Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Tanggapan Gue Tentang Sexy Killers

Sumber : http://jateng.tribunnews.com
Honestly, gue yang cupu ini baru tahu loh kalau ada si sexy killers ini. Dengan polosnya dalam hati gue kira ini adalah film dibioskop (ini engga bohong beneran). Nah, tadi gue iseng-iseng lihat videonya kebetulan muncul pas gue buka youtube. Gue klik lah dan gue tonton itu video (belum selesai ya guys). 

Nah, lalu gimana tanggapan gue? 

Begini guys, reaksi pertama gue ketika melihat video tersebut engga kaget. Kenapa kok engga kaget? Zaman kuliah dulu gue sering banget sharing sama orang-orang yang emang concern dibidang lingkungan dan gue 'copy' terhadap permasalahan lingkungan yang ada. Satu titik kadang gue ngeri sendiri gimana kalau engga ada tumbuhan, gimana kalau engga ada air, dll. Intinya, ketika gue nonton video ini gue engga kaget karena emang sering merasa 'pilu' sejak dulu tentang permasalahan lingkungan di Indonesia. 

Gue engga mau bahas gimana hal tersebut memiliki ikatan yang kuat dengan elite politik dll, gue yakin itu pasti udah banyak juga yang bahas. Tapi, kali ini gue pengen sharing aja tentang tanggapan gue ketika gue menonton film ini. Nah, sebelumnya kalian harus tahu dulu, gue bukan siapa-siapa, bukan pakar lingkungan, bukan caleg, atau pihak yang berafiliasi dengan pihak manapun, gue berbicara sebagai pribadi atas nama gue sendiri. 

Oke mulai ya! 

Gue lihat banyak temen-temen gue yang update instastory perihal responnya tentang video sexy killers. Responnya emang macem-macem, ada yang katanya sedih, kesel, pengen golput aja, marah, dll. Ada juga yang tetap positif dengan menanggapinya sebagai reminder untuk hemat dalam menggunakan listrik, jangan golput, dll. Setiap orang punay respon sendiri. Nah, gimana sebenarnya respon gue?

Honestly, gue orangnya melow banget urusan kayak gini. Meskipun belum pernah menjadi masyarakat yang hidup dalam permasalahan lingkungan secara langsung gini gue suka worry dan sedih sendiri. Gue membayangkan memposisikan diri gue sebagai mereka. Gimana ternyata 'perlawanan' mereka yang sebenarnya memperjuangkan hak mereka eh malah dipenjara. Gimana ternyata hasil dari polusi yang ada menjadi penyakit yang mengerikan. Gimana ternyata kehidupan menjadi sangat berubah ketika perusahaan tambang itu datang. 

Sedih engga sih? Banget. Tapi, lebih ke kayak memaki diri sendiri. Gue udah berbuat apa ya buat negara ini? Kecewa boleh kok sama pemerintah, tapi dalam hati, apa aja yang udah gue kasih buat Indonesia. Mungkin diantara kalian akan ada yang bilang, "Sok nasionalis lo!" dan sebenernya komentar-komentar yang kayak gitu yang membuat kita jadi memiliki sifat apatis sama kondisi negeri ini. Ketika yang 'melek' permasalahan negeri ini dikatakan 'sok nasionalis' disitu pula benih-benih apatis akan muncul. Itu yang harus dicegah.

Guys, permasalahan dinegeri ini sangat banyak. Kita tidak bisa berpangku tangan menunggu tindak lanjut dari pemerintah. Kita sendiri yang harus membuat perubahan. Masyarakat harus melek terhadap kehidupannya. Masyarakat harus melek untuk berani memperjuangkan hak-haknya. Buat kalian yang habis nonton ini memutuskan untuk golput, coba deh dipikirkan lagi. Jika kalian semakin apatis terhadap negeri ini, siapa lagi yang akan peduli?

Guys, gue pernah loh nangis sendirian membayangkan gimana kalau tiba-tiba air habis terus kita rebutan hanya untuk segelas air yang dizaman sekarang bisa lo buang-buang seenaknya. Nah, engga ada gunanya kecewa terlalu lama, engga ada gunanya sedih terlalu lama, yuk mulai berbenah, buatlah sesuatu yang baik, berkontribusilah sedikitnya untuk negeri ini. Jangan hanya numpang hidup saja, tapi juga harus aware terhadap permasalahan yang ada. 

Ikut serta mengawal pemerintahan. Berani menyuarakan apa yang menjadi kekeliruan. Berani berbuat baik. Berani melawan kesewenang-wenangan. Hidup tak hanya soal urusan pribadi guys. Negeri ini juga butuh kita. Apalagi sebagai generasi muda dimana 10 tahun yang akan datang tampuk kekuasaan ada ditangan ditangan kita. Menertawakan mereka yang melenggang jadi anggota dewan tanpa kredibilitas yang mumpuni memang hiburan, tapi tak ada gunanya juga jika kita pun tidak memberikan kontribusi yang positif. 

Jadi yuk mulai aware sama Indonesia! Jangan apatis ya :) 


4 Pertanyaan yang Wajib Kamu Jawab Agar Tidak Salah Ketika Berjuang

https://mix.com/
Kerja keras selagi masih muda memang dianjurkan. Tak jarang, beberapa orang bahkan sudah sukses diusia muda dengan banyak bisnis. Sayangnya, terkadang dari kita ada yang bekerja dengan sangat keras sampai lupa waktu. Tiap hari pulang dari kantor pukul 11 malam, tidak ada waktu untuk bercengkerama dengan keluarga, esok harinya bangun dalam keadaan lelah dan sakit karena tidak makan seharian.
Jika kamu sedang merasa lelah mengenai rutinitas yang saat ini sedang dilakukan, maka kamu wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ya guys!

Apakah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang kamu cari?

http://staceyalickman.com/

Guys, pernah mengalami kerja sampai pulang larut malam? Ketika rekan kerjamu sudah pulang ke rumahnya masing-masing, kamu masih harus kerja di kantor sendirian. Melototin laptop sampai engga kerasa matamu mengeluarkan air tanda kelelahan.
Untuk menyemangati diri mungkin kamu akan berkata bahwa ini adalah bagian dari perjuangan. Tapi, guys haruskah kamu mengorbankan waktu istirahat semalaman? Lantas, apakah semua kelelahan ini yang sebenarnya kamu cari? Coba tanyakan pada hatimu sekarang. Karena jika ternyata hal itu bukanlah apa yang kamu cari berarti kamu salah dalam berjuang.

Apakah pekerjaanmu saat ini hanya menjadi beban?

https://www.cantika.com
Guys, tanyakan pada diri kamu apakah pekerjaan saat ini adalah beban? Jika kamu menjawab hal tersebut adalah beban maka sampai kapanpun hal itu akan menjadi beban. Yang namanya beban pasti akan memberatkan. Kamu yakin akan hidup penuh beban?
Guys di luar sana banyak orang-orang sedang tertawa lepas menikmati hidup. Berlarian di padang rumput, memberi makan sapi-sapi peliharaannya yang tumbuh besar, menjaga bunga-bunga di kebunnya, ataupun travelling ke seluruh dunia. Yakin masih mau menerima beban sepanjang kehidupan?

Apakah pekerjaanmu saat ini menjadikanmu lebih baik?

https://www.investorsgroup.com
Guys, ketika kamu memperjuangkan sesuatu maka wajar kamu berekspektasi menjadi lebih baik. Seperti ketika kamu berjuang belajar sepeda maka kamu berekspektasi bisa mengendarai sepeda pada akhirnya. Hal ini pun berlaku dalam pekerjaan. Apakah pekerjaanmu saat ini membuatmu lebih baik? Jika iya maka kamu patut bersyukur. Tapi jika tidak maka kamu harus waspada. Pekerjaan yang tidak membuatmu menjadi lebih baik setiap harinya bukanlah pekerjaan yang tepat bagi kamu. Jika pekerjaanmu saat ini membuat hidup kamu tidak karuan, jadwal tidur acak-acakan, atau ritme kehidupan kamu jadi makan buruk sepertinya kamu harus berpikir ulang.

Apakah pekerjaanmu saat ini membuatmu jauh dari orang-orang tersayang?

https://www.cbhs.com.au

Guys, pertanyaan terakhir apakah pekerjaanmu saat ini menjauhkan kamu dari orang-orang tersayang? Begini, jauh bukan arti jarak yang sebenarnya yah. Karena bisa saja pekerjaanmu keluar kota sekali dalam seminggu namun setelah itu kamu selalu meluangkan waktu untuk keluarga di rumah. Tentunya hal tersebut tidak masalah. Beda halnya ketika pekerjaanmu yang tidak harus keluar kota, tapi kamu pergi kerja pukul 7 pagi pulang pukul 10 malam.
Jangankan untuk menemani anak mengerjakan pekerjaan rumah, kamu sampai ke rumah pun anakmu sudah tertidur lelap. Jangankan memperhatika pasangan, memperhatikan diri kamu sendiri aja bahkan kamu tidak bisa. Miris bukan?
Gimana? Udah punya jawabannya? Guys, kerja keras memang harus tapi kita tidak bisa mengorbankan diri kita seutuhnya. Bekerja dengan cerdas jauh lebih baik daripada kamu harus mengorbankan apa yang kamu miliki hari ini termasuk keluargamu. Hidup hanya satu kali, kamu berhak untuk bahagia loh!

#RefleksiVia : Masalah Selesai Ketika Dihadapi, Bukan Ketika Dihindari

https://nexusbusiness.com
Namanya manusia pasti engga luput dari masalah. Baik masalah yang datang dari dalam diri mereka maupun masalah yang datang akibat hubungannya dengan manusia lainnya. Namun, hidup tanpa masalah juga pasti akan hambar. Masalah datang untuk menjadikan manusia belajar dan lebih baik dari sebelumnya. 

Ada orang yang ketika mendapatkan masalah memilih untuk menghindari. Artinya, dia melakukan cara agar tidak bertemu dengan masalah tersebut yang sebenarnya secara logika masalah tersebut pasti akan datang kepadanya meski dia menghindari dengan berbagai cara. 

Ada orang yang ketika mendapatkan masalah memilih untuk menghadapinya. Suka tidak suka, kuat tidak kuat, dengan percaya diri dia menghadapi masalah tersebut. Meski sebenarnya dia belum tahu cara penyelesaiannya, tapi dia menerima masalah tersebut dan segera mencari jalan keluarnya. 

Respon manusia ketika menerima masalah pun berbeda-beda. Ada yang masih tenang dan bisa berpikir jernih, ada juga yang langsung berubah 180 derajat menjadi emosian. Orang-orang yang tidak bersalah disekelilingnya pun kena imbasnya. Hubungannya dengan orang lain menjadi tidak baik karena dia sendiri yang emosian. 

Guys! Engga ada masalah yang engga ada solusinya, tapi hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menghadapinya bukan menghindarinya. Bagaimana pun juga, mungkin ini sudah jalan Tuhan memberikan masalah tersebut kepada kita. Lalu, mengapa khawatir tidak kuat menerima masalah tersebut? Jelas-jelas Tuhan memberikan informasi awal bahwa tidak akan memberikan masalah diluar batas kemampuan manusia. Artinya, Tuhan juga sudah percaya dengan kita. 

Bagi kalian yang berubah menjadi emosi ketika mendapatkan masalah lebih  baik cepat bertaubat, sebab kalian bisa menyesal kemudian. Emosi sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Emosi hanya akan membuat masalah baru yang akan membuatmu semakin pusing tidak karuan.

Jadi, hadapilah masalah yang ada saat ini dengan lapang dada. Percaya bahwa masalah sebesar apapun pasti ada jalan keluarnya. Tidak perlu takut tidak ada jalan keluar. Tetaplah berpikiran jernih agar dihasilkan solusi bukan malah emosi dan menghasilkan masalah baru. 

Jakarta, 7 Maret 2019


Jenuh itu Biasa, Terima Aja Dulu

Sumber : google.com

Tulisan ini aku tulis pas udah lagi bener, semoga aja emang terus bener engga konslet-konslet lagi. Kali ini aku pengen bahas tentang satu kata, 'JENUH' cuman aku garis bawahi dulu yah, ini jenuh dalam konteks kerjaan, mungkin akan berbeda pembahasannya jika bicara soal jenuh yang lain.

Here the story, guys :)

Beberapa temanku selalu cerita tentang kenejuhan mereka ketika bekerja, kerjaan yang numpuk engga berhenti-berhenti, tekanan dari bos yang kadang engga mau terima kesulitannya pokoknya tahu beresnya aja, rutinitas tiap pagi pergi harus balik jam 10 malam karena lembur, dan kejenuhan-kejenuhan lainnya.

Aku pun sama mengalami kejenuhan secara periodik, ini sangat parah sih kalau menurutku karena dalam sebulan aku pasti mengalami kejenuhan ini.

Aku suka sama pekerjaan saat ini?
Jawabanku : suka banget.

Apakah ada pressure yang tinggi dalam kerjaanku saat ini?
Jawabanku : biasa aja. semuanya bisa ku handle dengan baik.

Ini bukan sombong yah, tapi memang begitulah keadaannya.

Aku butuh tantangan lagi?
Jawabanku : boleh dan emang mau banget sih.

Kenapa sih?
Jawabannya : biar aku terus belajar, engga stagnan di zona nyaman. karena bagi orang sepertiku kelamaan ada di zona nyaman bener-bener nguras tenaga yang engga jelas, aku pengen hal yang lebih 'asyik'.

Sekali lagi Tuhan, ini sama sekali bukan menantang. Tapi aku ingin belajar hal baru, belajar banyak hal, dan benar-benar bergerak dari zona nyaman yang selama ini memberi benteng terhadapku.

Sayangnya, saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa. Maksudku, ya kerjaannya memang seperti ini. Jadi apa yang aku lakukan?

Setelah berpikir berhari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk terima aja dulu. Jalani aja dulu, sambil beberapa kali mengisi kejenuhanku dengan menulis diblog atau menyelesaikan novel.

Jadi kalau jenuh apa yang aku lakukan?
Jawabanku : terima aja dulu, terus minum kopi dan mulai buat nulis.

Kalau jenuh melanda, kamu cukup terima aja dulu keadaannya. Serius ini, kecuali kamu memiliki power untuk merubah itu semua.

Jenuh wajar gak sih?
Wajar banget, kita kan manusia. Kalau lama-lama melakukan hal yang sama pasti datang tuh si jenuh, cuma kan kadang kalau dipikir-pikir tugas kita itu menjalani. Iya engga?

Aku nulis ini juga karena beberapa hari ini benar-benar jenuh dan nothing to do. Ya wajarlah karena memang aku ingin sekali sesuatu yang menantang dalam kerjaan.

Gitu aja sih.

Hayam Wuruk, Jakarta Pusat
24 September 2017

Salam,

Via

Jika Membenci Sapi, Jangan Turut Membenci Kera

Sumber : google.com

Suatu hari ada seorang karyawan yang dimarahi bos-nya, lalu setelah dimarahi diruangan sang bos si karyawan masuk ke ruangan kerjanya dan ketika ada orang lain yang bertanya kepada dia, dia malah marah-marah tidak jelas.

Suatu hari ada pengendara motor yang ditabrak tidak sengaja oleh sebuah mobil dari belakang, si pengendara motor marah, sayangnya si pengendara motor harus ikhlas karena mobil yang tadi menabrakanya melarikan diri, alhasil si pengendara motor malah marah-marah ke pengendara motor lainnya.

Suatu hari, seorang perempuan bertengkar dengan kekasihnya, lalu dia tidak bisa marah kepada kekasihnya karena sang kekasih harus segera pergi bekerja, alhasil si perempuan malah marah-marah ke security di depan kantornya dan juga tukang sayur yang biasa lewat depan kosanya.

'Jika membenci sapi, jangan turut membenci kera'

Kenapa?

Secara sederhana, aku akan mengatakan, 'Jika gentle marah pada sapi, marahlah pada sapi'. Simpel kan? Sayangnya kebanyak dari kita tidak melakukan itu dan malah memarahi siapa saja yang waktu itu lewat dan menjadi bulan-bulanan kekesalan kita yang notabene kita bukan marah pada mereka.

Hal ini memang lucu sekaligus buat geli. Kasian sekali si kera jadi bulan-bulanan kelakuan si sapi.

Jadi harus kayak gimana?
Secara gentle ya kalau marah sama sapi, marahlah pada sapi. Jika tidak berani memarahi sapi, jangan marah kepada yang selain sapi. Karena mereka tidak tahu menahu urusanmu pada si sapi.

Tapi kalau bisa, sudahlah jangan membenci si sapi.

Jakarta, 24 September 2017
Hayam Wuruk, Jakarta Pusat

Be Thankful, Please

Sumber gambar : google.com

Pagi ini aku kembali ditampar. Sayangnya tamparannya langsung ke hati, bukan tamparan biasa yang biasanya didaratkan dipipi.

Setelah keluar dari kos, aku melangkahkan kaki berencana untuk membeli buah terlebih dahulu. Sayangnya, fokusku ke tukang buah dihapuskan oleh pemandangan sederhana yang membuat hatiku berdecak kagum terhadap sosoknya.

Seorang Bapak dengan menggendong plastik keresek hitam besar, lalu ditangan kanan dan kirinya ada tas-tas wanita yang hendak dijualnya. Beliau tidak menggunakan sepeda motor, dengan sendal jepit dengan tali warna hijau merek swalow beliau tersenyum kepada orang-orang yang ditemuinya berharap ada yang berminat dengan tas jualannya.

Belum selesai disana, beliau tidak membawa payung. Beliau menggunakan 'dudukuy' topi yang sering dipakai petani ketika disawah untuk melindungi kepala dari terik matahari. Beliau tersenyum kepada semua orang sambil setengah berteriak, "Tas Tas Tas". Sayangnya, tidak ada yang berkeinginan membeli tas yang ia jual. Beliau tidak tampak lelah, beliau pacu terus langkahnya mencoba peruntungan ditempat lain. Beliau meninggalkan aku yang terdiam melihat apa yang dilakukannya. Mungkin dalam hatinya dia berkata, "Tak mengapa Tuhan menyuruhku untuk berjuang lebih".

Aku jadi ingat ketika shubuh tadi sangat sulit untuk membuka mata. Rasanya malas sekali untuk bangkit dari tempat tidur. Rasanya berat sekali menyongsong pagi untuk kembali bekerja, masuk pukul 08.00 dan pulang pukul 17.00. Setelah sholat shubuh, aku kembali berguling-guling diatas kasur. Lalu kembali bangkit, menyandarkan tubuhku ditembok berusaha untuk tidak tertidur lagi. Lalu bersenandung kecil, menyanyikan lagu akad payung teduh.

Mataku benar-benar berat untuk terbuka. Huah! Aku sedikit berteriak menstimulasi diri sendiri untuk semangat. Aku mencoba menggerak-gerakan kaki untuk menghindari kantuk. Ya. Begitulah yang aku lakukan untuk kembali belajar bangun pagi setelah sekian lama luput dari kebiasaan itu.

Kembali ke fokus utama bapak-bapak penjual tas tadi. Aku merasa malu, harusnya aku bisa lebih bersyukur dengan kehidupanku hari ini. Aku rasa, tidak ada gunanya aku banyak mengeluh. Diluar sana ada orang yang harus menggunakan full ototnya hanya untuk sesuap nasi. Ya, kita memang harus bersyukur. Tidak semua orang diberikan kesempatan yang sama dengan kita.

Be Thankful, Please.

Jakarta, 13 September 2017

Fokus Harus, Multitasking Wajib

Sumber gambar : google.com

Apa sih multitasking itu?
Agar lebih dipahami saya akan menjelaskan definisinya menurut saya saja yah, jika kamu ingin definisi yang lebih baku silahkan untuk search di google.

Menurut saya, multitasking itu adalah bisa ngerjain apapun dalam satu waktu. Simpel kan? Yah. Masukan saja dulu definisi tersebut dalam otak kamu sebelum bertanya pertanyaan lain. Contohnya, ketika kita sedang makan, lalu mata kita menonton film, dan kaki kita bergerak-gerak mengikuti irama lagu dari mp3 maka bisa dikatakan saat itu kita sedang melakukan multitasking.

Sudah mengerti?
Contoh lain, ketika kamu mencuci mobil, lalu kamu berjoget-joget sambil menggosok-gosok kaca mobil, itu juga termasuk dalam multitasking. Intinya, mengerjakan hal yang berbeda dalam satu waktu.

Nah, kenapa saya menulis judul "Fokus Harus, Multitasking Wajib" ? Karena menurut saya dewasa ini kalimat "Fokus pada satu tujuan" itu kurang greget, pergerakan didunia zaman sekarang semakin cepat, jika kita hanya fokus pada satu hal saja maka bisa saja kita kehilangan kesempatan yang lain.

Saya tidak menyebutkan bahwa tidak boleh fokus yah, fokus itu harus, apalagi kalau kalian bisa multitasking. Contohnya, ketika tujuan kalian ingin menjadi seorang penulis, kalian terfokus hanya pada satu naskah novel, mungkin kalian akan kehilangan kesempatan untuk menularkan ide-ide kalian ke dalam novel dengan genre yang berbeda. Bisa saja kan, menulis dua buah genre dalam satu kali projek? Tentu bisa.

Jangan fokus pada satu hal lalu menyepelekan hal lainnya. Ketika berangkat ke kantor naik motor karena terlambat bisa saja kamu fokus pada satu tujuan, sampai dikantor sebelum pukul 08.00 lalu kamu menyepelekan pengendara motor lain, kamu ngebut gak karuan, saking fokusnya ngebut kamu lupa kalau sudah nerobos lampu merah. Apakah fokus itu buruk? Jelas tidak.

Aku hanya ingin memengaruhi kalian untuk membuat hal yang menjadi tujuan sebagai hal yang digeluti secara bersamaan. Tidak saling menunggu satu hal sudah tercapai baru hal lainnya kalian lakukan. Selain akan menghabiskan waktu dengan menunggu, sayang saja waktu yang kosong tersebut tidak kalian gunakan untuk melakukan hal lain.

Fokus harus, multitasking wajib.

Jakarta, 12 September 2017

We Have A Different Head, We Have A Different Mission


Sumber gambar : kompasiana.com

Pernahkah berpikiran ingin menjadi sama persis dengan artis idola kamu?
Jika pernah, jangan malu. Wajar saja, dalam hidup kita pasti ada orang-orang yang membuat kita terinspirasi. Hanya saja, bukan berarti kita harus sama persis dengan mereka.

Tuhan menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing, tidak pernah ada manusia yang sama sekali tidak memiliki keunikan. Tuhan sudah mengaturnya dengan pas dan akurat, namun, sering kali kita ingin copy paste kehidupan orang lain, berandai-andai menjadi orang tersebut, lalu terobsesi dan melakukan segala cara untuk benar-benar sama.

Saya pernah membaca sebuah kalimat di media sosial yang isinya adalah sebagai berikut,
Life is the most difficult exam. Many people fail because they try to copy others, not realizing that everyone has a different question paper - Anonim-
Kenapa saya menyukai kalimat diatas?
Alasannya, karena memang kalimat tersebut menyadarkanku untuk menjadi diri sendiri dan memaksimalkan potensi yang aku miliki. Orang lain hanya referensi bukan berarti kita harus sama persis.

Mungkin sebagian dari kalian ada yang merasa iri ketika temannya berhasil membeli motor dengan uang sendiri, ada lagi yang bisa membeli mobil, sedangkan kalian masih menggunakan angkutan umum saat pergi bekerja. Lalu, kalian dibuat galau dan bertekad ingin seperti teman-teman kalian yang bisa membeli motor sampai lupa kalau dikantor kerjaan masih numpuk tapi malah dihabiskan dengan melamun berharap motor jatuh dari langit.

Teman-teman, aku dan kamu itu berbeda. Kita memiliki otak yang beda dengan kata lain visi dan misi kita pun jelas berbeda. Jika ada yang kesamaan mungkin hanya beberapa bagian saja tidak full part, maka dari itu tidak baik membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Membanding-bandingkan diri kamu dengan orang lain hanya akan menjadikanmu manusia paling sedih sejagat raya, karena memang kamu tidak akan pernah bisa menjadi mereka. Dan mereka pun tidak akan bisa menjadi diri kamu.

Jadi, berhentilah membanding-bandingkan kehidupan kamu dengan kehidupan orang lain. Jadilah yang unik dengan versi kamu, jadilah diri kamu sendiri. Karena Tuhan telah menciptakan kita dengan porsi yang pas sesuai dengan peran kita didunia ini.

Stop comparing yourself with others. Be you, be unique, and be happy.

Jakarta, 12 September 2017

Ketika Aku Lupa Cara Menikmati Aku

Sumber gambar : google.com
Jangan katakan, "Lupa cara menikmati hidup" disaat yang sama kamu lupa cara menikmati diri sendiri.

Pernah lelah? Pasti.

Pernah letih? Pasti.

Siapa sih manusia paling kuat di dunia? Aku dan kamu mungkin akan sepakat menjawab, "Tidak Ada". Orang sekuat apapun disatu titik pasti akan merasa lemah. Tidak semua cheff piawai memasak semua masakan. Setuju?

Omong-omong yang luas tentang hidup, lalu kamu mengatakan lupa cara menikmati, mungkin juga poinnya ada pada diri kamu sendiri. Kamu tidak bisa menerima apa yang terjadi dalam kehidupan kamu hari ini.

Aku pernah nyeletuk santai, "Duh pengen deh jalan-jalan buat menikmati hidup". Kalimat sederhana yang ternyata memberikan isyarat kepada semua orang bahwa aku tidak pernah menikmati hidup.

Ketika lelah bekerja, dapatnya hanya lelah.

Ketika lelah bepergian, dapatnya hanya lelah bepergian.

Dan aku yakin, ada hal lain yang sebenarnya bisa didapatkan selain lelah itu sendiri.

Setelah berjam-jam menatap layar laptop untuk menyelesaikan pekerjaan dikantor, mataku selalu merasa lelah. Lalu, aku berpikir jika aku tidak menikmati tatapan ini maka aku hanya akan mendapatkan minus dimataku bertambah, selain itu tidak ada. Tapi, jika aku mencoba untuk menerima bahwa saat itu aku sedang bekerja dan berpikir "Yah masa kerja gini doang", lalu untuk mengisi kejenuhan aku coba memutar lagu, bernyanyi dengan pelan-pelan, lalu ada perasaan bahagia, mungkin disanalah cara menikmatinya.

Masalahnya, diam atau terus-terusan bergerak pun sama saja akan melelahkan. Jadi, daripada lelah tidak melakukan apa-apa, aku pikir lebih baik lelah setelah banyak bergerak.

Teman-teman, jangan sibuk mencari cara untuk menikmati kehidupan ini lantas lupa menikmati hari ini. Kita berfokus bagaimana menciptakan kehidupan yang bahagia, lalu lupa kalau kita melewatkan satu hari dengan kebanyakan diam tanpa pergerakan.

Ketika aku lupa cara menikmati aku, aku akan buka pikiranku luas-luas untuk menerima diriku yang sebenarnya. Nikmatilah detik setelah kamu membaca tulisan ini, terimalah diri kamu dengan segala konsekuensi yang ada.

Nikmatilah diri kamu sebelum benar-benar menikmati kehidupan dimana dalam kisahnya tentu tidak hanya ada kamu didalamnya. Mulailah menikmati diri kalian sendiri, menerima segala macam karunia Tuhan yang diberikan kepada kita.

Jakarta, 12 September 2017