Tentang Memahami Perkara Sederhana dari Mulut Istri, Simak Baik-Baik yang Pak Suami!


Katanya, menikah tidak hanya menyatukan dua orang, tapi juga dua keluarga. Ya, menyatukan sesuatu yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya, entah sifat, sikap, pedoman hidup, cara hidup, dan nilai-nilai tak kasat mata lainnya. Perbedaan yang sederhana, jika tidak dikelola dengan baik maka akan jadi permasalahan besar. 

Setiap perbedaan ingin diakui kebenarannya, lalu ego berbicara dan mulailah rasa kecewa bermunculan, bahkan tak jarang diikuti rasa penyesalan. Perbedaan menjadi celah untuk saling jumawa bahwa nilai yang dipegang lebih baik dari nilai yang dipegang oleh orang lain. 

Jelas, ini tidak mudah. Perlu banyak tenaga bahkan untuk sekadar menahan untuk tidak bicara soal kecewa. Perlu banyak ikhlas, untuk tidak memilih berdebat daripada dikatai "Sok tahu". Sakit memang, tapi mau tidak mau harus dilakukan, dengan imbalan agar tidak ada gonjang-ganjing. 

Pernikahan bukanlah sarana bagi manusia untuk setiap hari menarik nafas dalam-dalam menahan kekesalan. Pernikahan juga bukanlah sarana bagi manusia untuk mengeluarkan air mata karena rasa kecewa. Pernikahan harusnya menjadi sarana bagi dua manusia untuk tumbuh dan berkembang bersama. 

Pernikahan adalah tempat untuk saling menguatkan, ketika salah satu sedang lemah karena banyak urusan, bukan tempat meluapkan emosi karena kesal dengan urusan di luar. Pernikahan adalah tempat untuk saling mengingatkan, bukan tempat untuk mencaci maki atas diri yang sedang kesal dengan urusan di luar rumah. 

Pernikahan adalah sarana belajar bagaimana mengakomodasi keinginan dengan mempertimbangkan banyak hal, bukan membela 1 pihak dan memojokkan pihak lainnya. Seharusnya, pernikahan membuat seseorang menjadi berkembang. 

Jika tidak diperbaiki, kesalahpahaman adalah ancaman. Jika masing-masing tidak introspeksi maka akan muncul spekulasi-spekulasi yang mengancam sebuah keharmonisan. Rasa kecewa yang dipendam akan jadi bom yang bisa meledak kapan saja. 

Lalu, bagaimana seharusnya? Mari kita mulai dengan hal sederhana, yakni "Jangan meremehkan sakit hati". Kenapa? Simak kasus di bawah ini : 

Seorang istri berkata pada suaminya, "Aku tidak menyukai perlakuan kakakmu, bahkan dia mengatakan hal yang tidak-tidak pada ibumu, dan puncaknya ibumu terlihat tidak menyukaiku," 

Lalu, si suami menjawab, "Tenang saja, "

Berulang kali si istri bicara akan hal ini, berulang kali juga sang suami menjawab dengan hal yang sama. Hingga, pada suatu hari, puncaknya Ibu mertua dia berkata dengan sadar, seperti ini, "Kakak kamu sakit tengok kek, orang lain aja nengok, masa kamu enggak,".  

Mendengar perkataan itu, si istri kembali bicara pada suaminya, namun suaminya hanya berkata, "Pikirkan saja ibu nya, bukan kakakku," 

Lalu, si istri kembali menelan ludah dan kecewa karena sikap suaminya. Dia tidak tahu apakah suaminya mencoba untuk bicara pada ibunya agar memahami juga sikap istrinya. Tapi satu hal yang pasti, sang istri mereka kecewa ternyata suami yang ia pikir akan menjaganya (termasuk menjaga perasaan) nyatanya belum mampu untuk melakukan hal itu. 

Dalam otak si istri dia pikir, dia harus mandiri, toh jika ada yang menyakiti suaminya tidak bisa membela dia, dan dia harus berdiri tegak sendirian melawan kesakitan itu. Semua kesakitan itu menggunung dan merubah sang istri menjadi orang lain. Menjadi perempuan yang emosian, kasar, dan sudah tidak percaya lagi akan suaminya. 

See? Hal sederhana yang membuat seorang istri berubah dari yang awalnya kelinci menjadi seekor macan? Mungkin, kita akan berpikir, ah gak mungkin. Seorang istri kan harus nurut sama suaminya, gak mungkin istri aku jadi kayak gitu. Jangan jumawa pak, segala sesuatu bisa saja terjadi. Jika kamu tidak bisa treat istri kamu dengan baik, dia bisa saja pergi kok. 

Itu hanya contoh, hal sederhana lainnya bahkan yang awalnya kita bilang, "tidak masuk akal" membuat istri kecewa/marah nyatanya ada juga. Jadi, tugas suami bukan hanya mencari uang, tapi juga menentramkan hati dan juga membuat istri merasa aman dan nyaman. 

Barangkali, jika istrimu marah-marah jangan langsung menjudge bahwa dia itu tidak nurut, tapi tanyakan apa yang membelenggu hatinya, apa yang membuatnya terluka, lalu segera obati lukanya agar tidak menyebar kemana-mana. Jangan remehkan sakit hati, sebab sakit itu bisa membuat seluruh tubuhnya sakit dan kamu akan kehilangan istrimu. Tidak, dia tidak meninggal, tapi bisa saja kamu akan kehilangan keanggunan istrimu, kehalusan istrimu, lemah lembutnya istrimu, dan sebagainya. 

Habis baca ini, minta maaf sama istri ya kalau sering meremehkan keresahannya. Janji sama istri kalau kamu bakal jagain dan bikin dia aman nikah sama kamu. 



WORK-LIFE BALANCE, Agar Hidup Tetap "Hidup"



Work-life Balance adalah suatu keadaan di mana seseorang dapat mengatur dan membagi antara tanggung jawab pekerjaan, kehidupan keluarga dan tanggung jawab lainnya (Sumber : https://glints.com/). 

Istilah Work-life Balance semakin disuarakan saat ini, pasalnya menurut penelitian, sekitar 94% profesional di seluruh dunia menghabiskan 50 jam untuk bekerja setiap minggunya. Hal ini tentu sangat berbahaya, pasalnya as a human tentu kita juga butuh kegiatan lain selain bekerja. 

Istilah, "Hidup tak hanya berjarak antara gerbang rumah dan gerbang kantor" memang benar adanya. Lebih jauh, istilah tersebut menyatakan bahwa ada hal lain yang bisa kita lakukan selain bekerja untuk mencari uang. 

Disini, aku tidak mengajarkan untuk tidak serius dalam bekerja, tapi ingin menekankan bahwa hidup kita tidak hanya untuk bekerja. Jangan terlalu memforsir tubuh kita untuk terus bekerja setiap harinya tanpa batas. Hasilnya apa? Saking terlalu keras bekerja tak jarang beberapa dari kita tidak menghiraukan kondisi tubuh yang mengakibatkan jatuh sakit. Yang repot siapa? Tentu keluarga kita. 

Bekerjalah dengan cerdas, manage waktu dengan baik dan efektif, buat to do list akan kita tetep on track ketika jam kerja. Jika waktunya pulang, maka segeralah pulang dan berkumpulah dengan keluarga tercinta. Setelah sampai rumah, berjanjilah untuk menjadi Istri/Suami atau Ibu/Ayah seutuhnya untuk anak kita, jangan sampai waktu main bersamanya malah kita gunakan untuk mengerjakan pekerjaan kantor yang tiada habisnya. 

Menurutku, tidak ada salahnya ketika atasan meminta kita mengerjakan sesuatu di hari sabtu/minggu dan kita menolaknya, tapi sampaikan penolakan dengan cara yang baik. Pastikan setelahnya tidak menjadi masalah ya. 

Mengutip halaman hellosehat.com, dipaparkan 5 tanda peringatan kalau terlalu banyak bekerja menurut Malissa Clark, sebagai berikut : 
  • Tidak bisa menikmati waktu senggang atau hari libur, malah ada perasaan cemas dan merasa bersalah. 
  • Pekerjaan yang dikerjakan tidak selesai. 
  • Mata dan penglihatan terganggu. 
  • Keluhan dari keluarga terkait jadwal bekerja kamu. 
  • Menjadi orang paling terakhir yang berada di kantor. 


Guys, sudah saatnya mulai belajar untuk membagi waktu yang baik antara kehidupan di kantor dan kehidupan di luar kantor. Jangan merasa bersalah ketika tidak bisa 24 jam support pekerjaan di kantor, itu adalah sebuah kesalahan dan tidak wajar. Kita punya keluarga yang juga membutuhkan keberadaan kita di dekat mereka secara utuh. Hadirlah bersama mereka dan ciptakan momen-momen indah ya. 

Jangan sampai terlalu sibuk bekerja, lupa cara bernafas. Bisa mati! Hehe.