Featured Slider

Rekomendasi Body Care Buat Kamu Sipecinta Kopi, Check it Out Guys!

Dokumentasi Pribadi

Buat aku, menjaga kesehatan dan kecantikan kulit tubuh itu adalah kewajiban. Jadi, tentu aku tidak hanya memperhatikan kesehatan kulit wajah, tapi juga kulit tubuh aku agar tetap sehat. Nah kemarin itu aku denger bahwa Scarlett Whitening mengeluarkan produk body care baru bertajuk PERFECT COFEE EDITION yang menurut aku wajib banget aku coba guys!

Gak pake nunggu lama aku memutuskan untuk membeli produk ini dan mencobanya. Nah, kali ini aku bakal review terkait dengan pemakaian Body Scrub dan Shower Scrub Perfect Coffee Edition dari Scarlett Whitening.

Check it out ya guys

Baca sampai selesai karena menurut aku produk body care ini wajib banget kalian coba apalagi buat kalian si pecinta kopi. 

Yang pertama, aku mau review Body Scrub Perfect Coffee Editionya yah.

Dokumentasi Pribadi

Nah guys, kalau aku pribadi menggunakan body scrub itu adalah kewajiban, ceileh hehe, kenapa? Soalnya, aku bener-bener jaga kesehatan kulit aku agar tetap cerah. Nah, produk body scrub perfect coffee edition ini mengandung Glutathione dan Vitamin E. Selain itu, produk ini sudah terdaftar di BPOM RI dengan kode registrasi NA 18210700581 jadi aman banget ya. Dan kalau bicara aroma tentu aroma kopinya kerasa banget, enak guys!

Body scrub ini udah aku cobain dan hasilnya bener-bener membantu aku banget dalam mencerahkan serta meratakan warna kulit aku. Selain itu, manfaat dari body scrub ini adalah meregenerasi kulit, membantu pembentukan kolagen, dan meningkatkan kelembaban kulit.

Cara pakainya gampang banget, kalian tinggal aplikasikan produk body scrub ini keseluruh tubuh kalian lalu gosok-gosok dengan lembut agar kotoran yang menempel bisa terangkat. Pas kalian coba aplikasikan body scrub ini ke kulit ada butiran-butiran scrub yang membantu kita dalam proses pembersihan kulit. Tertarik gak? Selain itu, aroma kopi yang enak banget bikin kita sekalian healing terapi abis panas-panasan atau stress karena banyak kerjaan hehe.

Yang kedua adalah Shower Scrub Perfect Cofee Edition. 

Dokumentasi Pribadi

Kalau soal bicara perawatan kulit, aku tuh gak pernah setengah-setengah. Ketika aku pakai body scrub perfect editionnya Scarlett Whitening aku juga pakai Shower Scrub yang juga ada perfect coffee editionnya. Nangis gak sih? Hahaha.

Shower scrub ini mengandung Glutathione, Vitamin E, dan Collagen yang dapat mencerahkan dan meratakan warna kulit, meregenerasi kulit, dan meningkatkan kelembaban dan elastisitas kulit. Selain itu, produk ini juga sudah aman karena terdaftar di BPOM dengan kode registrasi NA 18210700426.

Oya, selain itu tutup dari shower scrub ini aman banget jadi jangan khawatir akan tumpah kemana-mana yah karena sudah dilengkapi dengan sistem lock and lock yang aman.

Cara pakainya gampang banget guys, basahi tubuh kalian lalu gunakan shower scrub ini keseluruh bagian tubuh kalian. Nah, di dalam produk ini ada butiran scrub nya juga loh tapi engga bikin kita perih, justru ini membantu kita untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di tubuh kita.

Nah, sekarang gimana sih caranya kalau kalian mau order produknya? Caranya gampang banget guys, kalian bisa order via WA 0877-0035-3000 atau langsung DM instagramnya @scarlett_whitening. Oya satu lagi, kalian enggak perlu khawatir barang  akan rusak ya karena produk akan dikasih buble wrap untuk menjaga agar tetap aman selama diperjalanan dan kalian bisa dapatkan harga masing-masing Cuma 75 ribu aja loh!

Sekian dulu ya guys #reviewjujur dari aku. Nantikan di #reviewjujur produk lainnya. Thankyu & have nice day 😊


Boss yang "Baik" itu Adalah Rezeki



Guys, sering mendengar keluhan dari teman kita tentang boss nya? Atau bahkan kita sendiri yang ternyata sering mengeluh tentang boss kita ke teman-teman kita karena sifat-sifat negatifnya? Tenang, jangan khawatir, sumpah itu wajar sekali kok. Cuma mungkin yang perlu diperhatikan saat bercerita, kepada siapa dulu kita bercerita tentang boss kita. Kalau misalnya orang tersebut "satu aliran" sama boss kita yang ada bahaya. Hahaha. 

Oke, mari kita mulai pembahasan kali ini. Gue akan bikin sederhana dan engga jelimet. Tujuannya satu, agar kita bisa mengambil pelajaran. Ceileh, kayak apaan aja nih tujuan penulisan. Haha. Tapi, serius gue pengen sharing sama kalian tentang hal ini. Ada beberapa cerita yang tentu gue samarkan tokohnya ya, karena kalau gak disamarkan bahaya. 

Si A, cerita sama gue kalau punya bos yang gak ridho kalau dia balik on time jam 5 sore. Menurut bossnya, kalau kita pulang jam 5 sore itu artinya gak produktif alias gak kerja. Padahal si A cerita selama dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dia fokus sama kerjaannya. Tiap kali ada kerjaan gak pernah lewat deadline dan dia selalu memberikan improvement untuk timnya, cuma karena dia sering banget pulang on time dia dianggap gak kerja. Gila gak? Mmm, tunggu dulu. 

Si B, cerita sama gue kalau punya boss yang gak pernah backup ketika ada masalah. Suatu ketika, dia kena audit yang sebenarnya itu kerjaan orang yang sebelumnya, tapi karena saat itu si B yang pegang jabatannya, maka si B yang harus bertanggungjawab untuk melakukan klarifikasi. Harapan si B dia akan dapat backup dari boss nya, karena kalau si B yang bilang cuma bakal dianggap angin lalu, masalahnya yang dia hadapi adalah Direktur cuy! Tapi, si B malah dijontrongin dengan alibi,"Masa hal kayak gini aja saya harus turun?", si B hanya menelan ludah dan, "Lah itu kan tugas lu sebagai atasan gue," cuma dia utarakan dalam hati saja. Gila ya? Haha. 

Mau tau cerita si C? Ini lebih gokil lagi karena bicara tentang "senioritas". Si C ini merasa dirinya lebih punya kapabilitas dibandingkan boss nya, setiap kali ada permasalahan si C selalu menyumbang solusi yang akhirnya dipakai oleh Manajemen, sayangnya si boss tidak bicara bahwa solusi itu adalah dari si C, dan mengatakan bahwa solusi tersebut merupakan buah pikirnya. Tidak ada kesempatan karir dan hidupnya semakin "gila" si C akhirnya mengundurkan diri dan membuka usaha catering yang sekarang omsetnya melebihi gaji bulanan dia. 

Sampai disini negatif mulu ya? Haha, tenang guys. Gue juga bakal kasih pengalaman teman-teman gue yang punya boss yang "cihuy". 

Si D, bekerja di salah satu company gede di Jakarta, punya boss perempuan yang super duper keibuan. Si boss yang sangat pengertian menurutnya. Si boss yang gak pernah curigaan dan menaruh kepercayaan tinggi kepada tim di bawahnya. Jadi, si C ini sering kali mengajukan cuti, alasannya adalah karena ia harus mengantarkan Ibunya untuk berobat 2 minggu sekali, belum kalau tiba-tiba drop yang mengharuskan si D pulang lebih awal. Bukannya menyoroti si D yang sering izin, si boss justru selalu menyarankan untuk menjaga Ibu terlebih dahulu. Bukan tidak profesional, tapi disini si boss mengerti mana soal prioritas. Toh si D ini secara produktifitas dan performance memang "oke". Tipe boss kayak gini emang sangat langka dan cihuy deh pokoknya. 

Satu lagi ya, si E cerita kalau punya boss loyal banget sama tim. Kalau abis kerja sering banget ngajak nongkrong buat melepas lelah dan dia yang bayarin. Simpel? Enggak sih, karena gak semua boss bisa kayak gini. Bahkan ketika salah satu teman si E lagi punya masalah, si boss ini bener-bener bantuin sampai permasalahannya selesai. Boss yang gak pernah itung-itungan, boss yang berpedoman bahwa timnya adalah asset dan harus ia jaga. Toh, kalau timnya support tentu akan berpengaruh pada pencapaiannya divisinya. 

Masih mau cerita positif? Oke, terakhir deh. Si F, cerita kalau boss nya ini adalah seorang laki-laki yang sudah berusia 50 tahun dan sangat kebapak'an. Bahkan saking dekatnya dengan timnya, tim dia sudah menganggap dia seperti Bapak sendiri, tidak sungkan untuk bertukar cerita, pun tidak sungkan untuk "minjem duit" karena si boss ini selalu ada dalam berbagai kondisi. Haha. Si boss berpedoman bahwa bekerja di kantor tidak hanya sekadar bekerja, tapi juga membangun sebuah keluarga yang nyaman. Bagaimana tidak? Dari jam 8 sampai jam 5 kita menghabiskan waktu di kantor, kalau dipiki-pikir lebih lama dibandingkan dengan waktu melek kita di rumah, ya kan? Jadi, membangun relasi dengan tim sebagai keluarga sangatlah penting. 

JADI? Balik lagi ke judul artikel ini kalau boss yang baik itu adalah rezeki. Gak semua orang punya rezeki boss yang bisa pengertian sama tim di bawahnya. Boss yang bisa mendevelop dan membuat anak buahnya berkembang. Boss yang tidak ketakutan untuk tersaingi, justru si boss yang menjadi jalan pembuka anak buahnya untuk mencapai jabatan yang lebih tinggi. 

Barangkali quotes tentang, "LEADER CREATE THE LEADER" itu emang bener. Gak semua boss bisa menghasilkan boss yang lain. Yang juga sama performancenya dalam bekerja. So, kalau kalian saat ini memiliki pengalaman seperti si D,E,F bersyukurlah, tapi kalau masih memiliki boss yang kayak si A,B,C mungkin ada baiknya juga kalian berpikir untuk mencari boss yang lain. Hahahaa. 

Sekian!


Ketika Alasan Resign Bukan Lagi Soal Gaji yang Terlalu Sedikit

Dokumentasi Pribadi


Tulisan ini aku dedikasikan untuk mereka yang dengan berani untuk memutuskan berhenti menjadi Karyawan dan juga untuk mereka yang masih berjuang untuk bertahan menjadi seorang Karyawan. 

Ada satu teman, atau bisa kuanggap sebagai "kakak senior", cukup dekat dan kami cukup sering untuk sekadar "curhat". Ketika aku mulai menjadi Karyawan di tahun 2016, dia sudah ada di kantor tersebut. Orangnya terlihat sebagai "alpa women", pekerja keras, dominan, dan sudah berkarir sejak usia 17 tahun. 

Tentu, dengan hal tersebut aku tidak ada sedikit pun terbesit perkiraaan bahwa dia akan memutuskan resign tahun kemarin. Ketika aku sedang cuti melahirkan, dia memberikanku informasi lewat pesan singkat bahwa dia memutuskan resign. 

Sebab kami berhubungan bukan hanya sekadar rekan kantor, aku mencoba untuk bertanya padanya terkait alasan kenapa dia seberani itu untuk resign. Ya, kutanyakan waktu itu sebagai teman bukan sebagai rekan kerja. Alasannya membuatku kaget, dia sudah berada di tahap stress ketika mendengar bunyi telpon genggam & juga tentu alasan bahwa dia pada akhirnya ingin fokus dalam merawat anaknya. 

Awalnya aku benar-benar tidak menyangka, karena melihat jabatan yang sudah tinggi, jarak yang sangat dekat dengan rumah, ku kira akan membuatnya menjadi Karyawan abadi di Perusahaan. Tapi, perkiraanku salah. Jabatan yang tinggi & jarak yang dekat bukan alasan seseorang bertahan di sebuah Perusahaan. 

Selanjutnya, seorang teman yang cukup "selalu terlihat bahagia" ketika aku melihatnya di kantor memutuskan untuk resign juga, alasannya cukup sederhana dan singkat, "lelah" dan dia pun memutuskan berhenti menjadi seorang Karyawan. 

Beralih tentang teman yang lain, yang secara tiba-tiba memberikan pesang singkat, "Vi, hari ini gw terakhir" yang membuatku terkaget-kaget. Pasalnya aku kenal dia adalah sosok fighter yang tidak mungkin untuk menyerah begitu saja. Lalu, aku tanyakan kenapa memutuskan untuk resign dengan posisi yang sebenarnya punya potensi untuk promosi, dia orangnya smart menurutku, jawabannya, "Daripada gue gila". Lalu aku tanya apakah dia sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain? Jawabannya tidak! Sekarang dia fokus mengurus suami dan anaknya sebagai Ibu Rumah Tangga "yang bahagia". 

Kadang kita melihat mereka yang jabatannya tinggi tidak akan resign karena gaji yang dia terima sangat besar, tapi ketika seorang Direktur memutuskan resign segera dari sebuah Perusahaan tentunya alasan tersebut bukanlah alasan yang bisa diyakini oleh semua orang. 

Kita menyangka mereka yang rumahnya dekat dengan kantor tidak akan pernah resign, tapi justru alasan mereka resign karena untuk menjaga jiwa "tetap waras". 

Kita menyangka seseorang yang brilian, dominan, pintar, cerdas, strategic thinkingnya jago tidak akan resign karena dia punya ambisi untuk jadi wanita karir, tapi ternyata dia memilih resign agar tidak gila & juga bisa fokus dengan keluarga. 

Resign tentu bukanlah akhir dari segalanya, kita akan mendapatkan waktunya, dengan segala macam reason yang masuk akal sampai tidak masuk akal, tentu tujuannya sama agar hidup "lebih merdeka". Yang jelas, kini alasan resign bukan cuma soal gaji yang sedikit, tapi juga kewarasan jiwa yang mungkin sering terlupakan oleh kita semua. 

Dokumentasi Pribadi

Resign sekarang atau nanti, aku harap kalian memang sudah berada dititik "SIAP". Terlebih bukan juga karena emosi lalu memutuskan untuk berhenti. Resign dengan badan yang tegap tentu jauh lebih terhormat. Resign karena memang sudah cukup bukan karena kalah dimakan kondisi. 

Tapi, semua keputusan ada di tangan masing-masing. Yang pasti, menurutku setiap orang berhak untuk memiliki kesehatan jiwa dan raga agar bisa memberikan sumbangsih terlebih untuk hidupnya dan keluarganya dan juga orang sekitar. 

Semoga tulisan ini mencerahkan kita semua tentang mereka-mereka yang pada akhirnya memutuskan resign bukanlah akhir dari segalanya. Dan mereka yang berani memutuskan untuk berhenti tentu sudah melewati pertimbangan matang untuk berhenti menjadi "Karyawan". 

Review Bodycare by Scarlett, Check it Out Guys!


Dokumentasi Pribadi

Sebagai perempuan tentu sangat lumrah jika kita ingin merawat diri agar selalu terlihat cantik kan? Meskipun saat ini aku sudah menikah dan memiliki anak, melakukan perawatan tubuh menurut aku adalah hal yang sangat penting. 

Nah, kali ini aku bakal #reviewjujur salah satu produk kecantikan yang emang lagi hype abis nih. Penasaran kan?

Iyep! Scarlett  by Felicya Angelista, siapa sih yang engga tahu? Produk kecantikan ini emang lagi hype abis loh guys. Nah, kali ini aku bakal review body care Scarlett mulai dari body scrub, body shower, dan body lotion. Penasaran kan? Check it out guys!

First of all, aku harus kasih info sama kalian semua kalau produk body scrub, body shower, dan body lotion Scarlett ini mengandung Glutathione, vitamin E, Niacimide, dan Kojic Acid, dimana kandungan tersebut berfungsi mencerahkan, melembabkan dan juga menutrisi kulit kalian ya. Selain itu, produk Scarlett udah terdaftar di BPOM jadi kalian enggak perlu khawatir aman atau tidak ya. And, yang gak kalah penting adalah ini produk no tested animals ya.

Oke, aku bakal review satu-satu yaa! Simak baik-baik yaa.

BODY SCRUB

Dokumentasi Pribadi

Yang aku punya dan aku pake adalah varian romansa. Bodyscrub-nya itu berwarna putih ya guys. Didalamnya ada scrub yang halus banget jadi enggak sakit pas kita apply ke tubuh. Selain itu, wanginya aku suka banget sekaligus tahan lama.

Cara penggunaannya basahi tubuh kalian terlebih dahulu, lalu aplikasikan produk body scrub ke seluruh tubuh sambal digosok-gosok, tenang asli enggak sakit karena butir scrubnya halus banget. Lalu, diamkan 2-3 menit aja, dan kalian udah bisa langsung bilas sampai bersih. Cium deh wanginya enak kan? Abis itu wanginya tahan lama juga.

SHOWER SCRUB

Dokumentasi Pribadi

Yang aku punya adalah varian pomegrante & mango. Warna pomegrante itu ungu dan mango kuning. Nah, di dalam shower scrub ini ada buliran scrub yang dapat membantu memaksimalkan kita saat membersihkan tubuh, bulirnya warna-warni juga cantik hihihi.

Cara penggunaannya adalah basuh tubuh kalian terlebih dahulu, lalu keluargkan shower scrub dari botolnya dan kalian bisa langsung aplikasikan untuk membersihkan tubuh kalian. Menurut aku materinya enteng banget ya sehingga mudah banget pas dipake bersihin tubuh, udah gitu wangi banget guys!

BODY LOTION

Dokumentasi Pribadi


Nah, aku tuh emang punya kulit yang cenderung kering, jadi enggak bisa banget tuh kalau enggak pake body lotion. Makanya, aku cari body lotion yang wangi & juga enggak lengket di kulit. Ketemu deh sama Scarlett hehe.

Aku punya 3 produk, yaitu varian charming, romansa, dan satu lagi yang merupakan produk body lotion baru yakni Freshy guys.

Kenapa sih aku suka banget sama body lotionnya Scarlett? Yang pertama tentu ya, dari segi wangi nya. Wangi yang varian charming itu kayak parfum Baccarat Rouge 540 Eau De loh guys, terus yang freshy pun kayak wangi Jo Malone Pear dan Fressia eau de cologne. Dan menurutku kalau udah pake lotion ini gak apa-apa gak pake parfum lagi hihi hemat kan? Untuk varian romansa juga enggak kalah wanginya ya guys. Jadi biasanya aku gantian itu tiap hari beda-beda hihi.

Dokumentasi Pribadi


Selanjutnya, untuk botol lotionnya ini tuh kemasannya simpel dan mudah dibawa kemana-kemana, tinggal masukin tas aja guys dan tentunya safety banget karena ada lock dan unlocknya. Dan yang terakhir kenapa aku suka karena body lotion Scarlett itu mudah meresap dan engga lengket dikulit. Ini #reviewjujur ya guys karena aku udah buktiin sendiri.

Cara penggunaannya sama sih guys, kalian tinggal aplikasikan body lotion ke bagian tubuh yang kalian kehendaki, kalau aku biasanya mulai dari tangan, lalu leher dan kaki.

Nah, sekarang gimana sih caranya kalau kalian mau order produk Scarlett? Caranya gampang banget guys, kalian bisa order via WA 0877-0035-3000 atau langsung DM instagramnya @scarlett_whitening. Oya satu lagi, kalian enggak perlu khawatir barang  akan rusak ya karena produk akan dikasih buble wrap untuk menjaga agar tetap aman selama diperjalanan dan kalian bisa dapatkan harga masing-masing Cuma 75 ribu aja loh! Atau kalian juga bisa beli paket hemat yg 5 item harganya cuma 300 ribu udah dapat box ekslusif dan free gift.

Sekian dulu ya guys #reviewjujur dari aku. Nantikan di #reviewjujur produk lainnya. Thankyou & have nice day 😊


Tentang Hemangioma dan Keputusan untuk Operasi

 


Beberapa saat yang lalu, aku sempat update instastory sedang di ruang perawatan. Lalu, banyak dari teman-teman yang bertanya siapa yang sakit & sakit apa. Nah, oleh karena itu kali ini aku mau sharing tentang pengalaman aku dan suami menangani Hemangioma yang ternyata ada di kaki kanan anak kami, Guan. Semoga informasi ini bisa bermanfaat ya Moms :)

Apa sih Hemangioma itu? 


Yang terjadi sama Guan adalah benjolan tepat di mata kaki kanan. Awalnya sih aku lihat seperti bekas kepentok & ketahuan pas usia 1 bulan. Tepat pas udah kontrol ke DSA, lalu aku ingat kata Mama untuk cek anak aku secara detail (aku baru bisa karena aku kena baby blues jadi kurang aware dengan anakku saat itu hiks).


Kebetulan waktu itu abis kontrol 1 bulan, nah pas sampai rumah aku baru ngeuh ada seperti abis kepentok gitu di kaki kanan Guan. Panik dong karena selama aku gendong dia juga gak pernah jatuh dan yang pegang paling cuma mamah, bapak, sama suamiku aja dan itu bisa aku lihat juga. 

Akhirnya aku kirim poto ke dokternya. Bener aja, dokternya make sure "Bu gak kepentok?" aku bilang engga Dok. Terus dokternya nyaranin untuk ke RS aja karena dia gak bisa pastikan kalau gak pegang. Berhubung waktu itu aku di Subang jadi dihold dulu tuh ke dokter anaknya yang di Jakarta.

Singkat cerita tibalah akhirnya waktu kontrol dengan DSA Guan yang di Jakarta nih. Lalu dicek sama dokternya dan beliau curiga kalau ini adalah hemangioma dan kita dirujuk ke dokter radiologi untuk dirontgen. Setelah dirontgen hasilnya adalah benar HEMANGIOMA dan dirujuk ke dokter bedah di rumah sakit yang sama. 

Akhirnya kita coba untuk ke dokter bedah untuk diskusi terkait benjolan tersebut. Dokter tanya apakah ini membesar atau tidak, nah kalau kita observasi memang ini benjolan membesar dan saran dari dokter adalah untuk segera diangkat agar tidak menganggu pas Guan belajar jalan nanti. 

Aku beneran kepikiran engga bohong, pasalnya kasian ngebayangin anak kecil harus dioperasi ya kan? Lalu aku mengajak suamiku untuk cari alternatif lain. Kita coba konsultasi ke dokter anak di rumah sakit Bunda. Hasilnya tetap sama saran dari dokter agar benjolan ini segera diangkat. Tapi darisana aku sedikit tenang karena katanya operasinya kecil dan bisa langsung pulang.

Tapi sumpah Moms aku beneran kepikiran dan takut juga sehingga dari Desember kita bener tunda sampai bulan Maret. Pas akhirnya aku mencoba untuk tenang ketika akhirnya anakku dioperasi. Untuk waktu operasinya sendiri menghabiskan waktu sekitar 1 jam dan habis itu kita langsung masuk ke ruang perawatan. 

Dan kalian tahu setelah operasi pengangkatan Guan jadi makin aktif banget. Aku jadi curiga kalau selama ini bisa jadi dia kesakitan dengan adanya benjolan tersebut. Bayangin aja jam 10 dioperasi dan sorenya dia udah gerak-gerak pengen angkat kaki. 



Bicara soal biaya memang cukup mahal, tapi mungkin ini juga tergantung dari rumah sakit dimana kita akan operasi. Kalau kemarin Guan dioperasi di RS Mitra Kelapa Gading oleh Dr. Yefta Moenajat dan untuk total biaya kalau sekitar 38 juta. Beruntung banget biayanya bisa dicover asuransi kantor suami. 


Untuk perawatan luka bekas operasi kita bener-bener engga dikasih obat apapun untuk dilukanya. Tapi memang untuk lukanya kita jaga untuk tetap kering dan ditutup oleh kain kasa dan elastumol. Recoverynya memang cukup lama bisa sampai 3 bulan.

Nah itulah pengalaman aku ketika menghadapi Hemangioma pada anak. Jadi aku sarankan kalau memang ada sesuatu yang aneh atau benjolan yang muncul di tubuh anak kita lebih baik kita langsung periksa ke dokter ya Moms. 














#3 Tidak Mudah untuk Bilang "Aku Gak Apa-Apa" Tapi "Gak Apa-Apa"


TARIK NAFAS!!!! Lalu, keluarkan ... TARIK NAFAS!!!! Dan keluarkan. Selanjutnya, terimalah rasa yang sedang kita alami saat ini, detik ini, ketika kalian membaca tulisan ini. Jangan ditolak! Terima saja dengan kerendahan hati yang paling tulus untuk menerima ya. Lalu, TARIK NAFAS kembali dan terima lagi semua rasa yang ada. 

Entah kenapa, aku tidak sepakat dengan orang-orang yang mengkampanyekan slogan, "Kamu itu harus kuat! Kamu itu harus bahagia! Kamu itu harus sukses! Kamu itu harus jagoan!" dan keharusan-keharusan lainnya yang sebenarnya malah menjadi beban kan? Ngerasa engga sih kalau kita dituntut sama lingkungan bahkan mungkin oleh orang terdekat kita untuk menjadi SUPERMAN dalam hidup ini? 

Oke, aku paham mungkin bagi sebagian orang kalimat-kalimat tersebut digunakan untuk menjadi "positif vibes" ketika kehidupan sedang merasa tidak "asyik". Tapi, semakin kesini aku sadar bahwa ternyata hal yang tak kalah penting adalah "menerima" hal tersebut terlebih dahulu.


Kalau kamu mau nangis, boleh kok! Kamu berhak buat sedih karena kamu bukan robot. Jangan karena kata orang lain kalau yang nangis itu lemah terus kamu malah depend terhadap kesedihan tersebut yang pada akhirnya membuat kamu memiliki banyak beban karena banyak uneg-uneg yang harus ditahan. Ingat, kamu bukan robot yang tidak punya perasaan dan lurus-lurus aja ya. 
Mau teriak? boleh kok! Siapa yang ngelarang? Coba minta izin untuk cuti lalu pergi ke suatu tempat dimana kamu bisa teriak sepuasnya. Ingat ya, marah boleh tapi aku tetap ingatkan bahwa kemarahan kita jangan pernah menyakiti siapapun. Karena tujuan disininya 
Rasa kecewa itu emang enggak enak. Tapi bagaimana pun itu adalah salah satu rasa yang memang sudah ada di dunia ini, apa boleh dikata kan? Jangan menolak kekecewaan itu, terima saja resapi dan selanjutnya belajar untuk tidak pernah berharap pada siapa pun kecuali pada Tuhan. Setuju? 
Katanya jangan mengeluh! Cupu! Lah, lalu kita harus selalu ceria setiap saat? Lingkungan kadang kejam juga emang, menjudge bahwa yang sering mengeluh memiliki mental cupu katanya, padahal kita tidak pernah tahu juga kan seberapa banyak kegagalan / rasa sakit yang diterima hingga pada akhirnya mengeluh. 
Ingat, jangan sampai kita terlalu rajin memberi makan ekspektasi lingkungan terhadap kita lalu lupa untuk memberi makan ketenangan diri kita sendiri. Mulai saat ini, belajar lah untuk tidak pernah menggantungkan hidup kita kepada orang lain. 

Tidak mudah untuk bilang, "Aku gak apa-apa," tapi serius gak apa-apa! 


#2 Agar Jadi WorkingMoms yang Tetap Waras

Dokumentasi Pribadi

Suatu hari aku melihat unggahan instastory salah satu teman yang sudah melahirkan sejak 3 bulan yang lalu. Isinya mengatakan bahwa dia RESIGN dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Sontak aku kaget, sebab dia sama sekali tidak menujukkan tanda-tanda akan resign sebelumnya. Lalu, karena penasaran aku tanya, alasannya yaitu, "Aku gila, kerja ampir 24 jam, aku mending resign biar tetap waras!" begitu katanya. 

Jauh ke belakang, salah satu mentorku selama bekerja di perusahaan memutuskan resign. Tidak ada pemikiran sama sekali bahwa dia akan resign karena dari segi jarak rumah ke kantor sangat dekat, segi jabatan sudah tinggi, tentunya relate dengan penghasilan, tapi akhirnya dia memutuskan untuk resign. Alasannya? Selain karena memang ingin hidup lebih "tenang" pertimbangan kehamilan dimana nantinya dia ingin fokus merawat anaknya. 

Moms, apakah keputusan tersebut salah? TIDAK! Masing-masing memiliki pilihan dan tentunya sudah paham konsekuensi yang akan diterima. Senior saya berkata, "Paling yang bakal gue berusaha gak terbiasa itu punya duit sendiri, nanti gue bakal tergantung sama laki gue," katanya begitu. 

Aku yakin setiap Moms sudah memikirkan keputusan apakah akan tetap bekerja atau resign setelah cuti melahirkan dengan sangat baik. Pasti Moms juga sudah banyak diskusi dengan orangtua, teman, sahabat bahkan atasan di kantor. Tapi, balik lagi yang paling tahu dan paham apa yang dibutuhkan adalah kita sendiri Moms. 

Lalu, apakah menjadi #Workingmoms adalah beban? Awalnya, bisa jadi iya, karena Moms harus terbiasa dengan rutinitas yang tidak biasa. Tapi, lambat laun Moms akan paham bahwa lelah yang dirasakan ini adalah usaha agar masa depan anak kita terjamin kelak. 

Nah, aku merefleksikan hal ini dengan kondisiku sekarang. Aku tinggal di Depok dan bekerja di Tangerang. Jauh kan? JELAS! Setiap pagi aku mengantarkan anakku terlebih dahulu ke rumah mertua di Pasar Rebo lalu naik bis ke Tangerang, itu sekitar jam 6 pagi. 

Pulangnya aku sampai di pool bis sekitar jam 7 sampai jam setengah 8, aku menjemput anakku terlebih dahulu dan kira-kira sampai di rumah jam 9 malam. Hal tersebut berulang kali setiap hari. Berbeda ketika ada Mamaku datang aku bisa sedikit tenang ketika berangkat kerja karena bisa berangkat jam 06.30 lalu pulangnya bisa langsung ke rumah dan sampai sekitar jam setengah 8. 

LELAH? Iya, tapi ketika pulang dan melihat wajah anakku, rasanya capek itu hilang. Tapi, lihat wajah bapaknya capek lagi hahah becanda ya Moms. Sumpah, ajaibnya ketika melihat anak kita tersenyum lebar rasanya hilang tuh lelah bekerja seharian. 

STRESS engga sih? Iya, ada masanya aku stress karena bingung mau ngerjain apa dulu. Aku nangis sendirian di kamar mandi. Bahkan pernah aku nangis bercucuran air mata sambil cuci piring kotor. Tapi, perlahan aku mencoba mulai menerima rutinitas ini. Apalagi ketika melihat wajah anakku, sebuah semangat selalu muncul setiap harinya, "Pokoknya gue harus kerja keras buat anak gue!". 

Nah, Moms aku punya tips agar jadi #workingmoms yang tetap waras! Yuk check it out!

CAPEK BUND? TARIK NAFAS & ISTIRAHAT YUK!


Menurutku sebenarnya #workingmoms itu masih bisa "waras" selagi lingkungan terdekat mendukung mereka. Karena tak jarang, justru yang membuat #workingmoms got stress itu bukan rutinitas dia sebagai mami & pekerjaannya, tapi karena lingkungan terdekat dia yang tidak bisa memperlakukan dia dengan baik. 

Lingkungan menuntut dia untuk bisa mencuci baju setelah lelah bekerja, lalu dituntut untuk memasak agar suami bisa makan, dan segala macam tuntutan-tuntutan lainnya yang membuat #workingmoms jadi stress sendiri. See, ada hubungannya dengan anak? Justru, anak menjadi penyemangat bagiku loh. Serius! 

Jadi, kalau aku got stress dengan lingkungan terdekatku yang kadang ngeselin banget aku mencoba untuk tarik nafas & istirahat. Istirahat disini aku habiskan dengan main bersama anakku, aku tidak memikirkan cucian kotor, piring berantakan, setrika menggunung, memasak buat suami dan lain-lain. Aku hanya fokus memberikan waktu untuk anakku, sesekali aku memejamkan mata namun tetap berada disamping anakku. Atau bahkan aku memutuskan tidur bersama anakku. 

JANGAN SUNGKAN MINTA TOLONG


Moms, aku pernah merasa sok kuat! Pontang-panting sendirian ngerjain dari A sampai Z, namun pada akhirnya aku menyerah juga. Pernah juga saking capeknya habis kerja & harus langsung beberes rumah aku nangis di dapur. 

Capek Moms? IYA BANGET! Makanya, aku memutuskan untuk bicara pada suamiku, bahwa aku belum bisa kuat untuk mengerjakan semuanya sendiri. Aku jelaskan juga bahwa kita sama-sama bekerja, cari uang, jadi kalau dia pusing & punya beban terhadap pekerjaan, aku pun sama. Sehingga, urusan rumah harus kita kerjakan bersama. 

Perlahan dia mulai ngerti meski aku harus teriak-teriak dulu baru dia bisa gerak. Katanya, dia dulu engga pernah pegang cucian kotor dll, ya kata ku sekarang kamu sudah menikah & wajib bantu istri kamu. Memang agak sulit sih Moms, tapi harusnya suami kita paham juga!

USAHAKAN MINTA  WAKTU "ME TIME"

Meskipun agak sulit, tapi ini wajib kamu minta ya Moms. Kamu berhak menikmati hal yang kamu sukai. Kalau kamu suka menulis, kamu minta waktu beberapa jam ketika di rumah untuk update tulisan di blog kamu. Kalau kamu suka masak, ya masak sekalian buat makan keluarga. Nah, terkadang aku menghabiskan waktu "me time" nya dengan main sama anakku, terus kita tidur bareng deh. Hahaha. 

Nah sekarang itu aku lagi coba untuk buka bisnis baju anak moms, jadi kayak urus-urus stok, packing pesanan jadi hiburan juga buat aku. Tapi, memang sih "me time" nya aku biasanya nulis di blog hehe.


JANGAN LUPA TERUS BERSYUKUR YA!

Terakhir, ini yang engga kalah penting ya Moms. Karena tentunya tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti yang aku dapatkan. Bagaimana pun aku harus tetap bersyukur mengenai apa yang sedang aku perjuangkan. Kini didalam otakku, aku berpikir untuk bekerja keras agar nanti anakku kerja engga keras-keras amat hehe. Pokoknya dia harus bahagia!



Mungkin memang klise ya Moms. Tapi, memang tidak mudah untuk menjadi #workingmoms! Disamping hal-hal yang bisa bikin capek secara fisik, pasti ada juga yang membuat kita capek secara psikis. Tapi percayalah apa yang kita perjuangkan hari ini adalah untuk mempersiapkan masa depan anak kita tercinta. 

Jangan pusing karena pertanyaan, "Gak kasian anaknya?" . Anak kita pasti paham kenapa kita masih harus tetap bekerja. Terakhir, peluk sayang untuk Moms semua. Kalian luar biasa!

Feb, 2021




#1 Jangan "Gagal" Mendidik Anak Laki-Laki

Dokumentasi Pribadi


Sebuah tulisan sederhana mengawali tahun 2021. Sebelumnya mohon digaris bawahi bahwa aku bukanlah parenting expert ya. Jadi, tulisan ini adalah buah dari hasil ngelamun dan juga baca-baca artikel. Selamat membaca ya Moms :)

Katanya anak laki-laki itu harus diajarkan untuk tegas, mandiri, punya jiwa kepemimpinan, dan lain-lain, pokoknya yang mengarah bahwa mereka harus punya super power nantinya, bener gak? Iya memang benar. Katanya juga biar nanti pas udah gede dia bisa jadi pria yang bertanggung jawab, bisa jadi pemimpin, dan sebagainya. 

Hal tersebut sama sekali tidak salah loh Moms. Hanya saja ternyata ada beberapa hal yang mungkin luput dari perhatian kita tentang apa saja sih yang diperlukan anak laki-laki untuk hidupnya kelak. 

Moms, suatu saat nanti anak laki-laki kita akan menikah dengan seorang perempuan. Mungkin, sebagian dari Moms bilang, duh jangan dulu dipikirin masih lama anakku baru 2 tahun, misalnya. Tapi tahu gak Moms hal ini harus kita tanamkan kepada anak laki-laki kita sejak kecil. Bukan untuk membuat mereka ahli dalam hal tersebut, tapi untuk menjadikan mereka laki-laki yang menghargai istrinya kelak. 

Apa sih hal-hal yang harus kita ajarkan kepada anak laki-laki kita? Menurutku, anak laki-laki harus diajarkan bagaimana cara mencuci piring agar bersih, bagaimana mengepel lantai agar bersih, bagaimana menyetrika baju, bagaimana mencuci baju, bagaimana cara membuat telur ceplok, dan pekerjaan-pekerjaan perempuan lainnya. 

Loh, kenapa Moms anak laki-laki harus diajarkan hal seperti itu? Itu kan pekerjaan perempuan, istrinya yang harus melakukan itu nanti. Tidak Moms! Menurutku anak laki-laki juga setidaknya harus tahu. Kenapa harus tahu? Agar dia nantinya bisa menghargai apa yang dilakukan oleh istrinya. Moms setuju? Aku harap iya.


Mari kita refleksi sedikit. Ada orangtua yang sangat memanjakan anak laki-lakinya, entah anak pertama, kedua, dan ketiga. Intinya ada perlakuan "memanjakan" seorang anak. Anaknya tidak pernah diajari bagaimana cara cuci piring karena punya mindset itu pekerjaan perempuan. Anaknya tidak diajarkan bagaimana nyuci baju, sapu lantai, ambil jemuran dan sebagainya. Malah kadang orangtuanya sendiri yang tidak memberikan kesempatan anak laki-lakinya untuk memegang cucian kotor. 

Banyak alasan yang membuat orangtua akhirnya tidak memberikan kesempatan pada anak laki-lakinya untuk tahu seperti apa piring kotor itu. Hingga ketika anak laki-lakinya tumbuh besar dan menikah dengan seorang perempuan, dia sama sekali tidak bisa membantu sang istri dalam urusan dapur. Dia cenderung acuh karena sejak kecil sudah tersetting bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah pekerjaan perempuan. 

Jadi Moms, menurutku sangat penting mengajarkan anak laki-laki kita pekerjaan-pekerjaan diatas. Agar ketika dia menikah nanti dia tidak hanya menjadi seorang laki-laki dengan figur kepemimpinan yang baik dalam keluarganya tetapi juga mampu menghargai pekerjaan-pekerjaan rumah istrinya. 

Hal sederhana ketika istrinya melahirkan, tentu belum bisa langsung mencuci baju, mengepel rumah, dan lain-lain sehingga dalam hal seperti itu dibutuhkan bantuan dari sang suami untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Anak laki-laki yang tahu bagaimana cara mencuci piring tentu tidak akan merasa masalah ketika harus mencuci piring bekas makanannya. 

Hal seperti itu akan menjadi bumbu dalam pernikahan mereka kelak. Jangan sampai kita menyiapkan anak laki-laki kita hanya untuk menjadi "Raja" yang kejam yang tidak tahu cara menghargai "Ratu"nya. 

Ingat ya Moms, perempuan yang nanti menjadi istri dari anak laki-laki kita merupakan anak perempuan yang dirawat dan dibesarkan dengan penuh cinta oleh kedua orangtuanya. Oleh kedua orangtuanya, anak perempuan tersebut adalah "Ratu" yang dengan segenap jiwa dan raga diperjuangkan agar selalu mendapatkan yang terbaik. Masa setelah menikah dengan anak laki-laki kita malah jadi babu. Jahat amat!

Bukan hal memalukan mengajarkan anak kita cara mencuci baju. Toh, bajunya dia juga yang akan dia pakai ketika bekerja. Tidak ada salahnya juga mengajarkan anak laki-laki kita untuk mencuci piring, toh piring itu yang akan dipakai bersama ketika malam dengan anak istrinya. 

Jangan sampai suatu saat ketika anak laki-laki menikah istrinya merasa terpuruk sendirian dengan pekerjaan yang bejibun sementara anak laki-laki kita malah ongkang-ongkang kaki sambil nonton youtube. 

Moms, semangat ya! Jangan sampai kita "gagal" mendidik anak laki-laki kita. 

Lalu, Kenapa Kalau Aku Lahiran Sesar?

Dokumentasi Pribadi

Masih banyak yang selalu membandingkan dan menjurus pada sebuah pernyataan bahwa Mama yang melahirkan sesar itu belum menjadi perempuan yang seutuhnya. Halow? Coba lihat wajah aku dan kalian semua harus minta maaf. Kenapa harus minta maaf? Karena pernyataan itu sudah melukai ribuan bahkan jutaan Mama-Mama keren di dunia ini yang sudah berjuang melahirkan anaknya dengan cara operasi sesar. 

Lalu, kenapa kalau aku lahiran sesar? Apa kontribusi kalian dalam kehidupanku ketika menganggap bahwa aku gagal menjadi perempuan seutuhnya karena melahirkan sesar? Jelas tidak ada kan? Lalu, kenapa sibuk memikirkan kehidupanku dan Mama lainnya yang memutuskan untuk melahirkan secara sesar? 

Sering kali aku mendengar cerita bahwa Mama yang baru melahirkan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, bahkan dari keluarga sendiri ketika mereka melahirkan sesar. Jelas, menurutku ini adalah sebuah perilaku yang salah. Hal tersebut tentu akan melukai hati Mama yang baru saja berjuang untuk melahirkan sang anak. 

Untuk kalian yang masih menganggap bahwa Mama yang melahirkan sesar belum menjadi perempuan seutuhnya, kalian tidak pernah tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, lalu kalian memberikan asumsi seolah-olah menjadi yang paling tahu, setelah itu judge kami karena kalian berhasil melahirkan secara normal sedangkan kami tidak.

Mari kita sama-sama introspeksi, siapa sih yang tidak ingin melahirkan secara normal? Jelas, lahiran normal jauh lebih murah, kan? Ya betul! Itu pula yang menjadi alasan kenapa aku ingin melahirkan secara normal, tapi ada satu atau dua kondisi yang menyebabkan seorang Mama harus melahirkan secara sesar, dan aku yakin keputusan tersebut sudah berdasarkan hasil pikiran yang matang, benar tidak?

Beberapa dari kita boleh berbangga karena berhasil melahirkan secara normal, cukup itu saja, jangan ditambahkan dengan merendahkan Mama yang lain yang melahirkan secara sesar. Sungguh, bagiku tidak pernah ada yang salah atas keputusan akan hal tersebut. Yang salah adalah mereka yang menggunakan mulutnya untuk menjelek-jelekkan, merendahkan dengan jahatnya bahwa Mama yang melahirkan dengan cara sesar belum menjadi perempuan seutuhnya. 

Perkara soal resiko, baik itu normal maupun sesar sama-sama memiliki resiko. Kalian pikir perut disayat berkali-kali itu tidak menimbulkan sakit? Tidak! Iya ketika obat bius masih ada, tapi ketika obat bius perlahan mulai hilang, rasa sakit itu membuat Mama terpaksa membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat terlebih dahulu. 

Sementara, Mama harus segera belajar bergerak ke kanan kiri karena bayi harus segera disusui. Keesokan harinya ketika selang keteter udah dicabut, Mama harus belajar berdiri agar bisa BAK di kamar mandi. Rasanya gimana? Ngilu! Sumpah ngilu dan enggak bohong. 

Jadi, buat kalian yang di dalam pikirannya masih terpatri bahwa Mama yang lahiran normal sempurna sedangkan sesar tidak sempurna, sungguh kalian jahat! Kenapa jahat? Karena sangat tidak berhak bagi kalian untuk membandingkan sebuah proses yang sama-sama berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan. 

Lalu, masih ada juga Mama yang berhasil melahirkan normal, yaa kalian boleh berbangga, tapi cukup berbangga saja jangan sampai ada kalimat tambahan yang menjurus bahwa kami yang melahirkan secara sesar belum menjadi perempuan yang seutuhnya. 

Marilah untuk saling menghargai, melihat dari berbagai sisi dan juga melihat dengan pikiran terbuka sebuah konsep tentang cara melahirkan itu sendiri. Dengan cara apapun seorang anak lahir ke dunia tentu hal tersebut adalah sebuah bahagia bagi kedua orangtuanya. Perkara soal mempertaruhkan jiwa dan raga memang itu sudah menjadi bagian seorang Mama, dengan cara apa pun Mama melahirkan buah hati ke dunianya, itu adalah cara terbaik yang sudah menjadi ketetapan-Nya. 

Via Mardiana/29 November 2020

Aku Menikah Bukan dengan Orang Kaya

"Capek rasanya! Kalau lihat orang lain, engga perlu tuh capek-capek kerja. Tinggal nunggu suaminya gajian dapet deh uang buat beli tas mahal, baju branded, makanan kesukaan, dll. Ah, seandainya gue nikah sama orang kaya!"

"Lelah rasanya, orang lain dibantu sama istri buat menopang perekonomian keluarga. Ini, gue sendiri yang harus pontang panting. Memang ini tanggung jawab gue sih sebagai suami, tapi kan kalau istri gue juga kerja gue enggak akan secapek ini. Seandainya gue nikah sama orang kaya!"

Pertanyaannya! Apakah jika kamu menikah dengan orang kaya, kamu mau apa? Mau beli jet pribadi? Mau beli cincin berlian? Ups, engga nyambung ya. Eh tapi ini seriusan, kalau kamu menikah dengan orang kaya, kamu mau apa? 

Aku menikah bukan dengan orang kaya! Tampaknya kalimat ini bisa jadi seperti sedang merendahkan pasangan kita atau bisa juga seperti ungkapan kecewa karena sudah menikah dengan orang biasa saja, bukan dengan orang kaya. Benar tidak? Apa aku salah? Oke, lanjutkan membaca!

Kamu melihat temanmu di usia 26 tahun sudah punya rumah sendiri, rumahnya 2 tingkat, ada garasi yang luas dan cukup untuk 2 mobil. Lalu, di dalam rumahnya ada ruang tamu dan ruang keluarga yang berbeda. Ada lahan luas dibelakang rumah yang bisa dijadikan tempat untuk bersantai di hari libur. 

Lalu, kamu bandingkan dengan kehidupanmu sekarang. Rumah masih ngontrak, ya ada mobil, tapi masih mobil jadul, masih untung bisa jalan, sehingga kamu gak harus kepanasan atau kehujanan. Kalau ada tamu blas masuk ke ruang keluarga, karena engga punya ruang tamu, dari sana bisa keliatan lokasi kamar mandi kamu, dapur kamu, dan kalau lupa nutup pintu, tamu bisa lihat isi kamar kamu. Jangankan lahan luas di belakang, buat jemur baju aja susah. 

Kalau kamu sadar, barangkali kamu memang sering membandingkan kehidupanmu dengan orang lain. Ya, seperti dengan Nia Ramadani atau Momo Geisha yang setelah menikah dengan pengusaha kaya, kekayaannya berlimpah ruah, sepertinya mau apa saja bisa, engga perlu pusing soal uang karena udah ada banyak. Bener gak? Ya, enggak apa-apa kok, sesekali membandingkan kehidupan kita untuk dijadikan referensi tidak masalah. 

Toh yang jadi masalah adalah karena keterusan ngebandingin jadi lupa tuh sama tugas buat growing up diri sendiri. Itu kan yang bahaya? Ya kan? Nah, sekarang banyak sekali pasangan muda yang menyerah di awal pernikahan karena ternyata pasangan yang diharapkan bisa memberikan apapun tidak bisa diharapkan. Ya, kalau satu doang yang capek susah. Mau bahagia bersama? Ya berjuang berdua dong, jangan cuma istrinya aja atau suaminya aja. 

Ada banyak hal sederhana yang selalu lupa kita syukuri. Kadang, kita terlalu melihat ke atas hingga sering kali tersandung dan akhirnya terjatuh. Lalu, setelah terjatuh bukan introspeksi diri tapi menyalahkan keadaan. Kadang kita angkuh tidak mau disebut punya mental pengecut, iya kan? Kalau lagi pusing sama kerjaan, nyalahin pasangan yang enggak kerja, nyalahin pasangan yang katanya engga ngertiin kalau lagi pusing. Bener gak nih? Jawab dulu!

Jangan munafik deh, kita semua butuh uang kok buat hidup. Kita semua pengen kok jadi orang kaya, ya kan? ya kalau mau usaha dong! Ingat ya, nikah bukan solusi jitu untuk menjadi tiba-tiba kaya ya. Iya sih, ini memang terjadi pada beberapa orang di dunia ini. Tapi, poin pentingnya adalah "USAHA"! Kalau enggak usaha ya mana bisa. 

Sekarang kalau konteksnya sudah menikah gimana? Aku tahu pasti sebelum menikah kalian sudah tahu lah bagaimana keuangan pasangan kalian. Ingat ya, keuangan pasangan kalian, bukan keuangan keluarganya. Kecuali kalian udah tahu tuh kekayaan keluarganya akan ngucur 100% ke pasangan kalian. Haha. 

Aku menikah bukan dengan orang kaya! Ya, tidak apa-apa toh jalan masih panjang dan kalian masih bisa banyak melakukan hal untuk menciptakan cuan. Setuju? Ya kalau kerjanya cuma ngandelin salah satu susah broh/sist! Kalian harus kerja sama. Jangan si istri doang yang capek, atau si suami doang yang capek. Hal kayak gini kalau engga di manage dengan baik ya, dijamin deh bakal bikin masing-masing sudah berkorban banyak tapi engga dihargai sama pasangannya yang akhirnya menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Jangan sampai ya!

Yah, kalau kalian sekarang menikah bukan dengan orang kaya, ya enggak apa-apa, kan sudah menikah? Memang bisa tiba-tiba engga jadi? Kan engga mungkin. Tapi, kalau kalian punya pasangan yang mau diajak growing up bersama, itu yang bakal jadi awal mula "si kaya" itu ada. Kalau kamu nikah sama orang kaya, tapi kamu engga bisa mengelola keuangan, ya ambyar!

Kalau kamu sekarang menikah bukan dengan orang kaya, tenang, kalian bisa growing up bareng. Memulai dari nol bersama-sama, membuat bisnis yang membuat kehidupan keluarga kecil kalian lebih "bersinar". Jangan patah sebelum berjuang. Banyak kok pasangan-pasangan yang dulunya have nothing jadi have everything, itu semua dijalani dengan usaha yang keras dan juga cerdas. Dua-duanya mau fight buat mewujudkan cita-cita bersama. 

Tulisan ini aku dedikasikan untuk pasangan-pasangan muda yang sedang berjuang untuk sebuah kebebasan financial. Guys, dont worry setiap orang memiliki kesempatan yang sama tinggal kita lebih keras dalam berusaha. Habis baca ini jangan lupa cium istri atau suami kamu ya, lalu bilang, "Sayang, ayo kita berusaha, biar nanti calon menantu kita bisa bilang AKU MENIKAH DENGAN ORANG KAYA" hehehe. 

Salam,

Via Mardiana/06112020


Ini Caraku Bangkit dari Baby Blues

Dokumentasi Pribadi

Ketika menuju akhir masa kehamilan aku memang titip pesan berkali-kali kepada suamiku untuk tetap temani aku dalam berbagai kondisi setelah melahirkan. Hal ini aku ulang berkali-kali untuk memastikan bahwa dia paham kenapa aku sengotot itu untuk mengingatkannya akan hal itu. 

Banyak cerita yang aku baca mengenai pengalaman seorang perempuan setelah mereka melahirkan. Yang paling banyak mereka mengalami baby blues dan kupastikan ceritanya sangat menyedihkan. Kenapa aku ngotot baca? Karena aku ingin belajar bagaimana cara mereka bangkit dari keterpurukan sehabis melahirkan. 

Tidak ada jaminan seorang perempuan tidak akan terkena baby blues. Jadi, bisa saja aku mengalaminya, apalagi ini anak pertama. Perubahan yang terjadi pada tubuhku dan tentunya lingkungan tentu membutuhkan adaptasi yang tidak biasa. Akan ada effort lebih untuk beradaptasi dalam kondisi tersebut. 

Apa itu baby blues? Aku mengutip sebuah definisi tentang baby blues di bawah ini : 
Merasa lelah, sedih, dan khawatir merupakan gejala baby blues syndrome yang banyak dialami ibu setelah melahirkan. Sindrom ini tergolong ringan, jika dibandingkan dengan depresi pasca melahirkan (postpartum depression) yang juga dapat mengancam ibu setelah melahirkan.(Sumber : alodokter)

Tanggal 24 Juli 2020 malam, tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang tidak seperti biasanya. Waktu itu, aku dan suami masih menunggu anak kami diobservasi. Ada perasaan sedih yang benar-benar membuatku sesak, tanpa bisa ditahan lagi malam itu aku menangis. Suamiku jelas kebingungan dengan apa yang terjadi, lalu dia mencoba menenangkanku. 

Tampaknya suamiku sudah mulai paham apa yang terjadi padaku. Dia terus mencoba menenangkan dan menceritakan hal-hal yang membuatku bahagia biasanya, tapi usahanya gagal. Aku masih terus menangis dengan perasaan sedih yang berkecamuk. Entahlah, terbesit sepertinya aku berdosa sama suamiku. 

Lalu, ketika anak kami datang aku mencoba untuk menyusuinya. Yang aku rasakan ketika pertama kali menyusui adalah sakit yang luar biasa, sementara aku melihat anakku menangis karena ingin menyusui. Dini hari, aku kembali menangis menahan rasa sakit dan juga seperti ada perasaan bersalah pada suamiku. Entahlah, pokoknya rasanya campur aduk sumpah!

Sampai aku bilang pada suamiku, "Yang, apa ini karena aku enggak nurut ya?" kataku. Suamiku kembali menenangkan. Aku akui aja, memang aku istri yang agak "bandel", maksudnya bukan kearah negatif ya, tapi karena ketika diskusi terkadang aku memiliki pendapat sendiri dan seringkali ngotot-ngototan dengan suamiku. Ah pokoknya semua muncul di dalam kepala. 

Hampir tiap malam aku menangis, entah karena menahan sakit akibat puting yang lecet atau karena perasaan sedih yang tiba-tiba datang. Sampai-sampai setiap kali menangis aku minta maaf pada suamiku kalau-kalau aku ada salah. Karena gimana ya, aku pun sulit mengungkapkan apa yang aku rasakan. Perasaan sedih ini benar-benar menguasai diriku. 

Kalau mau di explain ya, aku bener-bener menderita dengan perasaan itu, sedih, khawatir, lalu setiap melihat wajah anakku, aku malah menangis, takut enggak bisa jadi orangtua yang baik, dan segala macam kekhawatiran lainnya. 

Beruntung sekali aku punya suami yang paham dengan apa yang aku rasakan. Pas awal-awal melahirkan dia sangat support aku untuk bangkit dan juga bantuin aku dalam urusan anak kita. Yang membuat aku menderita ya, tiap kali aku melihat wajah anakku, aku sedih dan ketakutan. Bahkan suatu ketika, aku meminta Mama untuk pegang anakku dulu karena aku takut menyakiti anakku. 

Nah, apa sih yang harus kita lakukan agar bisa segera bangkit dari baby blues? 

Minta bantuan suami atau orang tua ketika tubuh merasa lelah
 
Mungkin ini alasannya kenapa ketika setelah melahirkan kita sangat tenang jika ada orangtua. Ya, benar. Keberadaan orangtua disamping menenangkan hati kita, juga dapat diandalkan dalam hal meminta bantuan. 

Ingat ya jangan sungkan untuk minta tolong pada suami atau orangtua kita ketika lagi kondisi setelah melahirkan, itu wajar kok. Hal tersebut sama sekali tidak membuat kamu akan dicap manja atau hal-hal jelek lainnya. 

Tubuh kamu pun perlu istirahat, jadi meminta bantuan untuk beberapa jam beristirahat jelas tidak masalah. Trust me!

Bercerita kepada suami / orang tua / teman yang dipercaya 

Apa yang aku rasakan ketika baby blues? Jawabannya sedih! Perasaan sedih yang rasanya bener-bener mengelilingi tubuhku. Utarakan lah yang kamu rasakan pada orang yang kamu percayai untuk diajak bercerita. Ingat ya jangan dipendam sendiri, kamu harus berbagi resah dan kesedihan setelah melahirkan kepada suami kamu. 

Ingat bahwa menjadi seorang Mama adalah anugerah 

Diluar sana masih ada perempuan yang harus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Nah, saat ini tentu Tuhan percaya sama kamu untuk merawat si buah hati. Ingat, menjadi Mama adalah anugerah. Melihat si kecil tumbuh adalah kebanggan bagi Mama diseluruh dunia, percayalah! Tanamkan dalam hati kita bahwa "aku bisa menjadi Mama terbaik bagi anakku". 

Mencari hiburan agar tidak stress

Meskipun kamu sudah punya anak bukan berarti kamu tidak bisa hiburan ya. Kamu berhak meminta me time kepada suamimu. Mintalah dia untuk menjaga anakmu sebentar, sementara kamu bisa berendam atau menjalankan hobi kamu. Hal ini sangat penting untuk mengalihkan perhatianmu dari rasa sedih atau rasa bersalah.

Kalau kamu ingin nangis, menangislah!

Ini menurut aku sangat penting. Jangan ditahan jika ingin menangis ya, keluarin aja semua unek-unek. Tutup kamar nangis sejadi-jadinya tidak masalah. Karena habis itu pasti akan merasa lega.

Ingat ya Moms, dalam kondisi seperti ini kamu harus memiliki "teman" untuk bercerita. Waktu dulu aku menempatkan suamiku sebagai temanku untuk bercerita. Apapun yang aku rasakan aku akan bicara pada suamiku. Positif vibes dari suami sangat berpengaruh dalam kebangkitanku dari baby blues ini. 

I know Moms, baby blues itu enggak enak jadi yuk kita bangkit karena ada anak kita yang lucu yang menunggu kita untuk tersenyum ketika melihatnya. 

Baby blues are real! But we can solve it, Mom!