Showing posts with label Blog. Show all posts

Dear Ibu Mertua, Sama dengan Dirimu yang Ingin Anaknya Diperlakukan dengan Baik, Begitu Pula Ibuku.

Tulisan ini didedikasikan untuk semua anak Perempuan yang sekarang sedang menjalani jabatan multiperan salah satunya menjadi "menantu" dari seorang "mertua". 

...

Hai Ibu, apakabar? Ini aku, menantumu. Anak Perempuan asing yang tiba-tiba masuk dalam keluarga besarmu dan mau tidak mau engkau harus menerimaku. Sebab, anak laki-lakimu telah memilihku untuk menjadi pendamping hidupnya.

Pagi ini cukup mendung, ketika aku hendak pergi ke kantor menggunakan ojeg karena anak laki-lakimu kesiangan sehingga tak sempat mengantarkan aku. Gak apa-apa Bu, aku gak berani membangunkannya khawatir dia marah. Kalau dia marah aku takut ada kata-kata menyakitkan sehingga aku membawa luka ke tempat kerja.

Bu, aku adalah Perempuan yang dinikahi oleh anak laki-lakimu. Yang dengan gagah perkasa menemui Bapakku dan meminta restu untuk menikahiku, Bapakku? Ya, Bapak merestui anakmu untuk menikahiku. Tentu dengan harapan agar anaknya berada ditangan yang tepat untuk melanjutkan usahanya dalam membahagiakanku. 

Tenang Bu, aku tidak punya niatan sama sekali untuk mengambil perhatian anakmu darimu, tapi bukankah kita juga tahu bahwa setelah menikah, seorang laki-laki harus bertanggung jawab terhadap kehidupan anak dan istrinya.

Maaf Bu, tapi memang seharusnya perhatian dia terhadapmu tidak berubah meski sekarang sudah menyandang status Suami dan juga Ayah dari anak-anaknya. Jika berubah maka jangan langsung menyalahkanku, tapi silahkan bicara baik-baik kepada anak laki-lakimu. Berarti itu salah anakmu, bukan aku. Memang sulit Bu untuk menerima kesalahan anak sendiri dan lebih mudah untuk menyalahkan anak orang lain. Tapi, semoga Tuhan selalu memberikan Ibu kebijaksanaan yang tiada terbatas.

Lagipula Bu aku tidak akan berkompetisi denganmu, karena itu bukan tugasku. Dari menikah dengan anakmu, tugasku adalah berbakti kepadanya, menjadi Istri terbaik, maka jika engkau menyayangi anak laki-lakimu bantulah dia agar menjadi Suami yang baik dengan tidak harus dihadapkan pada pilihan Ibunya atau Istrinya. Jika ingin membantunya, maka buatlah agar anak laki-lakimu layak untuk dihormati sebagai Kepala Rumah Tangga oleh anak dan Istrinya karena memang dia layak dihormati dengan jabatan tersebut. 

Seringkali dia memilih diam karena kebingungan, dan karena tak tega akupun memilih mengalah karena tentu tidak tega melihat dia murung seharian karena kebingungan. Apa yang aku rasakan? Sedih Bu. Aku berjuang sendiri untuk pulih dari luka tanpa ada orang yang membela. Aku ingin bercerita pada Ibu dan Bapakku, tapi aku tak ingin wajah Suamiku buruk dimata orangtuaku. Maka kutelan semua luka, meski tiada yang sadar. 

Sering kali aku bersandar pada tembok sambil menarik nafas dalam-dalam. Rasanya ingin bicara, mengeluarkan unek-unek yang menjadi penyakit dalam hati ini, tapi selalu aku batalkan. Belum bicara saja aku sudah menerima umpatan dari anak laki-lakimu. Jadi Bu, lihat dia itu membela engkau, seperti yang engkau inginkan. Tak perlu engkau cemburu padaku. Daripada membela aku, dia lebih memilih diam tidak bicara apa-apa. 

Lalu, bagaimana dengan kecewa yang aku rasakan? Asal Ibu tahu, aku telan sendiri. Berupaya agar aku tidak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti. Dan lagi-lagi aku mengalah, diam, dan kucoba sibukkan diri dengan bermain bersama anak-anak. 

Oya, aku diajari oleh Ibuku untuk diam ketika diajak berdebat, karena kata Ibuku tidak baik mendebat orangtua, maka kulakukan itu, meski hatiku gemetar menahan rasa kesal akibat perbedaan dan aku cenderung disalahkan. Tapi, sebenarnya aku menghindari perdebatan karena aku khawatir ada perkataan yang menyakiti. 

Tapi Bu, jika suatu saat ada kalimat terlontar dari mulutku, semata-mata itu adalah wujud pembelaan yang aku lakukan. Sebab, sebagai manusia aku pun berhak untuk memperjuangkan diriku. Ketika tidak ada yang membela, maka aku sendiri yang harus membela diriku sendiri.

Sekali lagi, jika suatu saat ada kalimat yang terlontar dari mulutku, bukan berarti aku tidak menghargaimu dan ingin menyakitimu. Mana mungkin aku hendak melukai hati sesama Perempuan, apalagi Perempuan itu adalah yang bertaruh nyawa melahirkan Suamiku ke dunia ini. Ya bu, aku paham perjuangan seorang Perempuan untuk melahirkan anaknya. 

Tapi, Bu begini saja, aku memaafkan setiap perilaku dan kata-kata darimu, dan engkau maafkan aku. Memang tidak sederhana, sebab rasa kesal ini melibatkan perasaan yang dalam. Aku adalah orang yang pandai menyimpan termasuk luka dan rasa kecewa. Butuh waktu yang lama bagiku untuk pulih, yaa sangat lama, tapi akan aku usahakan. 

Dan jika sesekali aku berbicara karena perbedaan pendapat antara kita, maka belajarlah untuk menerima, jangan menutup diri dan malah menyalahkan. Mari sama-sama memperbaiki, saling mengintrospeksi dan jangan berlindung dalam kalimat, "Ya aku memang begini,". 

Aku perlu ingatkan bahwa aku adalah anak perempuan yang dilahirkan dengan perjuangan bertaruh nyawa oleh Ibuku. Yang dirawat dan dikasih makan dengan makanan terbaik oleh nafkah dari Bapakku. Yang disekolahkan dengan harapan-harapan baik dari orangtuaku agar aku kelak menjadi manusia yang menjadi "berkah" bagi banyak orang, termasuk anakmu. 

Jadi Bu, sama dengan dirimu yang ingin anaknya diperlakukan dengan baik, begitu pula Ibu Bapakku. 

...

Banyak sekali teman yang bercerita tentang hubungan dia dengan mertua perempuannya. Memang banyak luka, memang banyak tangis, memang banyak kecewa. Tapi, semoga tulisan ini bisa sampai ke banyak orang agar kita saling mengintrospeksi diri dalam hubungan yang "sensitif" antara menantu perempuan dan mertua perempuan. 


Kenapa Penting Sekali Menemani Ibu yang Baru Melahirkan?

Hi Ibu,

Tulisan ini aku dedikasikan untuk orang-orang yang barangkali belum paham betapa pentingnya Ibu yang baru melahirkan untuk ditemani. 

Seorang Istri berbicara pada Suaminya, "Apakah sodara-sodaramu sudah mengetahui kalau aku sudah melahirkan?" lalu sang Suami menjawab, " Sudah, kenapa memangnya?", sang Istri kembali menjawab, " Kok tidak ada yang nengok?". Sang Suami terdiam, barangkali memang apa yang dikatakan oleh Istrinya adalah sebuah kebenaran. Bahwa tidak ada Sodaranya yang menengok Istrinya setelah melahirkan.

Sebenarnya, perkara tengok menengok bukan hal yang penting. Tapi, kalau kita melihat budaya di Desa dimana ketika ada yang melahirkan, Sodara dan juga tetangga berbondong-bondong untuk menengok. Bahkan, malam harinya terkadang mereka menginap agar sang Ibu yang baru melahirkan tidak merasa kesepian. Mungkin, inilah kenapa di Desa jarang ada baby blues kali ya? Hehe. 

Setelah melahirkan baik sesar maupun normal, seorang perempuan tetap membutuhkan orang lain untuk membantunya. Namun, tidak semua memiliki orang terdekat yang peka untuk memberikan bantuan tanpa diminta. Sehingga, mereka melakukannya sendirian. Mulai dari malamnya begadang, paginya beberes rumah, menyiapkan makanan, mencuci baju, dan sebagainya. Hingga sebenarnya mereka merasa lelah, namun tidak dirasa dan menumpuk pada akhirnya burnout.

Apalagi, bagi mereka yang baru pertama kali memiliki bayi. Proses adaptasi dari sendiri menjadi seorang Ibu butuh perjuangan yang tidak main-main. Tak jarang bahkan pada akhirnya mereka merasakan apa itu baby blues yang sangat menyiksa. Sayangnya, tidak semua paham fenomena baby blues ini dan menganggap bahwa hal tersebut adalah bukti bahwa si perempuan tidak cukup kuat, katanya. Padahal, baby blues itu nyata!

Disinilah sebenarnya letak pentingnya kenapa seorang Ibu yang baru melahirkan perlu ditemani. Dia pasti akan dituntut untuk segera memberikan ASI pada anaknya. Sementara, jika dia sendirian siapa yang akan memasak? Siapa yang akan menyiapkan makanan? Sementara, cuti suami hanya 3 hari, sisanya dia harus berjuang sendiri. Belum kalau dia juga punya anak yang pertama, tentu pasti yang menjadi prioritas seorang Ibu adalah anak-anaknya, dan dia lupa untuk memperhatikan dirinya sendiri.

Maka, penting bagi kita jika memiliki anak, menantu, kakak, adik yang baru melahirkan hendaklah bantu tanpa harus diminta. Temanilah dia ditempat yang membuat dia nyaman, jangan paksa dia untuk berusaha nyaman ditempat kita, sebab kondisinya tentu masih labil, bisa saja dia semakin stress dan bisa berpengaruh pada produksi ASInya. 

Sebagai seorang Suami, hendaklah peka dengan gelagat sang Istri. Tentu, tidak semua Istri memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapat yang membuatnya gelisah, disanalah letak Suami untuk pro aktif. Hendaklah meminta bantuan sang Ibu untuk menemani Istrinya dirumahnya agar ada teman.  

Tugas yang "menemani" sebenarnya sederhana, dia bisa membantu si Ibu menenangkan si kecil ketika Ibu ingin makan dan si kecil rewel, itu saja. Tapi memang ada beberapa orang yang merasa kalau ada "teman" itu ada teman untuk ngobrol jadi tidak ada waktu untuk melamun yang akhirnya bisa membuat baby blues. 

Menurutku, dukungan dari orang-orang terdekat sangatlah penting bagi Ibu yang baru melahirkan. Sebab, kondisi Ibu yang baru melahirkan tentu tidak stabil dan masih membutuhkan bantuan. Dukungan ini tentunya akan membantu si Ibu agar terhindar dari baby blues. Meski dia terkena baby blues pun dia tidak merasa sendirian sehingga terhindar dari hal-hal negatif. 

Hal yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk membantu, namun kita bisa tanya dulu karena pada beberapa orang ada juga yang memilih untuk sendirian daripada ditemani oleh orang lain. Khawatirnya malah membuat ketidaknyamanan. Tapi, menurutku kalau baru melahirkan kayaknya kita emang masih butuh bantuan. Apalagi kan malemnya pasti kita begadang menyusui si kecil. 


Tentang Memahami Perkara Sederhana dari Mulut Istri, Simak Baik-Baik yang Pak Suami!


Katanya, menikah tidak hanya menyatukan dua orang, tapi juga dua keluarga. Ya, menyatukan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, entah sifat, sikap, pedoman hidup, cara hidup, dan nilai-nilai tak kasat mata lainnya. Perbedaan yang sederhana, jika tidak dikelola dengan baik maka akan jadi permasalahan besar. 

Setiap perbedaan ingin diakui kebenarannya, lalu ego berbicara dan mulailah rasa kecewa bermunculan, bahkan tak jarang diikuti rasa penyesalan. Perbedaan menjadi celah untuk saling jumawa bahwa nilai yang dipegang lebih baik dari nilai yang dipegang oleh orang lain. 

Jelas, ini tidak mudah. Perlu banyak tenaga bahkan untuk sekadar menahan untuk tidak bicara soal kecewa. Perlu banyak ikhlas, untuk tidak memilih berdebat daripada dikatai "Sok tahu". Sakit memang, tapi mau tidak mau harus dilakukan, dengan imbalan agar tidak ada gonjang-ganjing. 

Pernikahan bukanlah sarana bagi manusia untuk setiap hari menarik nafas dalam-dalam menahan kekesalan. Pernikahan juga bukanlah sarana bagi manusia untuk mengeluarkan air mata karena rasa kecewa. Pernikahan harusnya menjadi sarana bagi dua manusia untuk tumbuh dan berkembang bersama. 

Pernikahan adalah tempat untuk saling menguatkan, ketika salah satu sedang lemah karena banyak urusan, bukan tempat meluapkan emosi karena kesal dengan urusan di luar. Pernikahan adalah tempat untuk saling mengingatkan, bukan tempat untuk mencaci maki atas diri yang sedang kesal dengan urusan di luar rumah. 

Pernikahan adalah sarana belajar bagaimana mengakomodasi keinginan dengan mempertimbangkan banyak hal, bukan membela 1 pihak dan memojokkan pihak lainnya. Seharusnya, pernikahan membuat seseorang menjadi berkembang. 

Jika tidak diperbaiki, kesalahpahaman adalah ancaman. Jika masing-masing tidak introspeksi maka akan muncul spekulasi-spekulasi yang mengancam sebuah keharmonisan. Rasa kecewa yang dipendam akan jadi bom yang bisa meledak kapan saja. 

Lalu, bagaimana seharusnya? Mari kita mulai dengan hal sederhana, yakni "Jangan meremehkan sakit hati". Kenapa? Simak kasus di bawah ini : 

Seorang istri berkata pada suaminya, "Aku tidak menyukai perlakuan kakakmu, bahkan dia mengatakan hal yang tidak-tidak pada ibumu, dan puncaknya ibumu terlihat tidak menyukaiku," 

Lalu, si suami menjawab, "Tenang saja, "

Berulang kali si istri bicara akan hal ini, berulang kali juga sang suami menjawab dengan hal yang sama. Hingga, pada suatu hari, puncaknya Ibu mertua dia berkata dengan sadar, seperti ini, "Kakak kamu sakit tengok kek, orang lain aja nengok, masa kamu enggak,".  

Mendengar perkataan itu, si istri kembali bicara pada suaminya, namun suaminya hanya berkata, "Pikirkan saja ibu nya, bukan kakakku," 

Lalu, si istri kembali menelan ludah dan kecewa karena sikap suaminya. Dia tidak tahu apakah suaminya mencoba untuk bicara pada ibunya agar memahami juga sikap istrinya. Tapi satu hal yang pasti, sang istri mereka kecewa ternyata suami yang ia pikir akan menjaganya (termasuk menjaga perasaan) nyatanya belum mampu untuk melakukan hal itu. 

Dalam otak si istri dia pikir, dia harus mandiri, toh jika ada yang menyakiti suaminya tidak bisa membela dia, dan dia harus berdiri tegak sendirian melawan kesakitan itu. Semua kesakitan itu menggunung dan merubah sang istri menjadi orang lain. Menjadi perempuan yang emosian, kasar, dan sudah tidak percaya lagi akan suaminya. 

See? Hal sederhana yang membuat seorang istri berubah dari yang awalnya kelinci menjadi seekor macan? Mungkin, kita akan berpikir, ah gak mungkin. Seorang istri kan harus nurut sama suaminya, gak mungkin istri aku jadi kayak gitu. Jangan jumawa pak, segala sesuatu bisa saja terjadi. Jika kamu tidak bisa treat istri kamu dengan baik, dia bisa saja pergi kok. 

Itu hanya contoh, hal sederhana lainnya bahkan yang awalnya kita bilang, "tidak masuk akal" membuat istri kecewa/marah nyatanya ada juga. Jadi, tugas suami bukan hanya mencari uang, tapi juga menentramkan hati dan juga membuat istri merasa aman dan nyaman. 

Barangkali, jika istrimu marah-marah jangan langsung menjudge bahwa dia itu tidak nurut, tapi tanyakan apa yang membelenggu hatinya, apa yang membuatnya terluka, lalu segera obati lukanya agar tidak menyebar kemana-mana. Jangan remehkan sakit hati, sebab sakit itu bisa membuat seluruh tubuhnya sakit dan kamu akan kehilangan istrimu. Tidak, dia tidak meninggal, tapi bisa saja kamu akan kehilangan keanggunan istrimu, kehalusan istrimu, lemah lembutnya istrimu, dan sebagainya. 

Habis baca ini, minta maaf sama istri ya kalau sering meremehkan keresahannya. Janji sama istri kalau kamu bakal jagain dan bikin dia aman nikah sama kamu. 



Ketika Alasan Resign Bukan Lagi Soal Gaji yang Terlalu Sedikit

Dokumentasi Pribadi


Tulisan ini aku dedikasikan untuk mereka yang dengan berani untuk memutuskan berhenti menjadi Karyawan dan juga untuk mereka yang masih berjuang untuk bertahan menjadi seorang Karyawan. 

Ada satu teman, atau bisa kuanggap sebagai "kakak senior", cukup dekat dan kami cukup sering untuk sekadar "curhat". Ketika aku mulai menjadi Karyawan di tahun 2016, dia sudah ada di kantor tersebut. Orangnya terlihat sebagai "alpa women", pekerja keras, dominan, dan sudah berkarir sejak usia 17 tahun. 

Tentu, dengan hal tersebut aku tidak ada sedikit pun terbesit perkiraaan bahwa dia akan memutuskan resign tahun kemarin. Ketika aku sedang cuti melahirkan, dia memberikanku informasi lewat pesan singkat bahwa dia memutuskan resign. 

Sebab kami berhubungan bukan hanya sekadar rekan kantor, aku mencoba untuk bertanya padanya terkait alasan kenapa dia seberani itu untuk resign. Ya, kutanyakan waktu itu sebagai teman bukan sebagai rekan kerja. Alasannya membuatku kaget, dia sudah berada di tahap stress ketika mendengar bunyi telpon genggam & juga tentu alasan bahwa dia pada akhirnya ingin fokus dalam merawat anaknya. 

Awalnya aku benar-benar tidak menyangka, karena melihat jabatan yang sudah tinggi, jarak yang sangat dekat dengan rumah, ku kira akan membuatnya menjadi Karyawan abadi di Perusahaan. Tapi, perkiraanku salah. Jabatan yang tinggi & jarak yang dekat bukan alasan seseorang bertahan di sebuah Perusahaan. 

Selanjutnya, seorang teman yang cukup "selalu terlihat bahagia" ketika aku melihatnya di kantor memutuskan untuk resign juga, alasannya cukup sederhana dan singkat, "lelah" dan dia pun memutuskan berhenti menjadi seorang Karyawan. 

Beralih tentang teman yang lain, yang secara tiba-tiba memberikan pesang singkat, "Vi, hari ini gw terakhir" yang membuatku terkaget-kaget. Pasalnya aku kenal dia adalah sosok fighter yang tidak mungkin untuk menyerah begitu saja. Lalu, aku tanyakan kenapa memutuskan untuk resign dengan posisi yang sebenarnya punya potensi untuk promosi, dia orangnya smart menurutku, jawabannya, "Daripada gue gila". Lalu aku tanya apakah dia sudah mendapatkan pekerjaan di tempat lain? Jawabannya tidak! Sekarang dia fokus mengurus suami dan anaknya sebagai Ibu Rumah Tangga "yang bahagia". 

Kadang kita melihat mereka yang jabatannya tinggi tidak akan resign karena gaji yang dia terima sangat besar, tapi ketika seorang Direktur memutuskan resign segera dari sebuah Perusahaan tentunya alasan tersebut bukanlah alasan yang bisa diyakini oleh semua orang. 

Kita menyangka mereka yang rumahnya dekat dengan kantor tidak akan pernah resign, tapi justru alasan mereka resign karena untuk menjaga jiwa "tetap waras". 

Kita menyangka seseorang yang brilian, dominan, pintar, cerdas, strategic thinkingnya jago tidak akan resign karena dia punya ambisi untuk jadi wanita karir, tapi ternyata dia memilih resign agar tidak gila & juga bisa fokus dengan keluarga. 

Resign tentu bukanlah akhir dari segalanya, kita akan mendapatkan waktunya, dengan segala macam reason yang masuk akal sampai tidak masuk akal, tentu tujuannya sama agar hidup "lebih merdeka". Yang jelas, kini alasan resign bukan cuma soal gaji yang sedikit, tapi juga kewarasan jiwa yang mungkin sering terlupakan oleh kita semua. 

Dokumentasi Pribadi

Resign sekarang atau nanti, aku harap kalian memang sudah berada dititik "SIAP". Terlebih bukan juga karena emosi lalu memutuskan untuk berhenti. Resign dengan badan yang tegap tentu jauh lebih terhormat. Resign karena memang sudah cukup bukan karena kalah dimakan kondisi. 

Tapi, semua keputusan ada di tangan masing-masing. Yang pasti, menurutku setiap orang berhak untuk memiliki kesehatan jiwa dan raga agar bisa memberikan sumbangsih terlebih untuk hidupnya dan keluarganya dan juga orang sekitar. 

Semoga tulisan ini mencerahkan kita semua tentang mereka-mereka yang pada akhirnya memutuskan resign bukanlah akhir dari segalanya. Dan mereka yang berani memutuskan untuk berhenti tentu sudah melewati pertimbangan matang untuk berhenti menjadi "Karyawan". 

Cerita Persalinan : Welcome, Guan Alsava Ganapatih!

Dokumentasi Pribadi

Hari sabtu, tanggal 18 Juli 2020 adalah jadwal kontrol rutin mingguan karena sudah lewat dari 36 weeks. Tidak ada yang berbeda hanya penasaran saja usia kandungan sudah 38 weeks tapi tak kunjung juga rasa mules datang menghampiri. 

Selain melakukan usaha-usaha seperti jalan kaki, main gymball, berhubungan suami-istri, aku pun mencoba mengajak ngobrol bayiku saat itu. Intinya, mau dengan cara apapun aku siap bertemu denganmu, kataku. Sama halnya dengan suami yang berkata, "Apapun caranya kamu harus siap, mau normal atau sesar,".

Menunggu antrian aku dan suami masih sempat main PUBG di rumah sakit, maklum saja, antriannya bisa sampai 2 jam karena banyaknya pasien. Tiba saatnya aku diperiksa, dokter Stella yang ramah mempersilahkan aku ke ruang periksa untuk di USG. 

"Ketubannya mulai berkurang, dan warnanya sedikit keruh, kamu CTG ya," kata dokter. 

"Deg," sejujurnya aku deg-degan. 

Aku dirujuk ke ruangan bersalin untuk dilakukan CTG. CTG adalah alat yang digunakan untuk memantau aktivitas dan denyut jantung janin serta kontraksi rahim saat bayi di dalam kandungan. Melalui pemeriksaan ini dokter dapat mengevaluasi apakah kondisi janin sehat sebelum dan selama persalinan. (Sumber : alodokter.com).

Menunggu sekitar 1 jam, hasil CTG keluar dan suster langsung memberikannya ke dokter di ruangan. Dokter menginformasikan bahwa kondisi janin dalam keadaan baik sehingga tidak perlu dilakukan tindakan sekarang. Aku diberikan waktu sampai hari rabu tanggal 22 Juli 2020, semoga saja sudah ada rasa mulas dan bisa segera bersalin.

Seperti biasa dalam rentang waktu dari Sabtu menuju ke Rabu aku dan suami melakukan usaha-usaha untuk merancang kontraksi rahim, seperti jalan kaki, main gym ball, dll. Sampai aku merasa badanku sakit-sakit, akhirnya suatu malam suamiku kembali berkata, "Apapun caranya kamu harus siap,". Honestly aku ketakutan jika harus sesar, sumpah! Wajahku benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang aku rasakan. Berulang kali suamiku menyemangati, "Harusnya kita senang karena sebentar lagi akan ketemu sama Babang,".

Senin sore, ketika aku selesai BAK tiba-tiba ada air yang keluar dari vagina, karena panik langsung aku lap dengan daster. Aku khawatir ini air ketuban yang keluar, mau mengamati warnanya pun susah, aku mencoba mencium baunya dan tidak berbau. Lalu konsultasi ke dokter Stella, menurut beliau jika tidak terus-terusan tidak masalah. 

Selasa malam, aku belum juga merasakan rasa mulas. Sebelum tidur aku berkata pada suamiku,

"Yang, kayaknya aku sesar deh," . Suamiku menjawab, "Iya sepertinya, feelingku begitu,". 

Sejujurnya, 3 hari itu aku sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Selain karena perut yang sudah sangat besar, pikiran yang tidak tenang pun membuat aku kesulitan untuk tertidur. 

Rabu, tanggal 22 Juli 2020. Aku kembali ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan terhadap kandunganku, tentunya dengan kondisi yang belum mules juga. Tak lama kemudian, aku sudah berada di ruangan dokter dan pertanyaan pertama yang dokter tanyakan adalah, "Belum mules juga ya?", "Iya dok," jawabku. Lalu, dokter melakukan USG terhadap kandunganku. 

Hasilnya, kepala bayi belum masuk panggul juga, lalu air ketuban sudah semakin berkurang, kalau tidak salah indeks nya waktu 7,2 jika sudah ada diangka 6 mau tidak mau harus langsung tindakan. Perihal kondisi air ketuban yang keruh memang kondisinya tidak berubah dari terakhir kontrol. 

"Kalaupun diinduksi peluangnya hanya sekitar 30%,"

Jadi aku dan suami sempat bertanya bagaimana kalau mengusahakan untuk persalinan normal. Dokter mengatakan bahwa jika diinduksi pun peluangnya hanya 30% artinya ujung-ujungnya aku harus disesar juga dan itu istilahnya sakitnya akan dua kali. 

Sejujurnya saat itu aku ketakutan karena banyak cerita orang habis melahirkan malah komplikasi dan lain-lain, tapi ada yang lebih aku perhatikan yakni kondisi bayiku, bener ya naluri seorang Mama, Mama akan melakukan apapun untuk kebaikan anaknya. 

Setelah berdiskusi panjang lebar, akhirnya aku dan suami memutuskan bahwa persalinan kali ini akan dilakukan secara sesar. Tampaknya dokter pun melihat kepanikan yang terpancar dari wajahku, lalu beliau mengajak bercerita ngalor-ngidul agar aku tetap tenang. 

"Dok, sakit gak sih?" pertanyaan polos itu keluar dari mulutku. 

Dokter tersenyum dan berkata, "Aku udah baca kamu panik ya? Tenang aja, nanti diruang operasi banyak orang kok kamu engga sendirian, palingan yang sedikit tegang itu pas disuntiknya aja,". Ya gimanapun seumur hidup baru kali ini aku akan dioperasi jadi wajar kalau aku jiper. 

Aku singkat ya ceritanya hehe. 

Pas tanggal 24 Juli 2020. Malam harinya aku dan suami memastikan barang-barang yang akan dibawa ke rumah sakit (bahasan mengenai barang yang wajib dibawa ke rumah sakit akan aku bahas terpisah ya) agar tidak ketinggalan. 

Oya, ketika akan operasi sesar ada hal-hal yang harus diperhatikan ya, misalnya aku akan dioperasi jam 13.30, makan berat aku terakhir adalah jam 7 pagi dan minum terakhir aku jam 8 pagi. Honestly makin mendekati waktu tindakan aku makin deg-degan. 

Jam 8 pagi aku dan suami berangkat ke rumah sakit. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sampai di RS Mitra Kelapa Gading dari kediaman kami. Selanjutnya, kami menemui counter rawat inap untuk mengurus administrasi. Setelah selesai urusan administrasi, aku dan suami melakukan rapid test sebagai syarat utama untuk melahirkan di rumah sakit ini. 

Jadi, aku dan suami menunggu hasil rapid sekitar 2 jam sambil deg-degan engga karuan. Tadinya mau balik ke apartemen lagi, tapi dipikir-pikir sayang banget udah kesini, yaudah akhirnya kita nunggu di mobil ampir 2 jam. Karena merasa lama, akhirnya aku dan suami coba tanya ke bagian Lab dan ternyata hasil udah ada dari tadi dong :(. 

Abis dapat hasil rapid kita langsung ke lantai 2 ruang bersalin. Lalu, aku kembali di CTG dan mempersiapkan operasi seperti suntik ini itu, honestly udah engga fokus disuntik apa aja saat itu karena aku tegang beneran. Suami datang ke ruangan pas aku CTG, masa dia coba menenangkan aku tapi muka dia sendiri panik hhaha. Selesai di suntik, aku diarahkan ke ruang perawatan. Disana aku bener-bener makin tegang, engga bisa jauh dari suami, pokoknya pegangan terus. 

"Kok kayak lama banget ya yang?" kataku. 

Kata suami aku harus semangat karena sebentar lagi bakal ketemu anak kita. Disisi lain aku ketakutan karena akan dioperasi which is ini first time buat aku, tapi disisi lain bahagia karena bakal ketemu sama anakku. Tiba-tiba suster datang ke ruangan kami dan memberikan baju operasi. 

Setelah mengganti baju, aku tinggal menunggu suster datang saja untuk diantarkan ke ruangan operasi. Tak lama kemudian, sekitar jam 13.20 dua orang suster datang dan mengatakan waktunya aku dioperasi, aku lihat muka suamiku semakin tegang hahaha. Selama didorong ke ruang operasi aku beneran pegang tangan suami aku dan rasanya sedih pas mau masuk ruang operasi karena suami enggak boleh ikut ke dalam. 

Aku masuk ke ruang operasi, lalu dihampiri oleh seorang petugas laki-laki yang sangat ramah. Aku masih bisa tanya-tanya ke beliau dan yang membuat aku tenang salah satunya, "Ibu tenang ya, nanti kalau ada apa-apa ibu bilang sama saya,". 

Lalu, aku dibawa masuk ke ruang tindakan. Dingin euy! Sumpah aku panik banget dan saat itu udah beneran pasrah sama Tuhan apa yang akan terjadi. Beruntung sekali punya dokter yang tenang banget, beliau mencoba menenangkan aku saat kondisi seperti itu. Katanya, sesar itu engga sakit, paling sakitnya pas suntik anestesi dan pas pengaruh anestesinya abis haha. Tapi alhamdulillah banget loh, aku enggak merasakan sakit sama sekali ketika disuntik, padahal kata temanku itu bagian yang paling sakit. Oya, yang dokter anestesinya bapaknya Afgan Syahreza ternyata haha. 

Abis itu, aku merasakan kakiku kesemutan. Aku disuruh untuk angkat kaki, tapi ternyata udah enggak kerasa. Lalu, dokter mulai melakukan tindakan, aku merasakan kantuk yang luar biasa tapi aku tetap terjaga. Demi Tuhan aku enggak merasakan apa-apa ketika dokter menyayat kulit perutku. 

Lalu, seorang perawat bilang, "Bu nanti saya pegang perut ibu ya buat bantu dorong bayinya,". Aku mengangguk saja karena rasa kantuk yang luar biasa. Lalu, tiba-tiba sebuah suara tangis bayi yang melengking mengisi ruangan tersebut. 

Dokumentasi Pribadi


Bayiku lahir dengan selamat dan sempurna. Alhamdulillah! 

Beneran loh, aku engga bisa nangis karena aku takjub ada bayi di dada aku. Kebingungan sendiri sumpah, kayak mimpi ternyata aku udah jadi ibu sekarang. Engga sampai 30 menit ternyata, cuma 15 menit bayi udah lahir. 

Setelah operasi selesai, aku dibawa ke ruang pemulihan untuk melihat apakah ada efek dari biusnya atau tidak. Saat itu, yang aku rasakan dingin sekali sumpah, aku sampai menggigil, lalu si perawat tadi mencoba membantu aku dengan memberikan mesin penghangat. 

Setelah dipastikan aku tidak ada efek apa-apa aku dibawa ke ruang perawatan kembali sementara bayiku masih dalam tahap observasi. Pas keluar ruangan operasi aku melihat suamiku berlari menghampiriku, katanya dia was-was istrinya kok belum keluar hehe. 

Nah, begitulah cerita persalinanku anak pertama. Its amazing guys, aku bersyukur sama Tuhan atas kesempatan ini. 











Yang Perlu Kamu Ketahui Ketika Melahirkan di Tengah Kondisi Pandemi

Halo calon Mama yang sedang menunggu datangnya si buah hati? Gimana perasaannya? Aku berdoa semoga Mama semua sehat selalu dan diberikan kelancaran dalam persalinannya nanti. 

Kali ini, aku pengen sharing tentang bagaimana sih rasanya melahirkan disituasi pandemi seperti sekarang ini. 

Tentunya kondisi seperti ini bukanlah kondisi yang biasa, kita harus menyesuaikan dengan kondisi normal baru atau new normal, mulai dari wajib menggunakan masker ketika keluar rumah, membiasakan diri mencuci tangan, membawa handsanitizer kemanapun ketika pergi, dan hal-hal baru lainnya.

Lalu, apakah ada perubahan persiapan bagi Mama yang akan melahirkan di tengah kondisi pandemi seperti sekarang? Check it out ya!

Aku melahirkan diusia kehamilan 39 weeks, cerita tentang kehamilanku akan aku share ditulisan terpisah. Kali ini aku akan fokus sharing tentang persiapan persalinan di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini. 

Wajib untuk ikuti protokol kesehatan

Kewajiban untuk taat pada protokol kesehatan kayaknya harus dilakukan oleh semua orang, tidak hanya bagi Mama yang akan melahirkan. Nah, kondisi rumah sakit pun tentu berbeda dengan biasanya. Ketika kita akan masuk kawasan rumah sakit kita harus dicek suhu & diwawancara singkat terlebih dahulu mengenai history perjalanan kita. Jangan lupa pakai masker dan juga handsanitizer ya. Aku memang prefer membawa handsanitizer sendiri alasannya ya lebih higienis karena cuma kita doang yang pegang. Tapi rumah sakit juga menyediakan ya guys, jangan khawatir. 

Wajib melakukan rapid test

Nah ini hal yang baru ya guys, aku engga tahu sih apakah ini berlaku disemua rumah sakit atau enggak, tapi kayaknya sih iya. Kalau di RS Mitra Kelapa Gading baik Mama yang mau melahirkan dan pendamping wajib melakukan rapid test.

Pernah waktu itu ngobrol sama dokternya, jadi kalau ternyata hasil rapid & swab positif maka pasien akan dirujuk ke RS khusus covid. Hal ini dilakukan agar ruangan ibu & anak tetap steril ya guys bukan karena apa-apa. Dan hal ini juga yang menjadi pertimbangan aku untuk melahirkan disini. 

Hanya boleh ditemani 1 orang 

Kalau biasanya yang mau lahiran boleh ditemani oleh suami dan orangtua, disituasi pandemi seperti sekarang ini Mama yang mau lahiran hanya boleh ditemani oleh 1 orang saja. Kemarin aku ditemani oleh suamiku dan kita struggle berdua loh. 

Tips!

Jadi buat kalian yang lagi menunggu gelombang cinta dari calon si buah hati aku mau ngasih tips ya, semoga bermanfaat. 

  • Pastikan semua checklist barang-barang. Jadi enggak ada istilah bolak-balik dari RS ke rumah ya guys. Karena kita hanya berdua, kalau ada yang kurang dan suami harus balik ke RS rasanya sendirian diruangan itu gimana gitu. Aku bukan negative vibes ya guys, cuma alangkah lebih baiknya well prepare dari awal.
  • Cari rumah sakit yang concern dengan protokol kesehatan. Nah, ini menurutku wajib ya tidak hanya concerna terhadap protokol kesehatan tapi kalau bisa yang tidak menangani pasien covid. Honestly sih aku merasa tenang loh dan less stress juga karena tahu ini. 
  • Mesti kompak sama suami karena kalian akan melakukan apapun berdua di rumah sakit. 
  • Berdoa kepada Tuhan dan meminta agar semuanya berjalan dengan lancar. 

Nah itu ya guys hal yang harus dipersiapkan buat Mama yang akan melahirkan disituasi pandemi seperti sekarang ini. 




4 Pertanyaan yang Wajib Kamu Jawab Agar Tidak Salah Ketika Berjuang

https://mix.com/
Kerja keras selagi masih muda memang dianjurkan. Tak jarang, beberapa orang bahkan sudah sukses diusia muda dengan banyak bisnis. Sayangnya, terkadang dari kita ada yang bekerja dengan sangat keras sampai lupa waktu. Tiap hari pulang dari kantor pukul 11 malam, tidak ada waktu untuk bercengkerama dengan keluarga, esok harinya bangun dalam keadaan lelah dan sakit karena tidak makan seharian.
Jika kamu sedang merasa lelah mengenai rutinitas yang saat ini sedang dilakukan, maka kamu wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini ya guys!

Apakah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang kamu cari?

http://staceyalickman.com/

Guys, pernah mengalami kerja sampai pulang larut malam? Ketika rekan kerjamu sudah pulang ke rumahnya masing-masing, kamu masih harus kerja di kantor sendirian. Melototin laptop sampai engga kerasa matamu mengeluarkan air tanda kelelahan.
Untuk menyemangati diri mungkin kamu akan berkata bahwa ini adalah bagian dari perjuangan. Tapi, guys haruskah kamu mengorbankan waktu istirahat semalaman? Lantas, apakah semua kelelahan ini yang sebenarnya kamu cari? Coba tanyakan pada hatimu sekarang. Karena jika ternyata hal itu bukanlah apa yang kamu cari berarti kamu salah dalam berjuang.

Apakah pekerjaanmu saat ini hanya menjadi beban?

https://www.cantika.com
Guys, tanyakan pada diri kamu apakah pekerjaan saat ini adalah beban? Jika kamu menjawab hal tersebut adalah beban maka sampai kapanpun hal itu akan menjadi beban. Yang namanya beban pasti akan memberatkan. Kamu yakin akan hidup penuh beban?
Guys di luar sana banyak orang-orang sedang tertawa lepas menikmati hidup. Berlarian di padang rumput, memberi makan sapi-sapi peliharaannya yang tumbuh besar, menjaga bunga-bunga di kebunnya, ataupun travelling ke seluruh dunia. Yakin masih mau menerima beban sepanjang kehidupan?

Apakah pekerjaanmu saat ini menjadikanmu lebih baik?

https://www.investorsgroup.com
Guys, ketika kamu memperjuangkan sesuatu maka wajar kamu berekspektasi menjadi lebih baik. Seperti ketika kamu berjuang belajar sepeda maka kamu berekspektasi bisa mengendarai sepeda pada akhirnya. Hal ini pun berlaku dalam pekerjaan. Apakah pekerjaanmu saat ini membuatmu lebih baik? Jika iya maka kamu patut bersyukur. Tapi jika tidak maka kamu harus waspada. Pekerjaan yang tidak membuatmu menjadi lebih baik setiap harinya bukanlah pekerjaan yang tepat bagi kamu. Jika pekerjaanmu saat ini membuat hidup kamu tidak karuan, jadwal tidur acak-acakan, atau ritme kehidupan kamu jadi makan buruk sepertinya kamu harus berpikir ulang.

Apakah pekerjaanmu saat ini membuatmu jauh dari orang-orang tersayang?

https://www.cbhs.com.au

Guys, pertanyaan terakhir apakah pekerjaanmu saat ini menjauhkan kamu dari orang-orang tersayang? Begini, jauh bukan arti jarak yang sebenarnya yah. Karena bisa saja pekerjaanmu keluar kota sekali dalam seminggu namun setelah itu kamu selalu meluangkan waktu untuk keluarga di rumah. Tentunya hal tersebut tidak masalah. Beda halnya ketika pekerjaanmu yang tidak harus keluar kota, tapi kamu pergi kerja pukul 7 pagi pulang pukul 10 malam.
Jangankan untuk menemani anak mengerjakan pekerjaan rumah, kamu sampai ke rumah pun anakmu sudah tertidur lelap. Jangankan memperhatika pasangan, memperhatikan diri kamu sendiri aja bahkan kamu tidak bisa. Miris bukan?
Gimana? Udah punya jawabannya? Guys, kerja keras memang harus tapi kita tidak bisa mengorbankan diri kita seutuhnya. Bekerja dengan cerdas jauh lebih baik daripada kamu harus mengorbankan apa yang kamu miliki hari ini termasuk keluargamu. Hidup hanya satu kali, kamu berhak untuk bahagia loh!

#RefleksiVia : Masalah Selesai Ketika Dihadapi, Bukan Ketika Dihindari

https://nexusbusiness.com
Namanya manusia pasti engga luput dari masalah. Baik masalah yang datang dari dalam diri mereka maupun masalah yang datang akibat hubungannya dengan manusia lainnya. Namun, hidup tanpa masalah juga pasti akan hambar. Masalah datang untuk menjadikan manusia belajar dan lebih baik dari sebelumnya. 

Ada orang yang ketika mendapatkan masalah memilih untuk menghindari. Artinya, dia melakukan cara agar tidak bertemu dengan masalah tersebut yang sebenarnya secara logika masalah tersebut pasti akan datang kepadanya meski dia menghindari dengan berbagai cara. 

Ada orang yang ketika mendapatkan masalah memilih untuk menghadapinya. Suka tidak suka, kuat tidak kuat, dengan percaya diri dia menghadapi masalah tersebut. Meski sebenarnya dia belum tahu cara penyelesaiannya, tapi dia menerima masalah tersebut dan segera mencari jalan keluarnya. 

Respon manusia ketika menerima masalah pun berbeda-beda. Ada yang masih tenang dan bisa berpikir jernih, ada juga yang langsung berubah 180 derajat menjadi emosian. Orang-orang yang tidak bersalah disekelilingnya pun kena imbasnya. Hubungannya dengan orang lain menjadi tidak baik karena dia sendiri yang emosian. 

Guys! Engga ada masalah yang engga ada solusinya, tapi hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menghadapinya bukan menghindarinya. Bagaimana pun juga, mungkin ini sudah jalan Tuhan memberikan masalah tersebut kepada kita. Lalu, mengapa khawatir tidak kuat menerima masalah tersebut? Jelas-jelas Tuhan memberikan informasi awal bahwa tidak akan memberikan masalah diluar batas kemampuan manusia. Artinya, Tuhan juga sudah percaya dengan kita. 

Bagi kalian yang berubah menjadi emosi ketika mendapatkan masalah lebih  baik cepat bertaubat, sebab kalian bisa menyesal kemudian. Emosi sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Emosi hanya akan membuat masalah baru yang akan membuatmu semakin pusing tidak karuan.

Jadi, hadapilah masalah yang ada saat ini dengan lapang dada. Percaya bahwa masalah sebesar apapun pasti ada jalan keluarnya. Tidak perlu takut tidak ada jalan keluar. Tetaplah berpikiran jernih agar dihasilkan solusi bukan malah emosi dan menghasilkan masalah baru. 

Jakarta, 7 Maret 2019


Jenuh itu Biasa, Terima Aja Dulu

Sumber : google.com

Tulisan ini aku tulis pas udah lagi bener, semoga aja emang terus bener engga konslet-konslet lagi. Kali ini aku pengen bahas tentang satu kata, 'JENUH' cuman aku garis bawahi dulu yah, ini jenuh dalam konteks kerjaan, mungkin akan berbeda pembahasannya jika bicara soal jenuh yang lain.

Here the story, guys :)

Beberapa temanku selalu cerita tentang kenejuhan mereka ketika bekerja, kerjaan yang numpuk engga berhenti-berhenti, tekanan dari bos yang kadang engga mau terima kesulitannya pokoknya tahu beresnya aja, rutinitas tiap pagi pergi harus balik jam 10 malam karena lembur, dan kejenuhan-kejenuhan lainnya.

Aku pun sama mengalami kejenuhan secara periodik, ini sangat parah sih kalau menurutku karena dalam sebulan aku pasti mengalami kejenuhan ini.

Aku suka sama pekerjaan saat ini?
Jawabanku : suka banget.

Apakah ada pressure yang tinggi dalam kerjaanku saat ini?
Jawabanku : biasa aja. semuanya bisa ku handle dengan baik.

Ini bukan sombong yah, tapi memang begitulah keadaannya.

Aku butuh tantangan lagi?
Jawabanku : boleh dan emang mau banget sih.

Kenapa sih?
Jawabannya : biar aku terus belajar, engga stagnan di zona nyaman. karena bagi orang sepertiku kelamaan ada di zona nyaman bener-bener nguras tenaga yang engga jelas, aku pengen hal yang lebih 'asyik'.

Sekali lagi Tuhan, ini sama sekali bukan menantang. Tapi aku ingin belajar hal baru, belajar banyak hal, dan benar-benar bergerak dari zona nyaman yang selama ini memberi benteng terhadapku.

Sayangnya, saat ini aku tidak bisa melakukan apa-apa. Maksudku, ya kerjaannya memang seperti ini. Jadi apa yang aku lakukan?

Setelah berpikir berhari-hari, akhirnya aku memutuskan untuk terima aja dulu. Jalani aja dulu, sambil beberapa kali mengisi kejenuhanku dengan menulis diblog atau menyelesaikan novel.

Jadi kalau jenuh apa yang aku lakukan?
Jawabanku : terima aja dulu, terus minum kopi dan mulai buat nulis.

Kalau jenuh melanda, kamu cukup terima aja dulu keadaannya. Serius ini, kecuali kamu memiliki power untuk merubah itu semua.

Jenuh wajar gak sih?
Wajar banget, kita kan manusia. Kalau lama-lama melakukan hal yang sama pasti datang tuh si jenuh, cuma kan kadang kalau dipikir-pikir tugas kita itu menjalani. Iya engga?

Aku nulis ini juga karena beberapa hari ini benar-benar jenuh dan nothing to do. Ya wajarlah karena memang aku ingin sekali sesuatu yang menantang dalam kerjaan.

Gitu aja sih.

Hayam Wuruk, Jakarta Pusat
24 September 2017

Salam,

Via

Jika Membenci Sapi, Jangan Turut Membenci Kera

Sumber : google.com

Suatu hari ada seorang karyawan yang dimarahi bos-nya, lalu setelah dimarahi diruangan sang bos si karyawan masuk ke ruangan kerjanya dan ketika ada orang lain yang bertanya kepada dia, dia malah marah-marah tidak jelas.

Suatu hari ada pengendara motor yang ditabrak tidak sengaja oleh sebuah mobil dari belakang, si pengendara motor marah, sayangnya si pengendara motor harus ikhlas karena mobil yang tadi menabrakanya melarikan diri, alhasil si pengendara motor malah marah-marah ke pengendara motor lainnya.

Suatu hari, seorang perempuan bertengkar dengan kekasihnya, lalu dia tidak bisa marah kepada kekasihnya karena sang kekasih harus segera pergi bekerja, alhasil si perempuan malah marah-marah ke security di depan kantornya dan juga tukang sayur yang biasa lewat depan kosanya.

'Jika membenci sapi, jangan turut membenci kera'

Kenapa?

Secara sederhana, aku akan mengatakan, 'Jika gentle marah pada sapi, marahlah pada sapi'. Simpel kan? Sayangnya kebanyak dari kita tidak melakukan itu dan malah memarahi siapa saja yang waktu itu lewat dan menjadi bulan-bulanan kekesalan kita yang notabene kita bukan marah pada mereka.

Hal ini memang lucu sekaligus buat geli. Kasian sekali si kera jadi bulan-bulanan kelakuan si sapi.

Jadi harus kayak gimana?
Secara gentle ya kalau marah sama sapi, marahlah pada sapi. Jika tidak berani memarahi sapi, jangan marah kepada yang selain sapi. Karena mereka tidak tahu menahu urusanmu pada si sapi.

Tapi kalau bisa, sudahlah jangan membenci si sapi.

Jakarta, 24 September 2017
Hayam Wuruk, Jakarta Pusat

Jangan Mau Dibungkam, Bicaralah Demi Indonesia



Sumber  : https://bisamandiri.com/blog/2014/09/3-metode-membantu-anak-cerebral-palsy-belajar-bicara/

“Wah, baru tiga bulan jadi kepala desa sudah punya dua mobil baru, rumahnya direnovasi habis-habisan, kebunnya dibenteng tinggi. “

“Wah, baru saja 6 bulan jadi Bupati sudah punya peternakan sapi dikampung .”

“Wah baru saja satu tahun jadi Gubernur, sudah punya kolam renang dipusat kota.”

            Tidak akan maju sebuah negara jika banyak para pejabat negara yang korupsi di dalamnya. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan nyatanya masih saja masuk ke kantong pribadi. Jangankan bicara skala global, mungkin masih banyak dari kita yang mengurusi kepindahan rumah dan pembuatan KTP yang dimintai uang tambahan. Jika tidak memberikan uang tambahan maka proses akan lama, hal ini menjadi celah bagi orang-orang zaman sekarang yang tidak mau ribet dengan urusan seperti itu. 

            Hasil survey Global Corruption Barometer (GCB) yang dilakukan di Indonesia selama kurun waktu 26 April sampai 27 Juni 2016 terhadap 1000 responden yang tersebar di 31 provinsi menyatakan bahwa korupsi masih terjadi disektor layanan publik yang diselenggarakan negara ( http://www.ti.or.id/index.php/press-release/2017/03/07/global-corruption-barometer-2017-indonesia.) Tingkat korupsi dilembaga legislatif kembali menjadi sorotan publik setelah konsisten selama tiga tahun berturut-turut menjadi lembaga dengan tingkat korupsi yang masih tinggi. 
            Transparency Internasional membuat sebuah indicator yang digunakan dalam menilai suatu negara dan kasus korupsi yang ada didalamnya. Skala yang digunakan adalah dengan skor 1-100, dimana semakin besar skor yang didapat, semakin besar pula kemungkinan negara tersebut bersih dari kasus korupsi (http://bisnis.liputan6.com/read/2836949/daftar-negara-paling-korup-se-asia-pasifik-ri-nomor-berapa). Indonesia sendiri berada diposisi 90 dari 176 negara yang disurvey dengan skor 37.

Sumber : https://luarotak.wordpress.com/2017/01/30/peringkat-korupsi-indonesia-di-dunia-2017/

            Jika negara kita masih menjadi lahan empuk bagi para pelaku korupsi, kapan kita akan maju sebagai sebuah negara yang besar? Jangan berharap menjadi macan asia sedangkan dari Gubernur sampai Kepala Desa masih leluasa melakukan korupsi. Akibat korupsi, jutaan masyarakat Indonesia masih hidup dibawah garis kemiskinan. Banyak orang mengatakan bahwa ‘korupsi sudah mendarah daging di negeri ini’. Sebuah kalimat yang secara tidak sadar membuat citra Indonesia buruk dimata Internasional. 
            Kita tidak asing dengan kasus kematian Johanes Marliem. Beliau adalah saksi kunci dari kasus korupsi E-KTP, sayangnya sebelum membeberkan kesaksiannya kepada Pengadilan, publik Indonesia dibuat gempar dengan ditemukannya Johanes Marliem dalam keadaan tewas bunuh diri. Berbagai spekulasi datang termasuk kabar bahwa Johanes Marliem merasa khawatir dengan statusnya sebagai saksi kasus mega korupsi tersebar dimana-mana. Selain kasus Johanes Marliem, kasus yang menimpa whistle blower di Indonesia dialami oleh aktivis anti korupsi di Palembang. Beliau terkena lemparan aair keras setelah menggelar aksi dugaan korupsi Dana Bansos di depan gedung KPK (http://kabar24.bisnis.com/read/20170302/16/633439/javascript).

Sumber gambar : http://www.portal-islam.id/2017/08/jurnalisme-kpk-kematian-saksi-kunci.html
            Melihat banyaknya ancaman yang diterima oleh para whistleblower menyebabkan banyak masyarakat yang sebenarnya tahu mengenai sebuah kasus korupsi memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Masalahnya, jika dia berani menyuarakan suaranya mengenai kasus korupsi tidak hanya nyawanya saja yang terancam tetapi juga nyawa keluarganya. Hal ini menjadi salah satu penghambat lambatnya penanganan kasus korupsi. 
            Sebenarnya di Indonesia ada sebuah lembaga yang melindungi para whistleblower. Lembaga tersebut adalah Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). LPSK merupakan lembaga mandiri yang bertanggung jawab memberikan bantuan perlindungan terhadap saksi atau korban sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, LPSK juga berkewajiban menyiapkan, menentukan dan memberikan informasi yang bersangkutan kepada publik. (https://www.lpsk.go.id/statis/info_publik/tentang).
            Jadi sebenarnya, masyarakat Indonesia tidak perlu takut jika akan melaporkan sebuah tindakan korupsi yang dilakukan  para pejabat karena LPSK akan melindungi kita sebagai saksi. Jadi, marilah bicara. Jika tidak ada yang berani bersuara, bagaimana negeri ini akan terbebas dari kasus korupsi? Mulailah untuk berani bicara. Ini bukan untuk Indonesia hari ini tetapi untuk kelangsungan kehidupan anak cucu kita kelak. Jika menemukan keganjalan, baik kasus korupsi atau pun kejahatan lainnya, segeralah bicara. Jangan mau dibungkam oleh ancaman yang datang. Segeralah bicara, demi Indonesia.