Showing posts with label Mom & Baby. Show all posts

#2 Agar Jadi WorkingMoms yang Tetap Waras

Dokumentasi Pribadi

Suatu hari aku melihat unggahan instastory salah satu teman yang sudah melahirkan sejak 3 bulan yang lalu. Isinya mengatakan bahwa dia RESIGN dari pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Sontak aku kaget, sebab dia sama sekali tidak menujukkan tanda-tanda akan resign sebelumnya. Lalu, karena penasaran aku tanya, alasannya yaitu, "Aku gila, kerja ampir 24 jam, aku mending resign biar tetap waras!" begitu katanya. 

Jauh ke belakang, salah satu mentorku selama bekerja di perusahaan memutuskan resign. Tidak ada pemikiran sama sekali bahwa dia akan resign karena dari segi jarak rumah ke kantor sangat dekat, segi jabatan sudah tinggi, tentunya relate dengan penghasilan, tapi akhirnya dia memutuskan untuk resign. Alasannya? Selain karena memang ingin hidup lebih "tenang" pertimbangan kehamilan dimana nantinya dia ingin fokus merawat anaknya. 

Moms, apakah keputusan tersebut salah? TIDAK! Masing-masing memiliki pilihan dan tentunya sudah paham konsekuensi yang akan diterima. Senior saya berkata, "Paling yang bakal gue berusaha gak terbiasa itu punya duit sendiri, nanti gue bakal tergantung sama laki gue," katanya begitu. 

Aku yakin setiap Moms sudah memikirkan keputusan apakah akan tetap bekerja atau resign setelah cuti melahirkan dengan sangat baik. Pasti Moms juga sudah banyak diskusi dengan orangtua, teman, sahabat bahkan atasan di kantor. Tapi, balik lagi yang paling tahu dan paham apa yang dibutuhkan adalah kita sendiri Moms. 

Lalu, apakah menjadi #Workingmoms adalah beban? Awalnya, bisa jadi iya, karena Moms harus terbiasa dengan rutinitas yang tidak biasa. Tapi, lambat laun Moms akan paham bahwa lelah yang dirasakan ini adalah usaha agar masa depan anak kita terjamin kelak. 

Nah, aku merefleksikan hal ini dengan kondisiku sekarang. Aku tinggal di Depok dan bekerja di Tangerang. Jauh kan? JELAS! Setiap pagi aku mengantarkan anakku terlebih dahulu ke rumah mertua di Pasar Rebo lalu naik bis ke Tangerang, itu sekitar jam 6 pagi. 

Pulangnya aku sampai di pool bis sekitar jam 7 sampai jam setengah 8, aku menjemput anakku terlebih dahulu dan kira-kira sampai di rumah jam 9 malam. Hal tersebut berulang kali setiap hari. Berbeda ketika ada Mamaku datang aku bisa sedikit tenang ketika berangkat kerja karena bisa berangkat jam 06.30 lalu pulangnya bisa langsung ke rumah dan sampai sekitar jam setengah 8. 

LELAH? Iya, tapi ketika pulang dan melihat wajah anakku, rasanya capek itu hilang. Tapi, lihat wajah bapaknya capek lagi hahah becanda ya Moms. Sumpah, ajaibnya ketika melihat anak kita tersenyum lebar rasanya hilang tuh lelah bekerja seharian. 

STRESS engga sih? Iya, ada masanya aku stress karena bingung mau ngerjain apa dulu. Aku nangis sendirian di kamar mandi. Bahkan pernah aku nangis bercucuran air mata sambil cuci piring kotor. Tapi, perlahan aku mencoba mulai menerima rutinitas ini. Apalagi ketika melihat wajah anakku, sebuah semangat selalu muncul setiap harinya, "Pokoknya gue harus kerja keras buat anak gue!". 

Nah, Moms aku punya tips agar jadi #workingmoms yang tetap waras! Yuk check it out!

CAPEK BUND? TARIK NAFAS & ISTIRAHAT YUK!


Menurutku sebenarnya #workingmoms itu masih bisa "waras" selagi lingkungan terdekat mendukung mereka. Karena tak jarang, justru yang membuat #workingmoms got stress itu bukan rutinitas dia sebagai mami & pekerjaannya, tapi karena lingkungan terdekat dia yang tidak bisa memperlakukan dia dengan baik. 

Lingkungan menuntut dia untuk bisa mencuci baju setelah lelah bekerja, lalu dituntut untuk memasak agar suami bisa makan, dan segala macam tuntutan-tuntutan lainnya yang membuat #workingmoms jadi stress sendiri. See, ada hubungannya dengan anak? Justru, anak menjadi penyemangat bagiku loh. Serius! 

Jadi, kalau aku got stress dengan lingkungan terdekatku yang kadang ngeselin banget aku mencoba untuk tarik nafas & istirahat. Istirahat disini aku habiskan dengan main bersama anakku, aku tidak memikirkan cucian kotor, piring berantakan, setrika menggunung, memasak buat suami dan lain-lain. Aku hanya fokus memberikan waktu untuk anakku, sesekali aku memejamkan mata namun tetap berada disamping anakku. Atau bahkan aku memutuskan tidur bersama anakku. 

JANGAN SUNGKAN MINTA TOLONG


Moms, aku pernah merasa sok kuat! Pontang-panting sendirian ngerjain dari A sampai Z, namun pada akhirnya aku menyerah juga. Pernah juga saking capeknya habis kerja & harus langsung beberes rumah aku nangis di dapur. 

Capek Moms? IYA BANGET! Makanya, aku memutuskan untuk bicara pada suamiku, bahwa aku belum bisa kuat untuk mengerjakan semuanya sendiri. Aku jelaskan juga bahwa kita sama-sama bekerja, cari uang, jadi kalau dia pusing & punya beban terhadap pekerjaan, aku pun sama. Sehingga, urusan rumah harus kita kerjakan bersama. 

Perlahan dia mulai ngerti meski aku harus teriak-teriak dulu baru dia bisa gerak. Katanya, dia dulu engga pernah pegang cucian kotor dll, ya kata ku sekarang kamu sudah menikah & wajib bantu istri kamu. Memang agak sulit sih Moms, tapi harusnya suami kita paham juga!

USAHAKAN MINTA  WAKTU "ME TIME"

Meskipun agak sulit, tapi ini wajib kamu minta ya Moms. Kamu berhak menikmati hal yang kamu sukai. Kalau kamu suka menulis, kamu minta waktu beberapa jam ketika di rumah untuk update tulisan di blog kamu. Kalau kamu suka masak, ya masak sekalian buat makan keluarga. Nah, terkadang aku menghabiskan waktu "me time" nya dengan main sama anakku, terus kita tidur bareng deh. Hahaha. 

Nah sekarang itu aku lagi coba untuk buka bisnis baju anak moms, jadi kayak urus-urus stok, packing pesanan jadi hiburan juga buat aku. Tapi, memang sih "me time" nya aku biasanya nulis di blog hehe.


JANGAN LUPA TERUS BERSYUKUR YA!

Terakhir, ini yang engga kalah penting ya Moms. Karena tentunya tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti yang aku dapatkan. Bagaimana pun aku harus tetap bersyukur mengenai apa yang sedang aku perjuangkan. Kini didalam otakku, aku berpikir untuk bekerja keras agar nanti anakku kerja engga keras-keras amat hehe. Pokoknya dia harus bahagia!



Mungkin memang klise ya Moms. Tapi, memang tidak mudah untuk menjadi #workingmoms! Disamping hal-hal yang bisa bikin capek secara fisik, pasti ada juga yang membuat kita capek secara psikis. Tapi percayalah apa yang kita perjuangkan hari ini adalah untuk mempersiapkan masa depan anak kita tercinta. 

Jangan pusing karena pertanyaan, "Gak kasian anaknya?" . Anak kita pasti paham kenapa kita masih harus tetap bekerja. Terakhir, peluk sayang untuk Moms semua. Kalian luar biasa!

Feb, 2021




Lalu, Kenapa Kalau Aku Lahiran Sesar?

Dokumentasi Pribadi

Masih banyak yang selalu membandingkan dan menjurus pada sebuah pernyataan bahwa Mama yang melahirkan sesar itu belum menjadi perempuan yang seutuhnya. Halow? Coba lihat wajah aku dan kalian semua harus minta maaf. Kenapa harus minta maaf? Karena pernyataan itu sudah melukai ribuan bahkan jutaan Mama-Mama keren di dunia ini yang sudah berjuang melahirkan anaknya dengan cara operasi sesar. 

Lalu, kenapa kalau aku lahiran sesar? Apa kontribusi kalian dalam kehidupanku ketika menganggap bahwa aku gagal menjadi perempuan seutuhnya karena melahirkan sesar? Jelas tidak ada kan? Lalu, kenapa sibuk memikirkan kehidupanku dan Mama lainnya yang memutuskan untuk melahirkan secara sesar? 

Sering kali aku mendengar cerita bahwa Mama yang baru melahirkan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, bahkan dari keluarga sendiri ketika mereka melahirkan sesar. Jelas, menurutku ini adalah sebuah perilaku yang salah. Hal tersebut tentu akan melukai hati Mama yang baru saja berjuang untuk melahirkan sang anak. 

Untuk kalian yang masih menganggap bahwa Mama yang melahirkan sesar belum menjadi perempuan seutuhnya, kalian tidak pernah tahu persis apa yang sebenarnya terjadi, lalu kalian memberikan asumsi seolah-olah menjadi yang paling tahu, setelah itu judge kami karena kalian berhasil melahirkan secara normal sedangkan kami tidak.

Mari kita sama-sama introspeksi, siapa sih yang tidak ingin melahirkan secara normal? Jelas, lahiran normal jauh lebih murah, kan? Ya betul! Itu pula yang menjadi alasan kenapa aku ingin melahirkan secara normal, tapi ada satu atau dua kondisi yang menyebabkan seorang Mama harus melahirkan secara sesar, dan aku yakin keputusan tersebut sudah berdasarkan hasil pikiran yang matang, benar tidak?

Beberapa dari kita boleh berbangga karena berhasil melahirkan secara normal, cukup itu saja, jangan ditambahkan dengan merendahkan Mama yang lain yang melahirkan secara sesar. Sungguh, bagiku tidak pernah ada yang salah atas keputusan akan hal tersebut. Yang salah adalah mereka yang menggunakan mulutnya untuk menjelek-jelekkan, merendahkan dengan jahatnya bahwa Mama yang melahirkan dengan cara sesar belum menjadi perempuan seutuhnya. 

Perkara soal resiko, baik itu normal maupun sesar sama-sama memiliki resiko. Kalian pikir perut disayat berkali-kali itu tidak menimbulkan sakit? Tidak! Iya ketika obat bius masih ada, tapi ketika obat bius perlahan mulai hilang, rasa sakit itu membuat Mama terpaksa membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat terlebih dahulu. 

Sementara, Mama harus segera belajar bergerak ke kanan kiri karena bayi harus segera disusui. Keesokan harinya ketika selang keteter udah dicabut, Mama harus belajar berdiri agar bisa BAK di kamar mandi. Rasanya gimana? Ngilu! Sumpah ngilu dan enggak bohong. 

Jadi, buat kalian yang di dalam pikirannya masih terpatri bahwa Mama yang lahiran normal sempurna sedangkan sesar tidak sempurna, sungguh kalian jahat! Kenapa jahat? Karena sangat tidak berhak bagi kalian untuk membandingkan sebuah proses yang sama-sama berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan. 

Lalu, masih ada juga Mama yang berhasil melahirkan normal, yaa kalian boleh berbangga, tapi cukup berbangga saja jangan sampai ada kalimat tambahan yang menjurus bahwa kami yang melahirkan secara sesar belum menjadi perempuan yang seutuhnya. 

Marilah untuk saling menghargai, melihat dari berbagai sisi dan juga melihat dengan pikiran terbuka sebuah konsep tentang cara melahirkan itu sendiri. Dengan cara apapun seorang anak lahir ke dunia tentu hal tersebut adalah sebuah bahagia bagi kedua orangtuanya. Perkara soal mempertaruhkan jiwa dan raga memang itu sudah menjadi bagian seorang Mama, dengan cara apa pun Mama melahirkan buah hati ke dunianya, itu adalah cara terbaik yang sudah menjadi ketetapan-Nya. 

Via Mardiana/29 November 2020

Aku Menikah Bukan dengan Orang Kaya

"Capek rasanya! Kalau lihat orang lain, engga perlu tuh capek-capek kerja. Tinggal nunggu suaminya gajian dapet deh uang buat beli tas mahal, baju branded, makanan kesukaan, dll. Ah, seandainya gue nikah sama orang kaya!"

"Lelah rasanya, orang lain dibantu sama istri buat menopang perekonomian keluarga. Ini, gue sendiri yang harus pontang panting. Memang ini tanggung jawab gue sih sebagai suami, tapi kan kalau istri gue juga kerja gue enggak akan secapek ini. Seandainya gue nikah sama orang kaya!"

Pertanyaannya! Apakah jika kamu menikah dengan orang kaya, kamu mau apa? Mau beli jet pribadi? Mau beli cincin berlian? Ups, engga nyambung ya. Eh tapi ini seriusan, kalau kamu menikah dengan orang kaya, kamu mau apa? 

Aku menikah bukan dengan orang kaya! Tampaknya kalimat ini bisa jadi seperti sedang merendahkan pasangan kita atau bisa juga seperti ungkapan kecewa karena sudah menikah dengan orang biasa saja, bukan dengan orang kaya. Benar tidak? Apa aku salah? Oke, lanjutkan membaca!

Kamu melihat temanmu di usia 26 tahun sudah punya rumah sendiri, rumahnya 2 tingkat, ada garasi yang luas dan cukup untuk 2 mobil. Lalu, di dalam rumahnya ada ruang tamu dan ruang keluarga yang berbeda. Ada lahan luas dibelakang rumah yang bisa dijadikan tempat untuk bersantai di hari libur. 

Lalu, kamu bandingkan dengan kehidupanmu sekarang. Rumah masih ngontrak, ya ada mobil, tapi masih mobil jadul, masih untung bisa jalan, sehingga kamu gak harus kepanasan atau kehujanan. Kalau ada tamu blas masuk ke ruang keluarga, karena engga punya ruang tamu, dari sana bisa keliatan lokasi kamar mandi kamu, dapur kamu, dan kalau lupa nutup pintu, tamu bisa lihat isi kamar kamu. Jangankan lahan luas di belakang, buat jemur baju aja susah. 

Kalau kamu sadar, barangkali kamu memang sering membandingkan kehidupanmu dengan orang lain. Ya, seperti dengan Nia Ramadani atau Momo Geisha yang setelah menikah dengan pengusaha kaya, kekayaannya berlimpah ruah, sepertinya mau apa saja bisa, engga perlu pusing soal uang karena udah ada banyak. Bener gak? Ya, enggak apa-apa kok, sesekali membandingkan kehidupan kita untuk dijadikan referensi tidak masalah. 

Toh yang jadi masalah adalah karena keterusan ngebandingin jadi lupa tuh sama tugas buat growing up diri sendiri. Itu kan yang bahaya? Ya kan? Nah, sekarang banyak sekali pasangan muda yang menyerah di awal pernikahan karena ternyata pasangan yang diharapkan bisa memberikan apapun tidak bisa diharapkan. Ya, kalau satu doang yang capek susah. Mau bahagia bersama? Ya berjuang berdua dong, jangan cuma istrinya aja atau suaminya aja. 

Ada banyak hal sederhana yang selalu lupa kita syukuri. Kadang, kita terlalu melihat ke atas hingga sering kali tersandung dan akhirnya terjatuh. Lalu, setelah terjatuh bukan introspeksi diri tapi menyalahkan keadaan. Kadang kita angkuh tidak mau disebut punya mental pengecut, iya kan? Kalau lagi pusing sama kerjaan, nyalahin pasangan yang enggak kerja, nyalahin pasangan yang katanya engga ngertiin kalau lagi pusing. Bener gak nih? Jawab dulu!

Jangan munafik deh, kita semua butuh uang kok buat hidup. Kita semua pengen kok jadi orang kaya, ya kan? ya kalau mau usaha dong! Ingat ya, nikah bukan solusi jitu untuk menjadi tiba-tiba kaya ya. Iya sih, ini memang terjadi pada beberapa orang di dunia ini. Tapi, poin pentingnya adalah "USAHA"! Kalau enggak usaha ya mana bisa. 

Sekarang kalau konteksnya sudah menikah gimana? Aku tahu pasti sebelum menikah kalian sudah tahu lah bagaimana keuangan pasangan kalian. Ingat ya, keuangan pasangan kalian, bukan keuangan keluarganya. Kecuali kalian udah tahu tuh kekayaan keluarganya akan ngucur 100% ke pasangan kalian. Haha. 

Aku menikah bukan dengan orang kaya! Ya, tidak apa-apa toh jalan masih panjang dan kalian masih bisa banyak melakukan hal untuk menciptakan cuan. Setuju? Ya kalau kerjanya cuma ngandelin salah satu susah broh/sist! Kalian harus kerja sama. Jangan si istri doang yang capek, atau si suami doang yang capek. Hal kayak gini kalau engga di manage dengan baik ya, dijamin deh bakal bikin masing-masing sudah berkorban banyak tapi engga dihargai sama pasangannya yang akhirnya menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Jangan sampai ya!

Yah, kalau kalian sekarang menikah bukan dengan orang kaya, ya enggak apa-apa, kan sudah menikah? Memang bisa tiba-tiba engga jadi? Kan engga mungkin. Tapi, kalau kalian punya pasangan yang mau diajak growing up bersama, itu yang bakal jadi awal mula "si kaya" itu ada. Kalau kamu nikah sama orang kaya, tapi kamu engga bisa mengelola keuangan, ya ambyar!

Kalau kamu sekarang menikah bukan dengan orang kaya, tenang, kalian bisa growing up bareng. Memulai dari nol bersama-sama, membuat bisnis yang membuat kehidupan keluarga kecil kalian lebih "bersinar". Jangan patah sebelum berjuang. Banyak kok pasangan-pasangan yang dulunya have nothing jadi have everything, itu semua dijalani dengan usaha yang keras dan juga cerdas. Dua-duanya mau fight buat mewujudkan cita-cita bersama. 

Tulisan ini aku dedikasikan untuk pasangan-pasangan muda yang sedang berjuang untuk sebuah kebebasan financial. Guys, dont worry setiap orang memiliki kesempatan yang sama tinggal kita lebih keras dalam berusaha. Habis baca ini jangan lupa cium istri atau suami kamu ya, lalu bilang, "Sayang, ayo kita berusaha, biar nanti calon menantu kita bisa bilang AKU MENIKAH DENGAN ORANG KAYA" hehehe. 

Salam,

Via Mardiana/06112020


Ini Caraku Bangkit dari Baby Blues

Dokumentasi Pribadi

Ketika menuju akhir masa kehamilan aku memang titip pesan berkali-kali kepada suamiku untuk tetap temani aku dalam berbagai kondisi setelah melahirkan. Hal ini aku ulang berkali-kali untuk memastikan bahwa dia paham kenapa aku sengotot itu untuk mengingatkannya akan hal itu. 

Banyak cerita yang aku baca mengenai pengalaman seorang perempuan setelah mereka melahirkan. Yang paling banyak mereka mengalami baby blues dan kupastikan ceritanya sangat menyedihkan. Kenapa aku ngotot baca? Karena aku ingin belajar bagaimana cara mereka bangkit dari keterpurukan sehabis melahirkan. 

Tidak ada jaminan seorang perempuan tidak akan terkena baby blues. Jadi, bisa saja aku mengalaminya, apalagi ini anak pertama. Perubahan yang terjadi pada tubuhku dan tentunya lingkungan tentu membutuhkan adaptasi yang tidak biasa. Akan ada effort lebih untuk beradaptasi dalam kondisi tersebut. 

Apa itu baby blues? Aku mengutip sebuah definisi tentang baby blues di bawah ini : 
Merasa lelah, sedih, dan khawatir merupakan gejala baby blues syndrome yang banyak dialami ibu setelah melahirkan. Sindrom ini tergolong ringan, jika dibandingkan dengan depresi pasca melahirkan (postpartum depression) yang juga dapat mengancam ibu setelah melahirkan.(Sumber : alodokter)

Tanggal 24 Juli 2020 malam, tiba-tiba aku merasakan kesedihan yang tidak seperti biasanya. Waktu itu, aku dan suami masih menunggu anak kami diobservasi. Ada perasaan sedih yang benar-benar membuatku sesak, tanpa bisa ditahan lagi malam itu aku menangis. Suamiku jelas kebingungan dengan apa yang terjadi, lalu dia mencoba menenangkanku. 

Tampaknya suamiku sudah mulai paham apa yang terjadi padaku. Dia terus mencoba menenangkan dan menceritakan hal-hal yang membuatku bahagia biasanya, tapi usahanya gagal. Aku masih terus menangis dengan perasaan sedih yang berkecamuk. Entahlah, terbesit sepertinya aku berdosa sama suamiku. 

Lalu, ketika anak kami datang aku mencoba untuk menyusuinya. Yang aku rasakan ketika pertama kali menyusui adalah sakit yang luar biasa, sementara aku melihat anakku menangis karena ingin menyusui. Dini hari, aku kembali menangis menahan rasa sakit dan juga seperti ada perasaan bersalah pada suamiku. Entahlah, pokoknya rasanya campur aduk sumpah!

Sampai aku bilang pada suamiku, "Yang, apa ini karena aku enggak nurut ya?" kataku. Suamiku kembali menenangkan. Aku akui aja, memang aku istri yang agak "bandel", maksudnya bukan kearah negatif ya, tapi karena ketika diskusi terkadang aku memiliki pendapat sendiri dan seringkali ngotot-ngototan dengan suamiku. Ah pokoknya semua muncul di dalam kepala. 

Hampir tiap malam aku menangis, entah karena menahan sakit akibat puting yang lecet atau karena perasaan sedih yang tiba-tiba datang. Sampai-sampai setiap kali menangis aku minta maaf pada suamiku kalau-kalau aku ada salah. Karena gimana ya, aku pun sulit mengungkapkan apa yang aku rasakan. Perasaan sedih ini benar-benar menguasai diriku. 

Kalau mau di explain ya, aku bener-bener menderita dengan perasaan itu, sedih, khawatir, lalu setiap melihat wajah anakku, aku malah menangis, takut enggak bisa jadi orangtua yang baik, dan segala macam kekhawatiran lainnya. 

Beruntung sekali aku punya suami yang paham dengan apa yang aku rasakan. Pas awal-awal melahirkan dia sangat support aku untuk bangkit dan juga bantuin aku dalam urusan anak kita. Yang membuat aku menderita ya, tiap kali aku melihat wajah anakku, aku sedih dan ketakutan. Bahkan suatu ketika, aku meminta Mama untuk pegang anakku dulu karena aku takut menyakiti anakku. 

Nah, apa sih yang harus kita lakukan agar bisa segera bangkit dari baby blues? 

Minta bantuan suami atau orang tua ketika tubuh merasa lelah
 
Mungkin ini alasannya kenapa ketika setelah melahirkan kita sangat tenang jika ada orangtua. Ya, benar. Keberadaan orangtua disamping menenangkan hati kita, juga dapat diandalkan dalam hal meminta bantuan. 

Ingat ya jangan sungkan untuk minta tolong pada suami atau orangtua kita ketika lagi kondisi setelah melahirkan, itu wajar kok. Hal tersebut sama sekali tidak membuat kamu akan dicap manja atau hal-hal jelek lainnya. 

Tubuh kamu pun perlu istirahat, jadi meminta bantuan untuk beberapa jam beristirahat jelas tidak masalah. Trust me!

Bercerita kepada suami / orang tua / teman yang dipercaya 

Apa yang aku rasakan ketika baby blues? Jawabannya sedih! Perasaan sedih yang rasanya bener-bener mengelilingi tubuhku. Utarakan lah yang kamu rasakan pada orang yang kamu percayai untuk diajak bercerita. Ingat ya jangan dipendam sendiri, kamu harus berbagi resah dan kesedihan setelah melahirkan kepada suami kamu. 

Ingat bahwa menjadi seorang Mama adalah anugerah 

Diluar sana masih ada perempuan yang harus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Nah, saat ini tentu Tuhan percaya sama kamu untuk merawat si buah hati. Ingat, menjadi Mama adalah anugerah. Melihat si kecil tumbuh adalah kebanggan bagi Mama diseluruh dunia, percayalah! Tanamkan dalam hati kita bahwa "aku bisa menjadi Mama terbaik bagi anakku". 

Mencari hiburan agar tidak stress

Meskipun kamu sudah punya anak bukan berarti kamu tidak bisa hiburan ya. Kamu berhak meminta me time kepada suamimu. Mintalah dia untuk menjaga anakmu sebentar, sementara kamu bisa berendam atau menjalankan hobi kamu. Hal ini sangat penting untuk mengalihkan perhatianmu dari rasa sedih atau rasa bersalah.

Kalau kamu ingin nangis, menangislah!

Ini menurut aku sangat penting. Jangan ditahan jika ingin menangis ya, keluarin aja semua unek-unek. Tutup kamar nangis sejadi-jadinya tidak masalah. Karena habis itu pasti akan merasa lega.

Ingat ya Moms, dalam kondisi seperti ini kamu harus memiliki "teman" untuk bercerita. Waktu dulu aku menempatkan suamiku sebagai temanku untuk bercerita. Apapun yang aku rasakan aku akan bicara pada suamiku. Positif vibes dari suami sangat berpengaruh dalam kebangkitanku dari baby blues ini. 

I know Moms, baby blues itu enggak enak jadi yuk kita bangkit karena ada anak kita yang lucu yang menunggu kita untuk tersenyum ketika melihatnya. 

Baby blues are real! But we can solve it, Mom!