ini dengan kondisiku sekarang. Aku tinggal di Depok dan bekerja di Tangerang. Jauh kan? JELAS! Setiap pagi aku mengantarkan anakku terlebih dahulu ke rumah mertua di Pasar Rebo lalu naik bis ke Tangerang, itu sekitar jam 6 pagi. 

Pulangnya aku sampai di pool bis sekitar jam 7 sampai jam setengah 8, aku menjemput anakku terlebih dahulu dan kira-kira sampai di rumah jam 9 malam. Hal tersebut berulang kali setiap hari. Berbeda ketika ada Mamaku datang aku bisa sedikit tenang ketika berangkat kerja karena bisa berangkat jam 06.30 lalu pulangnya bisa langsung ke rumah dan sampai sekitar jam setengah 8. 

LELAH? Iya, tapi ketika pulang dan melihat wajah anakku, rasanya capek itu hilang. Tapi, lihat wajah bapaknya capek lagi hahah becanda ya Moms. Sumpah, ajaibnya ketika melihat anak kita tersenyum lebar rasanya hilang tuh lelah bekerja seharian. 

STRESS engga sih? Iya, ada masanya aku stress karena bingung mau ngerjain apa dulu. Aku nangis sendirian di kamar mandi. Bahkan pernah aku nangis bercucuran air mata sambil cuci piring kotor. Tapi, perlahan aku mencoba mulai menerima rutinitas ini. Apalagi ketika melihat wajah anakku, sebuah semangat selalu muncul setiap harinya, "Pokoknya gue harus kerja keras buat anak gue!". 

Nah, Moms aku punya tips agar jadi #workingmoms yang tetap waras! Yuk check it out!

CAPEK BUND? TARIK NAFAS & ISTIRAHAT YUK!


Menurutku sebenarnya #workingmoms itu masih bisa "waras" selagi lingkungan terdekat mendukung mereka. Karena tak jarang, justru yang membuat #workingmoms got stress itu bukan rutinitas dia sebagai mami & pekerjaannya, tapi karena lingkungan terdekat dia yang tidak bisa memperlakukan dia dengan baik. 

Lingkungan menuntut dia untuk bisa mencuci baju setelah lelah bekerja, lalu dituntut untuk memasak agar suami bisa makan, dan segala macam tuntutan-tuntutan lainnya yang membuat #workingmoms jadi stress sendiri. See, ada hubungannya dengan anak? Justru, anak menjadi penyemangat bagiku loh. Serius! 

Jadi, kalau aku got stress dengan lingkungan terdekatku yang kadang ngeselin banget aku mencoba untuk tarik nafas & istirahat. Istirahat disini aku habiskan dengan main bersama anakku, aku tidak memikirkan cucian kotor, piring berantakan, setrika menggunung, memasak buat suami dan lain-lain. Aku hanya fokus memberikan waktu untuk anakku, sesekali aku memejamkan mata namun tetap berada disamping anakku. Atau bahkan aku memutuskan tidur bersama anakku. 

JANGAN SUNGKAN MINTA TOLONG


Moms, aku pernah merasa sok kuat! Pontang-panting sendirian ngerjain dari A sampai Z, namun pada akhirnya aku menyerah juga. Pernah juga saking capeknya habis kerja & harus langsung beberes rumah aku nangis di dapur. 

Capek Moms? IYA BANGET! Makanya, aku memutuskan untuk bicara pada suamiku, bahwa aku belum bisa kuat untuk mengerjakan semuanya sendiri. Aku jelaskan juga bahwa kita sama-sama bekerja, cari uang, jadi kalau dia pusing & punya beban terhadap pekerjaan, aku pun sama. Sehingga, urusan rumah harus kita kerjakan bersama. 

Perlahan dia mulai ngerti meski aku harus teriak-teriak dulu baru dia bisa gerak. Katanya, dia dulu engga pernah pegang cucian kotor dll, ya kata ku sekarang kamu sudah menikah & wajib bantu istri kamu. Memang agak sulit sih Moms, tapi harusnya suami kita paham juga!

USAHAKAN MINTA  WAKTU "ME TIME"

Meskipun agak sulit, tapi ini wajib kamu minta ya Moms. Kamu berhak menikmati hal yang kamu sukai. Kalau kamu suka menulis, kamu minta waktu beberapa jam ketika di rumah untuk update tulisan di blog kamu. Kalau kamu suka masak, ya masak sekalian buat makan keluarga. Nah, terkadang aku menghabiskan waktu "me time" nya dengan main sama anakku, terus kita tidur bareng deh. Hahaha. 

Nah sekarang itu aku lagi coba untuk buka bisnis baju anak moms, jadi kayak urus-urus stok, packing pesanan jadi hiburan juga buat aku. Tapi, memang sih "me time" nya aku biasanya nulis di blog hehe.


JANGAN LUPA TERUS BERSYUKUR YA!

Terakhir, ini yang engga kalah penting ya Moms. Karena tentunya tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti yang aku dapatkan. Bagaimana pun aku harus tetap bersyukur mengenai apa yang sedang aku perjuangkan. Kini didalam otakku, aku berpikir untuk bekerja keras agar nanti anakku kerja engga keras-keras amat hehe. Pokoknya dia harus bahagia!



Mungkin memang klise ya Moms. Tapi, memang tidak mudah untuk menjadi #workingmoms! Disamping hal-hal yang bisa bikin capek secara fisik, pasti ada juga yang membuat kita capek secara psikis. Tapi percayalah apa yang kita perjuangkan hari ini adalah untuk mempersiapkan masa depan anak kita tercinta. 

Jangan pusing karena pertanyaan, "Gak kasian anaknya?" . Anak kita pasti paham kenapa kita masih harus tetap bekerja. Terakhir, peluk sayang untuk Moms semua. Kalian luar biasa!

Feb, 2021




#1 Jangan "Gagal" Mendidik Anak Laki-Laki

Dokumentasi Pribadi


Sebuah tulisan sederhana mengawali tahun 2021. Sebelumnya mohon digaris bawahi bahwa aku bukanlah parenting expert ya. Jadi, tulisan ini adalah buah dari hasil ngelamun dan juga baca-baca artikel. Selamat membaca ya Moms :)

Katanya anak laki-laki itu harus diajarkan untuk tegas, mandiri, punya jiwa kepemimpinan, dan lain-lain, pokoknya yang mengarah bahwa mereka harus punya super power nantinya, bener gak? Iya memang benar. Katanya juga biar nanti pas udah gede dia bisa jadi pria yang bertanggung jawab, bisa jadi pemimpin, dan sebagainya. 

Hal tersebut sama sekali tidak salah loh Moms. Hanya saja ternyata ada beberapa hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang apa saja sih yang diperlukan anak laki-laki untuk hidupnya kelak. 

Moms, suatu saat nanti anak laki-laki kita akan menikah dengan seorang perempuan. Mungkin, sebagian dari Moms bilang, duh jangan dulu dipikirin masih lama anakku baru 2 tahun, misalnya. Tapi tahu gak Moms hal ini harus kita tanamkan kepada anak laki-laki kita sejak kecil. Bukan untuk membuat mereka ahli dalam hal tersebut, tapi untuk menjadikan mereka laki-laki yang menghargai istrinya kelak. 

Apa sih hal-hal yang harus kita ajarkan kepada anak laki-laki kita? Menurutku, anak laki-laki harus diajarkan bagaimana cara mencuci piring agar bersih, bagaimana mengepel lantai agar bersih, bagaimana menyetrika baju, bagaimana mencuci baju, bagaimana cara membuat telur ceplok, dan pekerjaan-pekerjaan perempuan lainnya. 

Loh, kenapa Moms anak laki-laki harus diajarkan hal seperti itu? Itu kan pekerjaan perempuan, istrinya yang harus melakukan itu nanti. Tidak Moms! Menurutku anak laki-laki juga setidaknya harus tahu. Kenapa harus tahu? Agar dia nantinya bisa menghargai apa yang dilakukan oleh istrinya. Moms setuju? Aku harap iya.


Mari kita refleksi sedikit. Ada orangtua yang sangat memanjakan anak laki-lakinya, entah anak pertama, kedua, dan ketiga. Intinya ada perlakuan "memanjakan" seorang anak. Anaknya tidak pernah diajari bagaimana cara cuci piring karena punya mindset itu pekerjaan perempuan. Anaknya tidak diajarkan bagaimana nyuci baju, sapu lantai, ambil jemuran dan sebagainya. Malah kadang orangtuanya sendiri yang tidak memberikan kesempatan anak laki-lakinya untuk memegang cucian kotor. 

Banyak alasan yang membuat orangtua akhirnya tidak memberikan kesempatan pada anak laki-lakinya untuk tahu seperti apa piring kotor itu. Hingga ketika anak laki-lakinya tumbuh besar dan menikah dengan seorang perempuan, dia sama sekali tidak bisa membantu sang istri dalam urusan dapur. Dia cenderung acuh karena sejak kecil sudah tersetting bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah pekerjaan perempuan. 

Jadi Moms, menurutku sangat penting mengajarkan anak laki-laki kita pekerjaan-pekerjaan diatas. Agar ketika dia menikah nanti dia tidak hanya menjadi seorang laki-laki dengan figur kepemimpinan yang baik dalam keluarganya tetapi juga mampu menghargai pekerjaan-pekerjaan rumah istrinya. 

Hal sederhana ketika istrinya melahirkan, tentu belum bisa langsung mencuci baju, mengepel rumah, dan lain-lain sehingga dalam hal seperti itu dibutuhkan bantuan dari sang suami untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Anak laki-laki yang tahu bagaimana cara mencuci piring tentu tidak akan merasa masalah ketika harus mencuci piring bekas makanannya. 

Hal seperti itu akan menjadi bumbu dalam pernikahan mereka kelak. Jangan sampai kita menyiapkan anak laki-laki kita hanya untuk menjadi "Raja" yang kejam yang tidak tahu cara menghargai "Ratu"nya. 

Ingat ya Moms, perempuan yang nanti menjadi istri dari anak laki-laki kita merupakan anak perempuan yang dirawat dan dibesarkan dengan penuh cinta oleh kedua orangtuanya. Oleh kedua orangtuanya, anak perempuan tersebut adalah "Ratu" yang dengan segenap jiwa dan raga diperjuangkan agar selalu mendapatkan yang terbaik. Masa setelah menikah dengan anak laki-laki kita malah jadi babu. Jahat amat!

Bukan hal memalukan mengajarkan anak kita cara mencuci baju. Toh, bajunya dia juga yang akan dia pakai ketika bekerja. Tidak ada salahnya juga mengajarkan anak laki-laki kita untuk mencuci piring, toh piring itu yang akan dipakai bersama ketika malam dengan anak istrinya. 

Jangan sampai suatu saat ketika anak laki-laki menikah istrinya merasa terpuruk sendirian dengan pekerjaan yang bejibun sementara anak laki-laki kita malah ongkang-ongkang kaki sambil nonton youtube. 

Moms, semangat ya! Jangan sampai kita "gagal" mendidik anak laki-laki kita. 

Lalu, Kenapa Kalau Aku Lahiran Sesar?

Dokumentasi Pribadi

Masih banyak yang selalu membandingkan dan menjurus pada sebuah pernyataan bahwa Mama yang melahirkan sesar itu belum menjadi perempuan yang seutuhnya. Halow? Coba lihat wajah aku dan kalian semua harus minta maaf. Kenapa harus minta maaf? Karena pernyataan itu sudah melukai ribuan bahkan jutaan Mama-Mama keren di dunia ini yang sudah berjuang melahirkan anaknya dengan cara operasi sesar. 

Lalu, kenapa kalau aku lahiran sesar? Apa kontribusi kalian dalam kehidupanku ketika menganggap bahwa aku gagal menjadi perempuan seutuhnya karena melahirkan sesar? Jelas tidak ada kan? Lalu, kenapa sibuk memikirkan kehidupanku dan Mama lainnya yang memutuskan untuk melahirkan secara sesar? 

Sering kali aku mendengar cerita bahwa Mama yang baru melahirkan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, bahkan dari keluarga sendiri ketika mereka melahirkan sesar. Jelas, menurutku ini adalah sebuah perilaku yang salah. Hal tersebut tentu akan melukai hati Mama yang baru saja berjuang untuk melahirkan sang anak. 

Untuk kalian yang masih menganggap bahwa Mama yang melahirkan sesar belum menjadi perempuan seutuhnya, kalian tidak pernah tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, lalu kalian memberikan asumsi seolah-olah menjadi yang paling tahu, setelah itu judge kami karena kalian berhasil melahirkan secara normal sedangkan kami tidak.

Mari kita sama-sama introspeksi, siapa sih yang tidak ingin melahirkan secara normal? Jelas, lahiran normal jauh lebih murah, kan? Ya betul! Itu pula yang menjadi alasan kenapa aku ingin melahirkan secara normal, tapi ada satu atau dua kondisi yang menyebabkan seorang Mama harus melahirkan secara sesar, dan aku yakin keputusan tersebut sudah berdasarkan hasil pikiran yang matang, benar tidak?

Beberapa dari kita boleh berbangga karena berhasil melahirkan secara normal, cukup itu saja, jangan ditambahkan dengan merendahkan Mama yang lain yang melahirkan secara sesar. Sungguh, bagiku tidak pernah ada yang salah atas keputusan akan hal tersebut. Yang salah adalah mereka yang menggunakan mulutnya untuk menjelek-jelekkan, merendahkan dengan jahatnya bahwa Mama yang melahirkan dengan cara sesar belum menjadi perempuan seutuhnya. 

Perkara soal resiko, baik itu normal maupun sesar sama-sama memiliki resiko. Kalian pikir perut disayat berkali-kali itu tidak menimbulkan sakit? Tidak! Iya ketika obat bius masih ada, tapi ketika obat bius perlahan mulai hilang, rasa sakit itu membuat Mama terpaksa membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat terlebih dahulu. 

Sementara, Mama harus segera belajar bergerak ke kanan kiri karena bayi harus segera disusui. Keesokan harinya ketika selang keteter udah dicabut, Mama harus belajar berdiri agar bisa BAK di kamar mandi. Rasanya gimana? Ngilu! Sumpah ngilu dan enggak bohong. 

Jadi, buat kalian yang di dalam pikirannya masih terpatri bahwa Mama yang lahiran normal sempurna sedangkan sesar tidak sempurna, sungguh kalian jahat! Kenapa jahat? Karena sangat tidak berhak bagi kalian untuk membandingkan sebuah proses yang sama-sama berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan. 

Lalu, masih ada juga Mama yang berhasil melahirkan normal, yaa kalian boleh berbangga, tapi cukup berbangga saja jangan sampai ada kalimat tambahan yang menjurus bahwa kami yang melahirkan secara sesar belum menjadi perempuan yang seutuhnya. 

Marilah untuk saling menghargai, melihat dari berbagai sisi dan juga melihat dengan pikiran terbuka sebuah konsep tentang cara melahirkan itu sendiri. Dengan cara apapun seorang anak lahir ke dunia tentu hal tersebut adalah sebuah bahagia bagi kedua orangtuanya. Perkara soal mempertaruhkan jiwa dan raga memang itu sudah menjadi bagian seorang Mama, dengan cara apa pun Mama melahirkan buah hati ke dunianya, itu adalah cara terbaik yang sudah menjadi ketetapan-Nya. 

Via Mardiana/29 November 2020

Aku Menikah Bukan dengan Orang Kaya

"Capek rasanya! Kalau lihat orang lain, engga perlu tuh capek-capek kerja. Tinggal nunggu suaminya gajian dapet deh uang buat beli tas mahal, baju branded, makanan kesukaan, dll. Ah, seandainya gue nikah sama orang kaya!"

"Lelah rasanya, orang lain dibantu sama istri buat menopang perekonomian keluarga. Ini, gue sendiri yang harus pontang panting. Memang ini tanggung jawab gue sih sebagai suami, tapi kan kalau istri gue juga kerja gue enggak akan secapek ini. Seandainya gue nikah sama orang kaya!"

Pertanyaannya! Apakah jika kamu menikah dengan orang kaya, kamu mau apa? Mau beli jet pribadi? Mau beli cincin berlian? Ups, engga nyambung ya. Eh tapi ini seriusan, kalau kamu menikah dengan orang kaya, kamu mau apa? 

Aku menikah bukan dengan orang kaya! Tampaknya kalimat ini bisa jadi seperti sedang merendahkan pasangan kita atau bisa juga seperti ungkapan kecewa karena sudah menikah dengan orang biasa saja, bukan dengan orang kaya. Benar tidak? Apa aku salah? Oke, lanjutkan membaca!

Kamu melihat temanmu di usia 26 tahun sudah punya rumah sendiri, rumahnya 2 tingkat, ada garasi yang luas dan cukup untuk 2 mobil. Lalu, di dalam rumahnya ada ruang tamu dan ruang keluarga yang berbeda. Ada lahan luas dibelakang rumah yang bisa dijadikan tempat untuk bersantai di hari libur. 

Lalu, kamu bandingkan dengan kehidupanmu sekarang. Rumah masih ngontrak, ya ada mobil, tapi masih mobil jadul, masih untung bisa jalan, sehingga kamu gak harus kepanasan atau kehujanan. Kalau ada tamu blas masuk ke ruang keluarga, karena engga punya ruang tamu, dari sana bisa keliatan lokasi kamar mandi kamu, dapur kamu, dan kalau lupa nutup pintu, tamu bisa lihat isi kamar kamu. Jangankan lahan luas di belakang, buat jemur baju aja susah. 

Kalau kamu sadar, barangkali kamu memang sering membandingkan kehidupanmu dengan orang lain. Ya, seperti dengan Nia Ramadani atau Momo Geisha yang setelah menikah dengan pengusaha kaya, kekayaannya berlimpah ruah, sepertinya mau apa saja bisa, engga perlu pusing soal uang karena udah ada banyak. Bener gak? Ya, enggak apa-apa kok, sesekali membandingkan kehidupan kita untuk dijadikan referensi tidak masalah. 

Toh yang jadi masalah adalah karena keterusan ngebandingin jadi lupa tuh sama tugas buat growing up diri sendiri. Itu kan yang bahaya? Ya kan? Nah, sekarang banyak sekali pasangan muda yang menyerah di awal pernikahan karena ternyata pasangan yang diharapkan bisa memberikan apapun tidak bisa diharapkan. Ya, kalau satu doang yang capek susah. Mau bahagia bersama? Ya berjuang berdua dong, jangan cuma istrinya aja atau suaminya aja. 

Ada banyak hal sederhana yang selalu lupa kita syukuri. Kadang, kita terlalu melihat ke atas hingga sering kali tersandung dan akhirnya terjatuh. Lalu, setelah terjatuh bukan introspeksi diri tapi menyalahkan keadaan. Kadang kita angkuh tidak mau disebut punya mental pengecut, iya kan? Kalau lagi pusing sama kerjaan, nyalahin pasangan yang enggak kerja, nyalahin pasangan yang katanya engga ngertiin kalau lagi pusing. Bener gak nih? Jawab dulu!

Jangan munafik deh, kita semua butuh uang kok buat hidup. Kita semua pengen kok jadi orang kaya, ya kan? ya kalau mau usaha dong! Ingat ya, nikah bukan solusi jitu untuk menjadi tiba-tiba kaya ya. Iya sih, ini memang terjadi pada beberapa orang di dunia ini. Tapi, poin pentingnya adalah "USAHA"! Kalau enggak usaha ya mana bisa. 

Sekarang kalau konteksnya sudah menikah gimana? Aku tahu pasti sebelum menikah kalian sudah tahu lah bagaimana keuangan pasangan kalian. Ingat ya, keuangan pasangan kalian, bukan keuangan keluarganya. Kecuali kalian udah tahu tuh kekayaan keluarganya akan ngucur 100% ke pasangan kalian. Haha. 

Aku menikah bukan dengan orang kaya! Ya, tidak apa-apa toh jalan masih panjang dan kalian masih bisa banyak melakukan hal untuk menciptakan cuan. Setuju? Ya kalau kerjanya cuma ngandelin salah satu susah broh/sist! Kalian harus kerja sama. Jangan si istri doang yang capek, atau si suami doang yang capek. Hal kayak gini kalau engga di manage dengan baik ya, dijamin deh bakal bikin masing-masing sudah berkorban banyak tapi engga dihargai sama pasangannya yang akhirnya menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Jangan sampai ya!

Yah, kalau kalian sekarang menikah bukan dengan orang kaya, ya enggak apa-apa, kan sudah menikah? Memang bisa tiba-tiba engga jadi? Kan engga mungkin. Tapi, kalau kalian punya pasangan yang mau diajak growing up bersama, itu yang bakal jadi awal mula "si kaya" itu ada. Kalau kamu nikah sama orang kaya, tapi kamu engga bisa mengelola keuangan, ya ambyar!

Kalau kamu sekarang menikah bukan dengan orang kaya, tenang, kalian bisa growing up bareng. Memulai dari nol bersama-sama, membuat bisnis yang membuat kehidupan keluarga kecil kalian lebih "bersinar". Jangan patah sebelum berjuang. Banyak kok pasangan-pasangan yang dulunya have nothing jadi have everything, itu semua dijalani dengan usaha yang keras dan juga cerdas. Dua-duanya mau fight buat mewujudkan cita-cita bersama. 

Tulisan ini aku dedikasikan untuk pasangan-pasangan muda yang sedang berjuang untuk sebuah kebebasan financial. Guys, dont worry setiap orang memiliki kesempatan yang sama tinggal kita lebih keras dalam berusaha. Habis baca ini jangan lupa cium istri atau suami kamu ya, lalu bilang, "Sayang, ayo kita berusaha, biar nanti calon menantu kita bisa bilang AKU MENIKAH DENGAN ORANG KAYA" hehehe. 

Salam,

Via Mardiana/06112020


Ini Caraku Bangkit dari Baby Blues

Dokumentasi Pribadi

Ketika menuju akhir masa kehamilan aku memang titip pesan berkali-kali kepada suamiku untuk tetap temani aku dalam berbagai kondisi setelah melahirkan. Hal ini aku ulang berkali-kali untuk memastikan bahwa dia paham kenapa aku sengotot itu untuk mengingatkannya akan hal itu. 

Banyak cerita yang aku baca mengenai pengalaman seorang perempuan setelah mereka melahirkan. Yang paling banyak mereka mengalami baby blues dan kupastikan ceritanya sangat menyedihkan. Kenapa aku ngotot baca? Karena aku ingin belajar bagaimana cara mereka bangkit dari keterpurukan sehabis melahirkan. 

Tidak ada jaminan seorang perempuan tidak akan terkena baby blues. Jadi, bisa saja aku mengalaminya, apalagi ini anak pertama. Perubahan yang terjadi pada tubuhku dan tentunya lingkungan tentu membutuhkan adaptasi yang tidak biasa. Akan ada effort lebih untuk beradaptasi dalam kondisi tersebut. 

Apa itu baby blues? Aku mengutip sebuah definisi tentang baby blues di bawah ini : 
Merasa lelah, sedih, dan khawatir merupakan gejala baby blues syndrome yang banyak dialami ibu setelah melahirkan. Sindrom ini tergolong ringan, jika dibandingkan dengan depresi pasca melahirkan (postpartum depression) yang juga dapat mengancam ibu setelah melahirkan.(Sumber : alodokter)

Tanggal 24 Juli 2020 malam, tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang tidak seperti biasanya. Waktu itu, aku dan suami masih menunggu anak kami diobservasi. Ada perasaan sedih yang benar-benar membuatku sesak, tanpa bisa ditahan lagi malam itu aku menangis. Suamiku jelas kebingungan dengan apa yang terjadi, lalu dia mencoba menenangkanku. 

Tampaknya suamiku sudah mulai paham apa yang terjadi padaku. Dia terus mencoba menenangkan dan menceritakan hal-hal yang membuatku bahagia biasanya, tapi usahanya gagal. Aku masih terus menangis dengan perasaan sedih yang berkecamuk. Entahlah, terbesit sepertinya aku berdosa sama suamiku. 

Lalu, ketika anak kami datang aku mencoba untuk menyusuinya. Yang aku rasakan ketika pertama kali menyusui adalah sakit yang luar biasa, sementara aku melihat anakku menangis karena ingin menyusui. Dini hari, aku kembali menangis menahan rasa sakit dan juga seperti ada perasaan bersalah pada suamiku. Entahlah, pokoknya rasanya campur aduk sumpah!

Sampai aku bilang pada suamiku, "Yang, apa ini karena aku enggak nurut ya?" kataku. Suamiku kembali menenangkan. Aku akui aja, memang aku istri yang agak "bandel", maksudnya bukan kearah negatif ya, tapi karena ketika diskusi terkadang aku memiliki pendapat sendiri dan seringkali ngotot-ngototan dengan suamiku. Ah pokoknya semua muncul di dalam kepala. 

Hampir tiap malam aku menangis, entah karena menahan sakit akibat puting yang lecet atau karena perasaan sedih yang tiba-tiba datang. Sampai-sampai setiap kali menangis aku minta maaf pada suamiku kalau-kalau aku ada salah. Karena gimana ya, aku pun sulit mengungkapkan apa yang aku rasakan. Perasaan sedih ini benar-benar menguasai diriku. 

Kalau mau di explain ya, aku bener-bener menderita dengan perasaan itu, sedih, khawatir, lalu setiap melihat wajah anakku, aku malah menangis, takut enggak bisa jadi orangtua yang baik, dan segala macam kekhawatiran lainnya. 

Beruntung sekali aku punya suami yang paham dengan apa yang aku rasakan. Pas awal-awal melahirkan dia sangat support aku untuk bangkit dan juga bantuin aku dalam urusan anak kita. Yang membuat aku menderita ya, tiap kali aku melihat wajah anakku, aku sedih dan ketakutan. Bahkan suatu ketika, aku meminta Mama untuk pegang anakku dulu karena aku takut menyakiti anakku. 

Nah, apa sih yang harus kita lakukan agar bisa segera bangkit dari baby blues? 

Minta bantuan suami atau orang tua ketika tubuh merasa lelah
 
Mungkin ini alasannya kenapa ketika setelah melahirkan kita sangat tenang jika ada orangtua. Ya, benar. Keberadaan orangtua disamping menenangkan hati kita, juga dapat diandalkan dalam hal meminta bantuan. 

Ingat ya jangan sungkan untuk minta tolong pada suami atau orangtua kita ketika lagi kondisi setelah melahirkan, itu wajar kok. Hal tersebut sama sekali tidak membuat kamu akan dicap manja atau hal-hal jelek lainnya. 

Tubuh kamu pun perlu istirahat, jadi meminta bantuan untuk beberapa jam beristirahat jelas tidak masalah. Trust me!

Bercerita kepada suami / orang tua / teman yang dipercaya 

Apa yang aku rasakan ketika baby blues? Jawabannya sedih! Perasaan sedih yang rasanya bener-bener mengelilingi tubuhku. Utarakan lah yang kamu rasakan pada orang yang kamu percayai untuk diajak bercerita. Ingat ya jangan dipendam sendiri, kamu harus berbagi resah dan kesedihan setelah melahirkan kepada suami kamu. 

Ingat bahwa menjadi seorang Mama adalah anugerah 

Diluar sana masih ada perempuan yang harus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Nah, saat ini tentu Tuhan percaya sama kamu untuk merawat si buah hati. Ingat, menjadi Mama adalah anugerah. Melihat si kecil tumbuh adalah kebanggan bagi Mama diseluruh dunia, percayalah! Tanamkan dalam hati kita bahwa "aku bisa menjadi Mama terbaik bagi anakku". 

Mencari hiburan agar tidak stress

Meskipun kamu sudah punya anak bukan berarti kamu tidak bisa hiburan ya. Kamu berhak meminta me time kepada suamimu. Mintalah dia untuk menjaga anakmu sebentar, sementara kamu bisa berendam atau menjalankan hobi kamu. Hal ini sangat penting untuk mengalihkan perhatianmu dari rasa sedih atau rasa bersalah.

Kalau kamu ingin nangis, menangislah!

Ini menurut aku sangat penting. Jangan ditahan jika ingin menangis ya, keluarin aja semua unek-unek. Tutup kamar nangis sejadi-jadinya tidak masalah. Karena habis itu pasti akan merasa lega.

Ingat ya Moms, dalam kondisi seperti ini kamu harus memiliki "teman" untuk bercerita. Waktu dulu aku menempatkan suamiku sebagai temanku untuk bercerita. Apapun yang aku rasakan aku akan bicara pada suamiku. Positif vibes dari suami sangat berpengaruh dalam kebangkitanku dari baby blues ini. 

I know Moms, baby blues itu enggak enak jadi yuk kita bangkit karena ada anak kita yang lucu yang menunggu kita untuk tersenyum ketika melihatnya. 

Baby blues are real! But we can solve it, Mom! 


Cerita Persalinan : Welcome, Guan Alsava Ganapatih!

Dokumentasi Pribadi

Hari sabtu, tanggal 18 Juli 2020 adalah jadwal kontrol rutin mingguan karena sudah lewat dari 36 weeks. Tidak ada yang berbeda hanya penasaran saja usia kandungan sudah 38 weeks tapi tak kunjung juga rasa mules datang menghampiri. 

Selain melakukan usaha-usaha seperti jalan kaki, main gymball, berhubungan suami-istri, aku pun mencoba mengajak ngobrol bayiku saat itu. Intinya, mau dengan cara apapun aku siap bertemu denganmu, kataku. Sama halnya dengan suami yang berkata, "Apapun caranya kamu harus siap, mau normal atau sesar,".

Menunggu antrian aku dan suami masih sempat main PUBG di rumah sakit, maklum saja, antriannya bisa sampai 2 jam karena banyaknya pasien. Tiba saatnya aku diperiksa, dokter Stella yang ramah mempersilahkan aku ke ruang periksa untuk di USG. 

"Ketubannya mulai berkurang, dan warnanya sedikit keruh, kamu CTG ya," kata dokter. 

"Deg," sejujurnya aku deg-degan. 

Aku dirujuk ke ruangan bersalin untuk dilakukan CTG. CTG adalah alat yang digunakan untuk memantau aktivitas dan denyut jantung janin serta kontraksi rahim saat bayi di dalam kandungan. Melalui pemeriksaan ini dokter dapat mengevaluasi apakah kondisi janin sehat sebelum dan selama persalinan. (Sumber : alodokter.com).

Menunggu sekitar 1 jam, hasil CTG keluar dan suster langsung memberikannya ke dokter di ruangan. Dokter menginformasikan bahwa kondisi janin dalam keadaan baik sehingga tidak perlu dilakukan tindakan sekarang. Aku diberikan waktu sampai hari rabu tanggal 22 Juli 2020, semoga saja sudah ada rasa mulas dan bisa segera bersalin.

Seperti biasa dalam rentang waktu dari Sabtu menuju ke Rabu aku dan suami melakukan usaha-usaha untuk merancang kontraksi rahim, seperti jalan kaki, main gym ball, dll. Sampai aku merasa badanku sakit-sakit, akhirnya suatu malam suamiku kembali berkata, "Apapun caranya kamu harus siap,". Honestly aku ketakutan jika harus sesar, sumpah! Wajahku benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang aku rasakan. Berulang kali suamiku menyemangati, "Harusnya kita senang karena sebentar lagi akan ketemu sama Babang,".

Senin sore, ketika aku selesai BAK tiba-tiba ada air yang keluar dari vagina, karena panik langsung aku lap dengan daster. Aku khawatir ini air ketuban yang keluar, mau mengamati warnanya pun susah, aku mencoba mencium baunya dan tidak berbau. Lalu konsultasi ke dokter Stella, menurut beliau jika tidak terus-terusan tidak masalah. 

Selasa malam, aku belum juga merasakan rasa mulas. Sebelum tidur aku berkata pada suamiku,

"Yang, kayaknya aku sesar deh," . Suamiku menjawab, "Iya sepertinya, feelingku begitu,". 

Sejujurnya, 3 hari itu aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Selain karena perut yang sudah sangat besar, pikiran yang tidak tenang pun membuat aku kesulitan untuk tertidur. 

Rabu, tanggal 22 Juli 2020. Aku kembali ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan terhadap kandunganku, tentunya dengan kondisi yang belum mules juga. Tak lama kemudian, aku sudah berada di ruangan dokter dan pertanyaan pertama yang dokter tanyakan adalah, "Belum mules juga ya?", "Iya dok," jawabku. Lalu, dokter melakukan USG terhadap kandunganku. 

Hasilnya, kepala bayi belum masuk panggul juga, lalu air ketuban sudah semakin berkurang, kalau tidak salah indeks nya waktu 7,2 jika sudah ada diangka 6 mau tidak mau harus langsung tindakan. Perihal kondisi air ketuban yang keruh memang kondisinya tidak berubah dari terakhir kontrol. 

"Kalaupun diinduksi peluangnya hanya sekitar 30%,"

Jadi aku dan suami sempat bertanya bagaimana kalau mengusahakan untuk persalinan normal. Dokter mengatakan bahwa jika diinduksi pun peluangnya hanya 30% artinya ujung-ujungnya aku harus disesar juga dan itu istilahnya sakitnya akan dua kali. 

Sejujurnya saat itu aku ketakutan karena banyak cerita orang habis melahirkan malah komplikasi dan lain-lain, tapi ada yang lebih aku perhatikan yakni kondisi bayiku, bener ya naluri seorang Mama, Mama akan melakukan apapun untuk kebaikan anaknya. 

Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya aku dan suami memutuskan bahwa persalinan kali ini akan dilakukan secara sesar. Tampaknya dokter pun melihat kepanikan yang terpancar dari wajahku, lalu beliau mengajak bercerita ngalor-ngidul agar aku tetap tenang. 

"Dok, sakit gak sih?" pertanyaan polos itu keluar dari mulutku. 

Dokter tersenyum dan berkata, "Aku udah baca kamu panik ya? Tenang aja, nanti diruang operasi banyak orang kok kamu engga sendirian, palingan yang sedikit tegang itu pas disuntiknya aja,". Ya gimanapun seumur hidup baru kali ini aku akan dioperasi jadi wajar kalau aku jiper. 

Aku singkat ya ceritanya hehe. 

Pas tanggal 24 Juli 2020. Malam harinya aku dan suami memastikan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit (bahasan mengenai barang yang wajib dibawa ke rumah sakit akan aku bahas terpisah ya) agar tidak ketinggalan. 

Oya, ketika akan operasi sesar ada hal-hal yang harus diperhatikan ya, misalnya aku akan dioperasi jam 13.30, makan berat aku terakhir adalah jam 7 pagi dan minum terakhir aku jam 8 pagi. Honestly makin mendekati waktu tindakan aku makin deg-degan. 

Jam 8 pagi aku dan suami berangkat ke rumah sakit. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di RS Mitra Kelapa Gading dari kediaman kami. Selanjutnya, kami menemui counter rawat inap untuk mengurus administrasi. Setelah selesai urusan administrasi, aku dan suami melakukan rapid test sebagai syarat utama untuk melahirkan di rumah sakit ini. 

Jadi, aku dan suami menunggu hasil rapid sekitar 2 jam sambil deg-degan engga karuan. Tadinya mau balik ke apartemen lagi, tapi dipikir-pikir sayang banget udah kesini, yaudah akhirnya kita nunggu di mobil ampir 2 jam. Karena merasa lama, akhirnya aku dan suami coba tanya ke bagian Lab dan ternyata hasil udah ada dari tadi dong :(. 

Abis dapat hasil rapid kita langsung ke lantai 2 ruang bersalin. Lalu, aku kembali di CTG dan mempersiapkan operasi seperti suntik ini itu, honestly udah engga fokus disuntik apa aja saat itu karena aku tegang beneran. Suami datang ke ruangan pas aku CTG, masa dia coba menenangkan aku tapi muka dia sendiri panik hhaha. Selesai di suntik, aku diarahkan ke ruang perawatan. Disana aku bener-bener makin tegang, engga bisa jauh dari suami, pokoknya pegangan terus. 

"Kok kayak lama banget ya yang?" kataku. 

Kata suami aku harus semangat karena sebentar lagi bakal ketemu anak kita. Disisi lain aku ketakutan karena akan dioperasi which is ini first time buat aku, tapi disisi lain bahagia karena bakal ketemu sama anakku. Tiba-tiba suster datang ke ruangan kami dan memberikan baju operasi. 

Setelah mengganti baju, aku tinggal menunggu suster datang saja untuk diantarkan ke ruangan operasi. Tak lama kemudian, sekitar jam 13.20 dua orang suster datang dan mengatakan waktunya aku dioperasi, aku lihat muka suamiku semakin tegang hahaha. Selama didorong ke ruang operasi aku beneran pegang tangan suami aku dan rasanya sedih pas mau masuk ruang operasi karena suami enggak boleh ikut ke dalam. 

Aku masuk ke ruang operasi, lalu dihampiri oleh seorang petugas laki-laki yang sangat ramah. Aku masih bisa tanya-tanya ke beliau dan yang membuat aku tenang salah satunya, "Ibu tenang ya, nanti kalau ada apa-apa ibu bilang sama saya,". 

Lalu, aku dibawa masuk ke ruang tindakan. Dingin euy! Sumpah aku panik banget dan saat itu udah beneran pasrah sama Tuhan apa yang akan terjadi. Beruntung sekali punya dokter yang tenang banget, beliau mencoba menenangkan aku saat kondisi seperti itu. Katanya, sesar itu engga sakit, paling sakitnya pas suntik anestesi dan pas pengaruh anestesinya abis haha. Tapi alhamdulillah banget loh, aku enggak merasakan sakit sama sekali ketika disuntik, padahal kata temanku itu bagian yang paling sakit. Oya, yang dokter anestesinya bapaknya Afgan Syahreza ternyata haha. 

Abis itu, aku merasakan kakiku kesemutan. Aku disuruh untuk angkat kaki, tapi ternyata udah enggak kerasa. Lalu, dokter mulai melakukan tindakan, aku merasakan kantuk yang luar biasa tapi aku tetap terjaga. Demi Tuhan aku enggak merasakan apa-apa ketika dokter menyayat kulit perutku. 

Lalu, seorang perawat bilang, "Bu nanti saya pegang perut ibu ya buat bantu dorong bayinya,". Aku mengangguk saja karena rasa kantuk yang luar biasa. Lalu, tiba-tiba sebuah suara tangis bayi yang melengking mengisi ruangan tersebut. 

Dokumentasi Pribadi


Bayiku lahir dengan selamat dan sempurna. Alhamdulillah! 

Beneran loh, aku engga bisa nangis karena aku takjub ada bayi di dada aku. Kebingungan sendiri sumpah, kayak mimpi ternyata aku udah jadi ibu sekarang. Engga sampai 30 menit ternyata, cuma 15 menit bayi udah lahir. 

Setelah operasi selesai, aku dibawa ke ruang pemulihan untuk melihat apakah ada efek dari biusnya atau tidak. Saat itu, yang aku rasakan dingin sekali sumpah, aku sampai menggigil, lalu si perawat tadi mencoba membantu aku dengan memberikan mesin penghangat. 

Setelah dipastikan aku tidak ada efek apa-apa aku dibawa ke ruang perawatan kembali sementara bayiku masih dalam tahap observasi. Pas keluar ruangan operasi aku melihat suamiku berlari menghampiriku, katanya dia was-was istrinya kok belum keluar hehe. 

Nah, begitulah cerita persalinanku anak pertama. Its amazing guys, aku bersyukur sama Tuhan atas kesempatan ini. 











Yang Perlu Kamu Ketahui Ketika Melahirkan di Tengah Kondisi Pandemi

Halo calon Mama yang sedang menunggu datangnya si buah hati? Gimana perasaannya? Aku berdoa semoga Mama semua sehat selalu dan diberikan kelancaran dalam persalinannya nanti. 

Kali ini, aku pengen sharing tentang bagaimana sih rasanya melahirkan disituasi pandemi seperti sekarang ini. 

Tentunya kondisi seperti ini bukanlah kondisi yang biasa, kita harus menyesuaikan dengan kondisi normal baru atau new normal, mulai dari wajib menggunakan masker ketika keluar rumah, membiasakan diri mencuci tangan, membawa handsanitizer kemanapun ketika pergi, dan hal-hal baru lainnya.

Lalu, apakah ada perubahan persiapan bagi Mama yang akan melahirkan di tengah kondisi pandemi seperti sekarang? Check it out ya!

Aku melahirkan diusia kehamilan 39 weeks, cerita tentang kehamilanku akan aku share ditulisan terpisah. Kali ini aku akan fokus sharing tentang persiapan persalinan di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini. 

Wajib untuk ikuti protokol kesehatan

Kewajiban untuk taat pada protokol kesehatan kayaknya harus dilakukan oleh semua orang, tidak hanya bagi Mama yang akan melahirkan. Nah, kondisi rumah sakit pun tentu berbeda dengan biasanya. Ketika kita akan masuk kawasan rumah sakit kita harus dicek suhu & diwawancara singkat terlebih dahulu mengenai history perjalanan kita. Jangan lupa pakai masker dan juga handsanitizer ya. Aku memang prefer membawa handsanitizer sendiri alasannya ya lebih higienis karena cuma kita doang yang pegang. Tapi rumah sakit juga menyediakan ya guys, jangan khawatir. 

Wajib melakukan rapid test

Nah ini hal yang baru ya guys, aku engga tahu sih apakah ini berlaku disemua rumah sakit atau enggak, tapi kayaknya sih iya. Kalau di RS Mitra Kelapa Gading baik Mama yang mau melahirkan dan pendamping wajib melakukan rapid test.

Pernah waktu itu ngobrol sama dokternya, jadi kalau ternyata hasil rapid & swab positif maka pasien akan dirujuk ke RS khusus covid. Hal ini dilakukan agar ruangan ibu & anak tetap steril ya guys bukan karena apa-apa. Dan hal ini juga yang menjadi pertimbangan aku untuk melahirkan disini. 

Hanya boleh ditemani 1 orang 

Kalau biasanya yang mau lahiran boleh ditemani oleh suami dan orangtua, disituasi pandemi seperti sekarang ini Mama yang mau lahiran hanya boleh ditemani oleh 1 orang saja. Kemarin aku ditemani oleh suamiku dan kita struggle berdua loh. 

Tips!

Jadi buat kalian yang lagi menunggu gelombang cinta dari calon si buah hati aku mau ngasih tips ya, semoga bermanfaat. 

  • Pastikan semua checklist barang-barang. Jadi enggak ada istilah bolak-balik dari RS ke rumah ya guys. Karena kita hanya berdua, kalau ada yang kurang dan suami harus balik ke RS rasanya sendirian diruangan itu gimana gitu. Aku bukan negative vibes ya guys, cuma alangkah lebih baiknya well prepare dari awal.
  • Cari rumah sakit yang concern dengan protokol kesehatan. Nah, ini menurutku wajib ya tidak hanya concerna terhadap protokol kesehatan tapi kalau bisa yang tidak menangani pasien covid. Honestly sih aku merasa tenang loh dan less stress juga karena tahu ini. 
  • Mesti kompak sama suami karena kalian akan melakukan apapun berdua di rumah sakit. 
  • Berdoa kepada Tuhan dan meminta agar semuanya berjalan dengan lancar. 

Nah itu ya guys hal yang harus dipersiapkan buat Mama yang akan melahirkan disituasi pandemi seperti sekarang ini. 




Rekomendasi Dokter Kandungan di Jakarta Utara


Sumber Gambar : kindpng.com/ Edited : Canva

Aku Hamil!

Iya guys aku hamil, haha, pas aku nulis ini alhamdulillah usia kandungan sudah 33 weeks 6 hari!

Hai guys. Kali ini aku bakal sharing tentang salah satu dokter kandungan di Jakarta Utara. So, buat kalian yang lagi cari-cari rekomendasi dokter kandungan bisa banget buat baca sampai selesai artikel ini!

Jadi, awalnya aku tuh berobat ke RS Premier Jatinegara, waktu itu aku janjian sama dokter Frans Putuhena. Sebenarnya beliau itu enak juga sih, tapi entah kenapa makin kesini aku prefer dengan dokter perempuan, mungkin karena lebih nyaman kali ya. 

Nah, alasan kenapa aku pindah dari RS Premier Jatinegara adalah karena memang biaya cukup mahal, sekali kontrol itu bisa sampai 1 juta, apalagi pas awal-awal (aku lupa pemeriksaan apa aja), tapi yang jelas biayanya sampai 1,6 juta. Selain itu, ke RS Premier juga jaraknya lebih jauh dari apartemenku yang di Pulo Gadung.

Akhirnya, aku cari-cari informasi tentang dokter kandungan di Jakarta Timur yang dekat ke apartemen. Tujuannya ya biar gak jauh-jauh kalau nanti kerasa mules. Awalnya aku coba cari lewat aplikasi alodokter, engga tahu kenapa aku langsung tertuju sama salah satu nama yakni Stella Shirley Mansyur

Coba cari diinternet, tentang dokter tersebut ternyata banyak disebut dan reviewnya bagus oleh banyak orang. Aku coba diskusi dengan suamiku dan kita sepakat untuk mencoba ke dokter Stella yang praktek di RS Mitra Kelapa Gading. 

Pertama kali ke dokter Stella aku excited banget karena ternyata yang ngantri segambreng, rame bener dah sumpah, iseng-iseng ngobrol sehari itu bisa sampai 100 pasien. Makin penasaran dong aku sama dokter ini, karena menurutku engga mungkin kan pasiennya bisa sebanyak ini kalau dokternya biasa aja. 

Tibalah giliranku, pas pertama kali masuk ke dalam ruangan bener aja, dia udah nyapa dengan sapaan hangat dan friendly banget sumpah. Dan ternyata dokter Stella masih muda banget guys, istilahnya dokter untuk milenial deh, sumpah. Nah, waktu itu kebetulan aku USG transavaginal dulu karena kalau engga salah masih 12 minggu. Alhamdulillah hasilnya bagus. 

Setelah USG, dokter Stella menjelaskan pantangan-pantangan yang harus dihindari oleh ibu hamil. Dia jelasin detail banget dari A sampai Z. Aku dan suami jadi nyaman aja konsultasi dengan beliau. 

Soal harga kayaknya aku enggak share ya, tapi intinya pelayanan yang kita dapat itu setimpal dengan harganya, worth it banget lah!

Sekarang, aku jelasin gimana kalau kalian mau konsultasi ke Dokter Stella ya. 
  • Untuk daftar rawat jalannya kalian bisa lewat aplikasi alodokter atau bisa juga datang langsung ke rumah sakit Mitra Kelapa Gading. Kalau aku pas pertama daftar rawat jalan lewat alodokter. 
  • Kalau daftar rawat jalan sih kayak biasa ya, pasien baru harus isi data dulu lalu kasih KTP dan dapatkan kartu pasien. 
  • Lalu, kita akan diarahkan untuk ambil antrian ke polikliniknya. Ini yang menurutku agak PR, karena pasien dokter Stella itu banyak banget jadi kalau bisa kalian ambil antriannya dari pagi. 
  • Kalau kebagian pas udah di nomor-nomor akhir, mending kalian pulang dulu aja ke rumah (kalau rumahnya deket), nanti bisa telpon ke poliklinik udah antrian ke berapa, kalau udah deket-deket baru berangkat lagi ke rumah sakit. 
Untuk jadwal praktek dokter Stella sebagai berikut :
  • Senin : OFF kecuali ada tindakan lahiran/kuret/emergency
  • Selasa : 14 - 18
  • Rabu : 10 -14
  • Kamis : 10 - 14
  • Jumat : 14 - 18
  • Sabtu : 10 - 15
Itu jadwal pas lagi pandemi kayak gini ya guys. Kalian juga bisa kepo-in IG dokter_stella_spog  karena dia aktif juga di media sosial & suka bagikan tips-tips kesehatan.

Aku rasa cukup sekian dulu ya yang aku share, nanti aku lanjut lagi! Thankyou!

(Sharing) Gimana Rasanya Jadi HEAD di Usia 25 Tahun?


Rasanya? 

Ngeri-ngeri sedap! Itu jawaban yang bisa gue kasih ke kalian. Why? Yang biasanya gue kerja sendiri (artinya belum punya bawahan), tiba-tiba dikasih breg langsung 17 orang untuk gue guidance. Wow! Apalagi coverage 38 area dari mulai Bandung sampai Denpasar. Subhanallah sekal!

Semua berawal ketika gue dipanggil sama Bapak Direktur dan dikasih amanah untuk jadi Head Operational ditempat gue kerja. Perasaannya ya awalnya sih biasa aja, tapi gue udah notice sama diri gue bahwa ini berat loh, dan gue harus memberikan effort lebih karena mengatur orang tidak semudah mengatur benda tak hidup, kan?

Kilas balik karir gue dari pertama kali lulus, gue emang ngejar posisi MT. Why? Gue pernah share alasan kenapa menurut gue jadi MT (Management Trainee) itu worth it banget. Karena dalam 1 tahun lo bakal dapat banyak hal dan jika lo lulus maka lo akan naik level. Kalau gue pas pertama rekrut itu jabatan udah Senior Staff (Fresh Grad padahal haha), nah pas gue lulus MT level gue naik jadi Supervisor. Artinya, gue naik dari Staff ke Supervisor itu dalam waktu 1 tahun.

Sekitar 1 tahun gue kerja sebagai Supervisor di bagian HRD, akhir 2018 gue dapat amanat untuk jadi Head Operasional. Yang bikin gue gak nyangka adalah lead time yang sangat cepat, ya mungkin balik lagi kali ya gue dikasih kesempatan belajar langsung dengan jabatan yang gue punya saat ini.

Nah, gue tentunya gak mau cerita yang manis-manis aja, karena menjadi leader itu sumpah gak mudah coy! Apalagi kalau tim kalian itu memiliki usia yang diatas kalian, tapi satu yang gue pegang gue harus menghormati mereka, ya karena pertama mereka lebih tua usianya dari gue dan juga gue memang bukan tipe-tipe diktator lah, gue mencoba untuk jadi atasan yang wise buat tim gue.

Sombong banget ya? Haha, maaf guys gue bukan mau show up dengan jabatan yang gue miliki sekarang ya. Gue pengen bagiin positif vibes buat kalian yang mungkin lagi depresi, lagi stress, lagi nothing to do mau ngapain sama hidup ini. Nah, makanya gue mau share pengalaman gue gimana rasanya jadi leader di usia 25 tahun.

Banyak banget hambatan yang gue alami ketika guide orang, yang pertama adalah watak setiap orang yang beda-beda, artinya gue harus belajar 17 watak orang. Gila gak? Ya tapi itu harus dilakukan karena masing-masing punya gaya sendiri, kalau gue menyamaratakan semua cara untuk semua orang ya gak bisa, yang ada akan ada blocking dari mereka. Gue coba deketin mereka dengan berbagai cara, yang paling gila sih gue ikutan maen game. Haha.

Oya, gue harus ngasih tahu kalian juga kalau jadi leader itu harus banyak-banyak sabar, why? Jangan baper kalau misalnya tiba-tiba disindir di status WA (ups), emang sih karena gue perempuan mungkin punya emosi yang berbeda, tapi ketika lo jadi leader kayak yaudahlah terserah dulu. Kadang apa yang menjadi asumsi mereka sebenarnya memang bukan kita, tapi ya karena asumsi tersebut mereka memiliki kesimpulan yang tidak-tidak.

Itu cuma sedikit bumbu coy! Jadi, nikmatin aja coba untuk rileks walaupun suami gue sebenarnya udah wanti-wanti karena kalau gue pusing dia juga ikut bingung. Ya belum aja dia bilang, "Mending kamu resign deh," haha.

Ketika jadi leader, gue belajar gimana cara bikin solusi yang jitu berdasarkan analisis, bukan asal jeplak dapat solusi cepet tapi gak jitu. Itu emang salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh leader, jadi problem solver, bukan jadi leader yang bisanya cuma nyalahin doang atau nyuruh doang.

Lagian, gue berpikir juga sih apakah selama gue jadi leader gue udah memberikan kontribusi buat tim gue? Karena apa yang menjadi bagian kita tentu akan dimintain pertanggungjawabannya kelak, bener gak? Terus gue juga pernah bertanya, sebenarnya kapabilitas gue udah mumpuni belum ya? Itulah, Why gue gedek juga sama orang yang ternyata gak tahu cara berpolitik tiba-tiba nyalonin jadi anggota dewan, mbok ya belajar dulu gitu. Inget ya, gue gak larang (siapa gue? haha), tapi mbok ya sebelum terjun banyakin baca buku gitu. Jangan lo naek modal duit doang.

Balik lagi ke gue ya, gimana rasanya jadi leader di usia 25 tahun? Intinya amazing lah. Gue gak nyangka secepat ini dapat jabatan di salah satu perusahaan besar dan ini adalah bagian yang harus gue syukuri. Jadi, buat kalian tetap semangat ya guys! Kita punya kesempatan yang sama untuk jadi lebih baik setiap harinya.

Sekian dulu ya, ntar gue sambung lagi!